Ilmuwan Temukan Katak Bertaring, Tikus Raksasa
October 22, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Beberapa ilmuwan dan pembuat film telah menemukan spesies baru tikus raksasa jauh di pedalaman hutan Papua Nugini bersama dengan hewan lain yang selama ini tak pernah disaksikan.

Tikus berbulu tebal itu, hewan pengerat pemangsa sayuran dengan ukuran yang sangat besar, panjang 82 centimeter dan berat 1,5 kilogram. Ukurannya membuat hewan tersebut termasuk spesies tikus yang paling besar yang diketahui di mana pun di dunia, sebagaimana dikutip dari Xinhuanet-OANA.
Hewan tersebut ditemukan oleh satu tim ekspedisi yang membuat film bagi program BBC “Lost Land of the Volcano”.
Namun tikus besar tersebut hanyalah satu dari puluhan hewan baru yang ditemukan di bawah gunung berapi Bosavi. Tim itu juga menemukan sejumlah laba-laba asing dan sebanyak 20 spesies serangga.
“Yang menjadi pusat perhatian meliputi bunglon, satu katak bertaring dan satu jenis ikan yang disebut `Henamo Grunter`. Ikan tersebut diberi nama seperti itu karena makhluk tersebut mengeluarkan suara mendengkur dari kantung udara saat berenang,” kata Steve Greenwood, produser serial bagi “Lost Land of the Volcano”. Katak bertaring tersebut adalah satu-satunya dari sebanyak 16 katak baru yang ditemukan.
Daerah tempat hewan itu ditemukan sangat tak sulit didatangi dan tim tersebut menghabiskan waktu beberapa pekan untuk mendaki puncak setinggi 2.800 meter dengan bantuan pencari jejak lokal.(*)
Related posts
LIPI Temukan Spesies Baru Anggrek di Papua
September 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan penemuan spesies baru anggrek yang diberi nama “Dipodium brevilabium D.Metusala & P.O’Byrne”, yaitu bunga yang ditemukan di belantara Papua.
Menurut surat elektronik peneliti LIPI Destario Metusala, yang diterima ANTARA, Selasa, spesies itu ditemukannya bersama dengan peneliti Singapura Peter O`Byrne dalam suatu penelitian sejak awal 2008.
Penemuan yang menjadi bukti bahwa Indonesia masih menyimpan keragaman hayati yang belum terungkap itu, kata Desatrio, telah dipublikasikan di jurnal anggrek internasional (Internasional Orchid Review) di Inggris pada September.
Disebutkan, Genus Dipodium sp memiliki sekitar 25 spesies yang tersebar dari Indo-China hingga Australia dan kepulauan Pasifik Barat.
Genus itu dianggap sulit oleh para taksonom dunia karena memiliki bentuk bunga yang serupa dengan strukur bibir bunga (labellum) yang hampir konsisten. Seperti kerabat Dipodium sp lainnya di Indonesia, anggrek Dipodium brevilabium juga berperawakan menyerupai tumbuhan pandan wangi (Pandanus amaryllifolius), oleh karena itu seringkali masyarakat menyebutnya dengan nama anggrek pandan.
Perbungaan anggrek itu secara total dapat mencapai 35 kuntum, dengan masa mekar total sekitar 15-20 hari. Bunganya yang berdiameter 3,3-3,7 cm itu memiliki warna dasar kuning dengan corak totol berwarna merah kecoklatan.
Anggrek Dipodium brevilabium memiliki karakter morfologi unik yang membedakan dengan spesies Dipodium lainnya, yaitu bibir bunganya yang sangat pendek dengan lobus tengah berbentuk membulat.
Nama “brevilabium” pada spesies ini pun diambil berdasarkan bentuk bibirnya yang pendek.
Dari sisi budidaya, anggrek ini cukup adaptif pada ketinggian 200-700 m dpl, dengan intensitas cahaya 50-70 %.
Yang paling penting diperhatikan adalah pengaturan kelembaban pada media tumbuh serta sirkulasi udaranya, karena anggrek ini sangat rentan oleh serangan jamur yang dapat menyebabkan bercak pada daun hingga busuk pucuk. Anggrek Dipodium brevilabium diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di Indonesia.(*)



