Soekarno Minta “Terang Bulan” Diserahkan ke Malaysia
September 3, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Ahli waris pencipta lagu “Terang Bulan”, Aden Bahri, mengungkapkan, Presiden Soekarno meminta ayahnya, Saiful Bahri, untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” kepada Malaysia.

“Mantan Presiden Soekarno meminta penyerahan lagu itu pada awal 1960-an,” kata Aden Bahri di Solo, Jateng, Rabu.
Hal tersebut, lanjutnya, dikuatkan berdasarkan keterangan salah seorang saksi kejadian tersebut yang juga merupakan teman satu grup ayahnya di Orkes Studio Djakarta, Soebroto.
“Pak Broto yang berada di lokasi kejadian saat itu mengakui hal yang sama,” katanya.
Mengenai tuntutan pihak keluarga Saiful Bahri, dia mengatakan, pihak keluarga meminta Pemerintah Indonesia untuk membantu keluarga dalam melindungi lagu “Terang Bulan”, yang juga menjadi salah satu aset budaya Indonesia.
“Pemerintah harus lebih tegas dan bersikap lebih keras dalam melindungi seluruh aset budaya Indonesia, termasuk lagu yang diciptakan ayah saya,” kata Aden Bahri yang sekarang tinggal di Jakarta.
Sementara itu, mantan anggota Orkes Studio Djakarta, Soebroto mengatakan, mantan Presiden Soekarno meminta Saiful Bahri untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” antara 1961 hingga 1962, “Seingat saya saat itu adalah perayaan HUT Republik Indonesia,”.
Dia mengatakan, kalimat yang diucapkan Soekarno ketika itu, “Ful, kasih saja lagu itu ke Malaysia. Mereka belum punya lagu kebangsaan,”.
“Saat itu yang menjadi saksi tidak hanya saya, tetapi banyak. Dr. Johannes Leimena menjadi saksi yang masih saya ingat,” katanya.
Akan tetapi, lanjutnya, dia sudah tidak ingat siapa lagi yang menjadi saksi kejadian tersebut.
“Yang jelas, pesan Soekarno sangat jelas terdengar karena saya hanya berjarak sepuluh meter dari pembicaraan antara Soekarno dan Saiful Bahri,” kata Soebroto.
Pernyataan yang disampaikan Soebroto tersebut saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya dan dihadapkan dengan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa kemerdekaan Malaysia terjadi pada 31 Agustus 1957.
Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Lokananta, Ruktiningsih mengatakan, perusahaan rekaman Lokananta menyerahkan rekaman lagu “Terang Bulan” yang sudah digandakan.
“Kami berharap rekaman lagu tersebut dapat dipergunakan oleh Aden untuk mengurus hak-haknya sesuai dengan pengakuannya sebagai ahli waris pencipta lagu tersebut,” katanya.
Dia mengatakan, hingga saat ini Lokananta yang menjadi perusahaan yang merekam dan menggandakan lagu “Terang Bulan” tidak memiliki catatan mengenai pencipta lagu tersebut.
“Jika pengakuan pihak ahli waris terbukti, kami akan mencatat nama Saiful Bahri ke dalam data pencipta lagu yang ada di perusahaan ini,” kata Ruktiningsih.
Related posts
Soal Terang Bulan Kris Biantoro Punya Bukti Hitam di Atas Putih
September 2, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Ribut-ribut soal lagu Terang Bulan yang sudah menjadi lagu kebangsaan Malaysia membuat pemain film, penyanyi, bintang ikan, dan pembawa acara terkemuka di tahun 1970-19880-an, Kris Biantoro (71), agak gelisah.
Bukan soal “klaim” Malaysia yang dia prihatinkan, tetapi justru adanya pihak yang mengklaim sebagai keluarga dari pencipta lagu itu dan akan menggugat pihak Malaysia.
“Jangan buru-buru mau bikin somasi. Malu nanti,” ujarnya, mengingatkan, ketika dihubungi, Selasa (1/9) di Jakarta. Kris mempertanyakan, apa keluarga punya bukti yang sah dan meyakinkan? Kalau tidak, bisa malu Indonesia nantinya.
Kris, yang masih tampak segar dan bersemangat, dengan salam khas merdeka ini, menunjukkan kepada Kompas bahwa ia memiliki bukti hitam di atas putih. Menyimpan piringan hitam yang lengkap dengan syair dan partiturnya.
Judul asli lagu itu adalah Malayan Moon (Terang Boelan) karya Paul Lombard. “Tidak jelas, apa Paul Lombard orang Amerika atau Inggris,” ungkapnya.
Di zaman penjajahan, ketika Malaysia masih terjajah, pengaruh-mempengaruhi sudah ada. Termasuk Indonesia, lagu Terang Boelan baru dikenal di Indonesia ketika tahun 1936 ada film Indonesia berjudul Terang Boelan. Artinya, lagu Terang Boelan sudah ada sejak 1936.
Soal piringan hitam/plat Paul Lombard itu, Kris mendapatkannya di Australia, tahun 1964.
Terkait masalah budaya, Kris menyarankan agar ditanya dulu orang yang lebih tahu. “Kita punya Remy Silado, misalnya,” pungkasnya.



