Nenek 98 Tahun Bunuh Teman Sekamarnya

December 13, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita


Seorang nenek berusia 98 tahun dituntut atas pembunuhan tingkat kedua, yaitu bahwa ia telah mencekik teman sekamarnya yang berusia 100 tahun di panti jompo setelah menyengsarakan hidup sang korban karena sang pelaku itu menuduh korbannya mengambil alih kamar mereka.

Laura Lundquist telah dipindahkan ke RSJ untuk pemeriksaan menyeluruh sebelum nantinya menghadapi dakwaannya.

Pengacara pembelanya, Carl Levin, menyatakan, Jumat (11/12/2009) bahwa kliennya telah lama didiagnosis menderita demensia dan isu-isu cacat kognitif lainnya.

Wanita ini bisa jadi merupakan tersangka pembunuhan tertua dalam sejarah negara bagian ini. Namun, kemungkinan ia tak akan diadili atas alasan kesehatan mentalnya.

Teman sekamarnya di Panti Jompo Brandon Woods, Darthmouth, yaitu Elizabeth Barrow, ditemukan meninggal di tempat tidurnya pada 24 September dengan kantong plastik terikat pada kepalanya. Tadinya polisi menduga ini merupakan kasus bunuh diri. Namun, ahli forensik menyatakannya sebagai pembunuhan setelah hasil otopsi menunjukkan tanda-tanda pencekikan.

Putra Barrow, Scott Barrow, mengaku bahwa Lundquist telah mengeluh pada petugas panti jompo karena banyaknya pengunjung yang diterima ibunya. Ia juga mengaku bahwa Lundquist telah melontarkan pernyataan yang mengancam dan melecehkan ibunya. Ia menolak untuk berkomentar tentang tuntutan itu, yang telah diserahkan pada hari Jumat oleh seorang dewan juri dari Bristol.

Sam Sutter, jaksa asal Bristol, mengatakan bahwa Lundquist menderita paranoia dan menyimpan kebencian terhadap korbannya dan berpikiran bahwa Barrow, si korban, tengah mengambil alih kamar yang mereka tempati bersama-sama itu.

Sutter menyatakan bahwa Barrow mengeluh seminggu sebelum kematiannya bahwa Lundquist membuat hidupnya seperti dalam neraka. Malam sebelum Barrow dibunuh ia juga mengeluh bahwa Lundquist telah menaruh meja di dekat tempat tidurnya sehingga jalannya ke kamar mandi terhalang.

Sutter mengatakan bahwa Lundquist kemudian menonjok perawat pembantu yang memindahkan meja itu, dan meja itu juga ditemukan lagi di samping tempat tidur Barrow ketika mayat Barrow ditemukan.

Lundquist juga telah mengatakan kepada Barrow bahwa ia akan mendapatkan tempat tidur Barrow yang dekat jendela karena ia pasti akan hidup lebih lama. Demikian menurut Sutter.

Berbagi kamar

Kedua nenek itu telah berbagi kamar hampir setahun. Scott Barrow telah meminta petugas panti jompo untuk memisahkan kedua wanita itu. Namun, pihak panti jompo meyakinkannya bahwa keduanya baik-baik saja. Ia mengaku bahwa ibunya tak ingin meninggalkan kamar itu karena di situlah ibunya dan ayahnya tinggal bersama sebelum ayahnya meninggal tahun 2007.

Hakim pengadilan tinggi, yang bertindak atas tuduhan yang diajukan oleh penuntut dan juga oleh Levin, memerintahkan Lundquist untuk dikirim ke RS Negara Bagian Taunton untuk dievaluasi.

Sutter mengatakan bahwa kasus ini kemungkinan besar tak akan diadili karena hasil evaluasi mungkin akan menyatakan ketidakmampuan dan pihak pembela juga hampir pasti akan mengemukakan alasan cacat mental, yang pengusutannya pasti memakan waktu.

Levin mengatakan bahwa seseorang ternyata tak mampu untuk diadili. Maka dari itu, pemerintah kemungkinan besar akan mengirim sang tertuduh pada suatu institusi.

Sutter mengajukan tuntutan pembunuhan tingkat kedua karena mereka yakin Lundquist tak memiliki kemampuan mental untuk merencanakan pembunuhan, yang merupakan syarat untuk pembunuhan tingkat pertama.

Menurut Sutter, Lundquist merupakan tersangka pembunuhan tertua di negara bagian itu.

Dalam suatu pernyataan, pihak rumah jompo mengatakan bahwa kedua wanita itu berlaku seperti sepasang saudari, berjalan dan makan bersama-sama, dan saling mengatakan, “Selamat malam, saya menyayangimu,” hampir tiap malam. Menurut panti jompo, Barrow sendiri menolak tawaran pindah kamar pada bulan Juli dan Agustus.

sumber

Related posts

Orang Tertua di Dunia Itu Telah Tiada

September 13, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Manusia tertua di dunia, Gertrude Baines, tutup usia pada umur 115 tahun, Jumat (11/9). Baines meninggal dunia dengan tenang di pembaringannya di Western Convalescent Hospital, yang telah menjadi kediamannya sejak ia akhirnya memutuskan untuk tidak hidup seorang diri di kediaman pribadi setelah mengalami patah tulang pinggul pada usia 107 tahun.

“Ia kemungkinan meninggal dunia karena serangan jantung,” kata dokter pribadinya dr Charles Witt. Keterangan ini disampaikan meskipun hasil otopsi masih diperlukan untuk menentukan penyebab pasti kematian Baines.

“Aku masih melihatnya dalam keadaan sehat 2 hari lalu. Ia tampak benar-benar bugar. Ia kerap kali tersenyum,” ungkap dokter pribadinya itu.

Perempuan kulit hitam yang tidak pernah merokok maupun mengonsumsi minuman beralkohol itu lahir di Shellman, Georgia, 6 April 1894 saat Grover Cleveland menjabat sebagai Presiden AS. Saat itu, media komunikasi radio baru dikembangkan dan masih dibutuhkan waktu lebih dari setengah abad lagi bagi kehadiran televisi.

Baines berusia 4 tahun saat pecah Perang Spanyol-Amerika. Ia mencapai usia paruh baya menjelang masuknya AS dalam Perang Dunia II pada 1941. Menikmati hidup adalah kunci yang dipegangnya untuk membuka pintu waktu yang menuntunnya hingga berusia lebih dari seratus tahun.

“Saya menikmati hidup. Saya tak peduli apabila hidup seratus tahun lagi,” katanya disertai derai tawanya saat menyampaikan hak suaranya untuk menunjuk Barack Obama sebagai presiden AS. Menurut Baines, suaranya yang ditujukan bagi Obama telah menggenapkan impian lamanya untuk melihat seorang pria berkulit hitam terpilih sebagai presiden AS.

Baines yang pernah bekerja sebagai seorang pembantu di asrama Ohio State University ini hidup dengan usia lebih panjang dari seluruh anggota keluarganya. Putri satu-satunya Baines meninggal dunia akibat mengidap tifus pada usia 18 tahun.

Pada tahun-tahun terakhir menjelang ajal menjemputnya, Baines menghabiskan waktunya dengan menonton tayangan program televisi favoritnya, The Jerry Springer Show. Baines menjadi orang tertua di dunia pada Januari saat Maria de Jesus meninggal dunia di Portugal pada usia 115 tahun.

sumber

Related posts

11 Tahun Buron, Perampok Lupa Nama Aslinya

August 10, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Seorang tersangka pelaku serangkaian perampokan sekitar 11 tahun lalu mengakui semua tindakan kejahatannya ketika ia dibekuk pada 4 Agustus lalu. Tetapi yang mengejutkan, perampok itu sudah tak dapat mengingat nama aslinya.

Ia mengatakan bahwa ia telah berganti sangat banyak nama dalam 11 tahun belakangan “sehingga ia tidak ingat namanya yang sesungguhnya”. Pria itu, bersama tiga rekannya, diduga melakukan serangkaian perampokan di pusat kota Jilin, Provinsi Jilin, pada 1998.

Related posts