Saling Ejek di Facebook Berbuntut Tawuran
December 13, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Gara-gara saling ejek di situs Facebook, dua kelompok terlibat tawuran di Jl Pirngadi Surabaya, Jumat (11/12/2009) sekitar pukul 22.45 WIB. Mobil Toyota Avanza milik Steven Liang (23), warga Jalan Ploso Timur, hancur setelah kaca-kacanya dihantam paving stone. Steven juga terluka karena wajahnya dipukul dengan helm dan paving stone.
Peristiwa tawuran itu cukup menggegerkan warga sekitar. Pasalnya, ajang perundingan untuk mendamaikan perseteruan Lia dan Rini, dua perempuan yang cukup lama bersahabat, itu berubah menjadi kisruh. Lia dan Rini, yang menjadi sumber masalah, saat tawuran berlangsung terlihat bersembunyi di sela pagar di Jalan Pirngadi. “Sewaktu pulang dari jalan-jalan kok ada ramai-ramai dan di situ ada dua cewek yang wajahnya ketakutan,” tutur Triawan, warga Bubutan.
Kasat Reskrim Polres Surabaya Utara AKP Dolly A Primanto menjelaskan kronologi pemicu tawuran tersebut. Dikatakan, dalam sepekan terakhir, Lia, asal Simo Kwagean Buntu Lor, dan Rini terlibat saling ejek di Facebook. Lia kemudian mengadu kepada suaminya, Tonny Wijaya. Tonny kemudian menyampaikan hal tersebut kepada kakaknya, Paulus.
Setelah itu, kata AKP Dolly, Paulus yang hingga kini masih buron ganti memaki-maki Rini yang asal Ploso itu. Agar persoalan tidak berlanjut, keduanya sepakat damai dan bertemu di Jalan Pirngadi. Rini mengajak pacarnya, Steven Liang, naik mobil Toyota Avanza, sedangkan Lia datang bersama suaminya, Tonny, Paulus serta puluhan orang lainnya naik sepeda motor.
Begitu kedua pihak bertemu, tak diketahui siapa yang memulai, pertemuan itu mendadak berubah menjadi baku pukul yang diawali dengan cekcok mulut. Karena jumlah anggota kelompok tidak seimbang, Steven menjadi sansak hidup kelompok Tonny dan Paulus. Mobil Steven yang diparkir di tepi jalan juga turut menjadi sasaran amuk Tonny dkk.
Melihat tawuran itu, warga sekitar datang untuk memisah. Namun, beberapa orang yang merusak mobil berhasil kabur. Aparat Polres Surabaya Utara yang markasnya hanya berjarak sekitar 500 meter langsung datang ke lokasi.
Mengetahui kedatangan polisi, Tonny yang diduga ikut menghajar Steven bergegas mengambil motornya, Yamaha Mio Soul bernomor polisi L 6915 NH, dan langsung tancap gas ke arah timur. Namun, Tonny tak sadar laju sepeda motornya terganggu polisi tidur sehingga nyungsep di jalanan. Tonny yang dalam kecelakaan itu mengalami patah kaki, langsung ditangkap polisi, kemudian dilarikan ke RSU Dr Soetomo.
“Tonny kami tetapkan sebagai tersangka karena turut dalam perkelahian. Dia masih dirawat di rumah sakit,” ujar Kapolres Surabaya Utara AKBP Djoko Hariutomo didampingi AKP Dolly A Primanto, Sabtu (12/12/2009).
Pascapenetapan Tonny sebagai tersangka, polisi kemudian menangkap Wahyuda Mokoagao (23), warga Setro. Di hadapan penyidik, Wahyuda mengaku beberapa kali memukul kaca mobil Steven. Wahyuda juga mengaku memukul Steven dengan helm. “Saya cuma ikut-ikutan saja,” elak Wahyuda.
Dalam kasus ini, penyidik menetapkan Paulus sebagai buron karena turut terlibat dalam perkelahian. “Perdamaian yang dilakukan kelompok tersangka dan korban salah, karena dilakukan di tempat sepi. Kan ada polisi yang bisa menjadi mediator,” papar AKP Dolly. (MIF)
Related posts
Antivirus Siswa SMP Stella Maris Mampu Jaring 4.000 Virus
October 18, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Anda yang biasa browsing di situs softpedia.com untuk mencari antivirus, tentu mengenal Blue Atom Antivirus. Tetapi, tahukah Anda siapa pencipta antivirus ukuran 2,5 MB yang mampu menjaring sekitar 4.000 virus dalam dan luar negeri itu?
Dia adalah Alvin Leonardo (14) siswa kelas IX E SMP Katolik Stella Maris, Surabaya. Hebatnya, karya arek Suroboyo ini secara resmi telah mendapat garansi 100 persen clean oleh softpedia pada 19 Oktober 2009.
Meski menjadi salah satu penghuni kelas unggulan di sekolah, Alvin adalah sosok siswa bersahaja. Tak terlihat istimewa. Rambut pendek dan badan sedikit kurus. Tapi, ia memang lebih menguasai pemrogaman komputer dibanding rekan-rekannya.
Alvin mulai rajin mengotak-atik program komputer sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, dia baru saja duduk di bangku SMP dan untuk pertama kali memegang komputer. Awalnya, dia hanya suka main game. Tapi, rasa ingin tahunya berkembang ketika melihat program visual basic dalam hard disk komputer.
“Waktu itu saya penasaran, program itu untuk apa? Cara kerjanya bagaimana? Lalu saya otak-atik sampai akhirnya tahu,” ujarnya. Kemampuan Alvin mengotak-atik program komputer didapat secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus komputer atau mendapat bimbingan khusus di bidang pemrograman.
Hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun, Putra pasangan Muliani Tedjakusuma dan Surya Mutiara itu sudah menguasai bahasa pemrogaman visual basic, c#, dan asmbler (ASMX 86). Kemampuan menguasai tiga jenis bahasa pemrogaman itulah yang mengantar Alvin membuat antivirus.
Karya itu lahir dari keluhan orang-orang di sekitar. “Banyak saudara dan teman jengkel karena komputer atau flash disk diganggu virus. Saya lihat sistem kerja antivitus itu gampang, jadi saya buat sendiri,” ungkap anak tunggal itu.
Alvin berhasil menyelesaikan proyek antivirusnya pada September 2009. Semula ia menamakan karyanya Fire Antivirus. Tapi, karena nama itu sudah pernah ada, ia lalu mengubah dan memberi nama karyanya Blue Atom Antivirus. “Biru itu melambangakan ketenangan dan atom merupakan bagian terkecil dari semua benda, itu melambangkan antivirus saya yang kapasitasnya cukup kecil,” papar Alvin.
Selanjutnya ia mendaftarakan karyanya ke softpedia secara online. “Saya sempat kesulitan mendaftar, karena harus mencari website yang bisa menjadi pengantar untuk masuk ke softpedia, karena saya tidak punya server sendiri. Tapi, akhirnya bisa menggunakan sourceforge,” terang Alvin.
Selang beberapa hari setelah mendaftar ke softpedia, Alvin mendapat jawaban melalui email yang menyatakan antivirus buatannya sudah lolos uji coba dan dijamin sehingga bisa diunduh secara langsung melalui softpedia.
Selain berkapasitas kecil dan bisa menyeleksi lebih banyak virus, Blue Atom Antivirus diklaim bisa bekerja dalam waktu singkat. Antivirus ini bisa digunakan untuk komputer dengan spesifikasi sederhana sekalipun.
Tidak puas dengan karya antivirus yang sudah mendapat sertifikasi softpedia. Alvin terus mengembangkan karyanya. Hasilnya, dalam waktu singkat ia sudah me-launching pengembangan antivirus Blue Atom karyanya dengan tambahan beberapa keunggulan. Versi baru Blue Atom Antivirus kini dilengkapi karantina, clean, fitur antivirus untuk game yang disebut game mode dan fitur protective flashdisk.
Pengembangan antivirus Blue Atom kembali didaftarkan Alvin ke Softpedia, Kamis (15/10). Ia berharap versi baru Blue Atom Antivirus bisa kembali mendapat lisensi dari Softpedia beberapa hari ke depan. “Kalau dapat lisensi lagi itu bisa menjadi hadiah ulang tahun,” harap bocah yang tinggal di Jl Muria Surabaya itu.
Pakar IT yang juga dekan FTIf ITS Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD menyatakan, bahasa pemrograman komputer tidak mudah dikuasai siswa, apalagi SMP.
“Kalau memang dia (Alvin) bisa menguasai bahasa pemrograman, berarti dia termasuk anak yang serius belajar, hebat dia,” puji Ryan.
Terkait antivirus buatan Alvin, Ryan hanya mengingatkan bahwa sistem kerja antivirus adalah kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak wajar dalam kerja komputer.
Antivirus berfungsi untuk mendeteksi hal yang tak wajar itu untuk kemudian mengendalikannya. Karenanya, pembuat antivirus dituntut untuk terus mengupdate, supaya tetap bisa berfungsi baik jika sudah ditemukan virus-virus baru.
“Anak-anak seperti dia perlu diperhatikan. Untuk meningkatkan kemampuan, dia bisa diikutkan lomba-lomba pemrograman,” tambah Ryan. Lebih lanjut, ia berharap potensi seperti Alvin bisa dibina untuk menjadi hacker ‘ilmu putih’ untuk menyosialisasikan fungsi penguasaan program komputer dan IT untuk membantu mencari solusi bagi segala keperluan. (
Related posts
Bung Karno Menjadi Klerk di Stasiun Surabaya
July 19, 2009 by hafeez
Filed under Artikel Kita

Anda pernah mendengar kata exploitation de l’homme par l’homme? Bung Karno sangat sering mengutip kalimat itu dalam pidato-pidatonya. Itulah kalimat yang ditentang selama perjuangannya, eksploitasi, penindasan, penghisapan manusia oleh manusia yang lain. Kemudian ketika negara Indonesia sudah merdeka, kalimat tadi ditambah dengan, exploitation de nation par nation, penindasan sebuah bangsa oleh bangsa yang lain.
Kalimat-kalimat pembakar jiwa merdeka itulah yang ditanamkan dalam-dalam di sanubari rakyat. Akhirnya, semangat itu pula yang tumbuh dan berbentuk di dekade 20-an. Para pekerja sudah berorganisasi, mereka berani menuntut hak; menuntut undang-undang perburuhan, menuntut upah yang layak… dan selalu membentang poster “TOLAK exploitation de l’homme par l’homme” dalam aksinya.
Klimaks aksi buruh terjadi akhir tahun 1921 di Garut, Jawa Barat. Aksi mogok besar-besaran telah merepotkan pemerintahan kolonialis Belanda. Nah, dalam kasus itu, Belanda menuduh Sarekat Islam-lah dalangnya. Maka, pada hari itu juga Belanda menangkap H.O.S. Cokroaminoto dan menjebloskannyake balik jerajak besi.
Demi mengetahui peristiwa itu, perasaan dan pikiran Bung Karno berkecamuk. Masih ingat cerita Utari, istri pertama Bung Karno yang anak Cokroaminoto? Benar! Bung Karno adalah anak menantu Cokroaminoto. Di sisi lain, Ibu Cokroaminoto sudah meninggal. Adik-adik Utari, Anwar dan Harsono masih kecil-kecil. Karena itu pula, tanpa berpikir panjang, ia pamit kepada Inggit Garnasih, ibu kostnya. Ia juga pamit kepada Profesor Klopper, Presiden Sekolah Teknik Tinggi, tempatnya kuliah. Ia pamit pulang ke Surabaya, mengambil-alih tugas kepala keluarga yang tidak bisa dijalankan Cokroaminoto karena ia meringkuk di penjara.
Tuduhan serius kepada Cokro, bisa berakibat hukuman penjara selama enam tahun. Itu artinya, Sukarno sudah benar-benar siap meninggalkan gelanggang pergerakan, demi anak-anak Cokro. Ia rela meninggalkan kuliah, rela meninggalkan dunia pergerakan, bahkan rela mengubur cita-cita memimpin pergerakan menuju Indonesia merdeka.
Hal pertama yang ia lakukan setiba di Surabaya adalah mencari pekerjaan. Tidak terlalu sulit untuk seorang pemuda dengan tingkat pendidikan seperti Sukarno, sekalipun ia seorang pribumi, inlander kotor di mata Belanda. Bung Karno berlabuh di jawatan kereta api, bekerja sebagai klerk, atau tenaga kasar. Kedudukannya sebagai Raden Sukarno, EKL atau Der Eerste Klasse. Sebagai seorang klerk stasiun kereta api kelas satu, Bung Karno menelan uap dan asap selama tujuh jam sehari. Sebab, kantornya tidak ada ventilasi untuk masuk udara bersih, dan langsung berhadapan dengan rel dan pelataran stasiun.
Atas pekerjaannya, ia menerima upah setara 165 rupiah. Dari jumlah itu, sekitar 124 rupiah diserahkan kepada keluarga Cokro, sisanya yang 40 rupiah dikantonginya sendiri, untuk sekali-kali mengajak keluarga Cokro sekadar nonton bioskop. Kerja keras sehari-hari, mengurus keluarga Cokro di sisi yang lain, membuat Sukarno sama sekali tidak punya waktu untuk belajar bagi dirinya sendiri. Terlebih, Belanda memutuskan, anak-anak orang orangtuanya menjadi tahanan, dilarang masuk sekolah. Karenanya, Sukarno juga mengajari Anwar dan Harsono di rumah, agar tidak ketinggalan pelajaran.
Syahdan, Cokroaminoto dibebaskan bulan April 1922, setelah tujuh bulan meringkuk dalam tahanan. Bung Karno senang bukan kepalang, bersyukur tiada henti. Tiga bulan kemudian, di bulan Juli 1922, ketika tahun pelajaran baru segera dimulai, Bung Karno kembali ke Bandung, ke Sekolah Teknik Tinggi, dan… kembali kepada Nyonya Inggit. (roso daras)
http://rosodaras.wordpress.com/2009/07/17/bung-karno-menelan-uap-tujuh-jam-sehari/
Related posts
Maling Jembatan Suramadu Ternyata Bawa 3 Ton Besi
July 17, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Jajaran Polresta Surabaya Timur berhasil membekuk tersangka pencuri besi Jembatan Suramadu. Tersangka adalah Agus Salim (47), warga Desa Lebang, Kecamatan Sukolilo, Bangkalan. Agus Salim diketahui sebagai pemilik sekitar tiga ton lonjoran besi stainless, yang diangkut truk L 7068 V, disopiri Tohari (40), warga Mojosari, Mojokerto.
Terkuaknya kasus ini berawal saat polisi menerima informasi tentang adanya truk yang mengangkut besi dari arah kaki jembatan Suramadu sisi Madura, Selasa (14/7). Polresta Surabaya Timur segera minta jajarannya mengadang.
Tepat saat truk melintas di wilayah Polsekta Simokerto, polisi yang berpatroli segera menghentikan truk tersebut pada Selasa siang. Sopir truk, Tohari, kemudian diperiksa dan mengatakan hanya disuruh seseorang yang tak dikenalnya di kaki Jembatan Suramadu sisi Bangkalan untuk membawa muatan itu ke pasar loak Gembong, Surabaya. Tohari mengaku mendapatkan ongkos Rp 400.000.
”Saat ditanya barang itu dari mana, sopir mengaku tidak tahu dan dia hanya memberikan surat jalan yang dikeluarkan CV Putra Jaya sebagai pemilik barang. Akhirnya dia kami amankan dan kami jadikan saksi,” ujar AKBP Samudi, Kapolresta Surabaya Timur, didampingi Kapolsek Simokerto AKP Damar Bastiar, Rabu (15/7).
Selasa malam, anggota Polsek Simokerto mencari pemilik sekaligus yang menyuruh Tohari membawa puluhan lonjor besi berbagai ukuran tersebut. Polisi kemudian mengamankan Agus Salim. Setelah menjalani pemeriksaan, polisi menetapkan Agus Salim sebagai tersangka pencurian.
Barang bukti yang diamankan meliputi pipa kotak ukuran 8 × 8 cm panjang 2,5 meter sebanyak 30 batang, pipa kotak ukuran 8 × 4 cm panjang 2,5 meter sebanyak 10 lonjor, pipa bulat ukuran 1 dim panjang 6 meter sebanyak 42 lonjor; pipa bulat ukuran 2 dim panjang 6 meter sebanyak 12 lonjor; pipa bulat ukuran 4 dim panjang 6 meter sebanyak 12 lonjor; dan pipa bulat ukuran 4 dim panjang 2,5 meter sebanyak 9 lonjor.
Namun, Agus Salim membantah telah mencuri besi proyek Jembatan Suramadu. Ia mengaku hanya membeli dari nelayan untuk dijual lagi. “Saya beli dari nelayan karena saya pikir besi itu limbah proyek,” ujar pria yang mengaku sebagai Ketua Paguyuban Warga Nelayan Desa Sukolilo Barat, Labang, Bangkalan, itu.
Agus Salim mengaku membelinya dengan cara ditimbang seharga Rp 2.800-Rp 3.000/kg. Rencananya, besi itu dijual kepada AP, warga Surabaya, seharga Rp 4.000/kg. Lantas, dari mana ia mendapat surat jalan atas nama CV Putra Jaya? Agus mengaku surat itu hanya untuk mengelabui jika dalam perjalanan diperiksa polisi. Surat jalan itu atas nama CV Putra Jaya untuk Hanil Steel - Agus Salim, Sukolilo, Nopol L 7068 V.
Pernyataan Agus, yang menyebutkan besi itu sudah tak terpakai, diragukan oleh polisi. Menurut AKBP Samudi, dari barang bukti lonjoran besi tersebut masih terlihat belum terpakai. Bahkan di antaranya masih bersegel. Dalam kasus ini, tersangka dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan jo Pasal 480 KUHP tentang penadahan. Ancaman hukumannya lima tahun. Ada pula dugaan bila besi-besi itu keluar dari gudang penyimpanan milik kontraktor. Namun, AKBP Samudi mengatakan masih akan menyelidiki.
Milik kontraktor China
Kepala Satuan Kerja Jembatan Suramadu sisi Surabaya Dwi Purtono membenarkan bahwa besi dan pipa galvanis yang diamankan petugas Polsek Simokerto adalah barang milik proyek Suramadu. “Barang-barang mentah itu milik kontraktor, yakni kontraktor China yang mengerjakan bentang tengah jembatan,” ujarnya kepada Surya, Rabu (15/7).
Untuk memastikan hal itu, sekitar pukul 09.00 kemarin, Dwi datang ke Mapolsek Simokerto untuk mengeceknya. Setelah memastikan barang curian yang diamankan itu adalah milik kontraktor China, sekitar pukul 10.00, Dwi diperbolehkan pulang.
Menurut Dwi, karena yang dicuri adalah barang mentah milik kontraktor, maka tanggung jawab sepenuhnya ada pada kontraktor. Hal ini berbeda jika yang dicuri barang matang atau instalasi yang ada di jembatan setelah pembangunan Jembatan Suramadu dinyatakan rampung dan dibuka untuk umum. Barang yang dicuri masuk kategori milik negara. “Meski demikian, kami berharap kasusnya diusut tuntas,” ujar Dwi.
Apalagi jika melihat barang yang dicuri masih mulus, Dwi yakin barang itu dicuri sebelum digunakan. Ini berarti bisa saja pencuri langsung mengambilnya dari gudang tempat kontraktor China menyimpan barang tersebut.
Pencurian barang di Jembatan Suramadu ini adalah yang kesekian kalinya. Sebelumnya, usai jembatan senilai Rp 4,5 triliun itu diresmikan Presiden SBY 10 Juni lalu, puluhan sekrup dan mur pagar pembatas lintasan motor juga raib dari tempatnya. Setelah itu, 16 Juni giliran 42 lampu navigasi untuk menerangi pekerja di bawah jembatan juga hilang.
Catatan Surya, selama enam bulan mulai Agustus 2008 hingga Maret 2009 telah terjadi pencurian besar-besaran terhadap besi konstruksi Suramadu. Jumlah besi yang dicuri mencapai 4 ton. Pencurian dilakukan pagi hari menggunakan perahu nelayan dengan sasaran besi konstruksi di bentang tengah jembatan yang belum terpasang dan panjangnya mencapai 10 meter.
Akibat kasus itu, warga Jalan Bulak Cumpat Kecamatan Kenjeran Surabaya, yakni Bambang Harianto (31), Budiono (32), M Fadil (18), dan Muin (42) diciduk oleh aparat Polresta Surabaya Timur. Selain itu, pencurian juga dilakukan terhadap besi yang jatuh ke laut. Caranya dengan memancing menggunakan magnet atau menyelam ke dasar laut. (rie/uji)
kompas.com



