Indonesia 1986-87, Saat Merah-Putih Berkibar

December 11, 2009 by hafeez  
Filed under Olahraga Kita

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku…..Indonesia raya merdeka-merdeka, hiduplah Indonesia raya…”

JUTAAN anak bangsa tak kuasa menahan haru mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di langit biru. Rasa bangga tak terkira, karena hanya para juaralah yang berhak menyanyikan lagu kebangsaannya di arena pertarungan antarbangsa. Dan, timnas Indonesia berhak menyanyikan lagu sakral tersebut sebagai imbalan mengangkangi medali emas SEA Games 1987. Untuk pertama kalinya pula, sepak bola Indonesia mampu mengibarkan bendera Merah-Putih di kejuaraan antarbangsa.

Saat itu, langit bulan September betul-betul terasa biru bagi rakyat Indonesia. Lewat gol tunggal Ribut Waidi di menit ke-91 ke gawang Malaysia di partai final, untuk pertama kalinya Indonesia bisa merengkuh medali emas sepak bola di ajang SEA Games.

Ini merupakan trofi antarbangsa pertama yang pernah direbut timnas Indonesia. Dominasi Thailand dipatahkan. Kekuatan Malaysia dibenamkan. Sungguh prestasi yang heroik. “Pendahulu-pendahulu kami juga tak kalah hebatnya, tapi mereka tidak pernah berhasil mempersembahkan gelar juara. Wajar jika kami sangat bangga atas prestasi ini,” ujar Patar Tambunan, gelandang kanan yang ikut berandil mempersembahkan medali emas SEA Games 1987, Selasa (21/12)

Tidak hanya Patar Tambunan yang patut berbangga hati. Semua pecinta bola Indonesia pastilah ikut bangga. Melihat prestasi timnas Indonesia kala itu, semua warga yang punya KTP Indonesia bisa sedikit mendongakkan kepala. Indonesia bukan lagi tim macan kertas. Indonesia adalah yang terkuat, setidaknya di Asia Tenggara.

“Malah kami juga terhitung 4 besar di Asia,” ucap striker legendaris Indonesia, Ricky Yakobi, Selasa (21/12). Statemen Ricky bukan sekadar bualan. Satu tahun sebelumnya, tim perebut medali emas SEA Games 1987 ini berhasil menapaki babak semifinal Asian Games 1986. Ini adalah prestasi tertinggi dalam lembaran sejarah sepak bola nusantara. Yang hingga saat ini, Indonesia belum bisa mengulanginya.

BERSATU LUAR-DALAM
Tak dapat disangkal, timnas Indonesia 1986-87 merupakan timnas terhebat yang pernah dimiliki Indonesia – jika ukurannya trofi antarbangsa. Saat itu Indonesia punya pemain besar semacam Herry Kiswanto, Rully Nere, Robby Darwis, dan Ricky Yakobi. Talenta hebat yang kemudian berpadu dengan pelatih tak kalah hebat, mendiang Bertje Matulapelwa.

“Bertje adalah pelatih hebat. Prinsip open management yang diterapkannya mampu menciptakan iklim tim yang kondusif,” kenang asisten pelatih Bertje kala itu, Sutan Harhara, Selasa (21/12).

Prestasi Indonesia kala itu memang tak bisa dilepaskan dari sosok pelatih yang dijuluki Sang Pendeta tersebut. Dia bisa menyatukan pemain dari unsur yang berbeda, Galatama dan Perserikatan. Patut dicatat, saat itu beredar rumor bahwa pemain alumni Galatama tidak begitu akur dengan alumni Perserikatan.

Embrio generasi emas itu terbentuk, pada akhir 1985. Setelah proyek timnas Garuda 1 selesai, PSSI memberikan mandat kepada Bertje guna membentuk tim baru. Mandat yang berat, pasalnya mental Indonesia sedang terpuruk setelah dibantai Thailand 0-7 di SEA Games 1985.

Bertje mencoba membangkitkannya. Dengan lugas dia mengumpulkan talenta berbakat dari Galatama (seperti Ricky Yakobi dan Nasrul Koto), Perserikatan (Robby Darwis, Ribut Waidi dll) dan sejumlah alumni Garuda 1 (semacam Patar Tambunan dan Marzuki Nyak Mad).

Proses pembentukan tim yang padu, ujar Sutan Harhara, ternyata gampang-gampang susah. Saat tim sudah lumayan padu, pada medio 1986 iklim tim hampir rusak karena masalah duit. Uang saku dari PSSI kepada pemain dinilai terlalu minim.
Bayangkan saja, hadiah dari KONI untuk medali emas hanya 1 juta per pemain. Sedangkan uang saku per bulannya selama pelatnas tak kalah mepet, kurang dari Rp 750 ribu/bulan. Herry Kiswanto berkisah, dia bersama semua anggota tim pernah meminta kenaikan uang saku.

Sayang, tuntutan tersebut tak digubris. Patah semangat? Untungnya tidak. Panggilan membela negara, ujar Herry Kiswanto, jauh lebih penting. Berkat suntikan semangat dari Bertje, para pemain Indonesia membuang jauh-jauh nafsu mengumpulkan duit. Yang tertanam hanya satu kalimat, kibarkan sang merah-putih di langit internasional Tim Merah-Putih di tangan Bertje, sebulan sebelum Asian Games digelar, sempat melakukan uji coba sebulan lebih di Brasil. Formasi baru 4-3-3 yang memasang Ricky Yakobi sebagai striker tunggal ternyata lumayan paten. Hasilnya terbaca pada Asian Games 1986. Indonesia lolos ke semifinal. Sayang untuk kemudian kandas di tangan Korea Selatan.

Usai Asian Games, Bertje melakukan perubahan besar. Ban kapten dipindahkan dari lengan Herry Kiswanto ke Ricky Yakobi. Padahal umur Ricky kala itu baru 23. “Bertje ingin melakukan regenerasi. Dan, aku merasa sudah saatnya dilakukan,” ujar Herry.
Regenerasi itu berlangsung cemerlang. Indonesia benar-benar terbang tinggi di SEA Games 1987 Jakarta. Di hadapan pendukung setia, Indonesia tampil trengginas. Usai membambat Burma 4-1 di semifinal, Indonesia menjinakkan Malaysia 1-0 di partai puncak.
Indonesia juara. Merah-Putih pun berkibar di langit Asia Tenggara. (yoyok/SOCCER)

Fakta timnas Indonesia 1986-87
Pelatih : Bertje Matulapelwa
Skuad : Ponirin Meka, Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad, Sutrisno, Budi Wahyono, Patar Tambunan, Nasrul Koto, Rully Nere, Azhary Rangkuti, Ricky Yakobi, Ribut Waidi.
Prestasi : Semifinal Asian Games 1985, Juara SEA Games 1987

Raihan Timnas PSSI di level SEA Games
Indonesia baru resmi ikut ajang SEA Games pada 1977. Selama kurun itu hingga saat ini, Indonesia hanya sempat 2 kali terbang tinggi. Pertama pada SEA Games 1987. Kedua pada 1991. Setelah itu prestasi Tim Merah-Putih cenderung melorot.

1977 - Semifinal
1979 - Peringkat ke-2
1981 - Peringkat ke-3
1983 - Penyisihan grup
1985 - Semifinal
1987 - Juara
1989 - Peringkat ke-3
1991 - Juara
1993 - Semifinal
1995 - Penyisihan grup
1997 - Peringkat ke-2
1999 - Peringkat ke-3
2001 - Semifinal
2003 - Penyisihan grup
2005 – Semiifinal
2007 – Penyisihan gup
2009 – Penyisihan grup

sumber

Related posts

Lawan MU, Indonesia tak Perlu Main Cantik

July 16, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Pemain legendaris Indonesia, Oyong Lissa dan Anjasmara, meminta agar pemain Indonesia All Stars tak takut melawan Manchester United (MU), pada pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (20/7) nanti. Asal tak takut dan tak memaksakan diri bermain cantik, Indopnesia bisa membuat MU kesulitan.

Oyong dan Anjas pernah bertarung melawan MU pada tahun 1975 di Jakarta. Waktu itu MU belum sehebat sekarang. Sementara, Indonesia saat itu masih disegani oleh tim-tim dari Eropa dan Amerika Latin. Pada pertandingan tersebut, Indonesia mampu menahan MU 0-0.

Berbekal pengalaman itu, Oyong dan Anjas memberi saran kepada para pemain Indonesia All Stars untuk tak gentar. Menurut mereka, Indonesia bisa melawan tim sekuat apa pun, termasuk MU.

“Jangan merasa rendah diri. Kita bisa bermain seperti mereka. Tak ada tim yang tak bisa dikalahkan,” kata Oyong.

Sementara itu Anjas mengatakan, Indonesia All Stars sebaiknya tak terbebani untuk bermain cantik melawan MU. Asalkan bisa bermain kompak dan terus menjaga stamina, Anjas yakin Kharis Yulianto dkk bisa mencetak satu atau dua gol.

“Jangan sekali-sekali bermain cantik, nanti semuanya bisa bubar. Main sederhana saja. Passing, bergerak, itu saja,” katanya dalam jumpa pers siaran langsung Indonesia All Star vs MU di studio Jack TV, Jakarta, Kamis (16/7).

“Pada waktu itu, jika kalah bola, kami bikin satu blokade dan tidak memberi ruang kepada mereka. Istilahnya, napas kami di pundak mereka. Jangan ada perasaan takut. Sama-sama manusia, sama-sama darah merah, jangan takut. Jangan lengah, konsentrasi full,” ujarnya.

Hari ini akan diumumkan daftar pemain Indonesia All Stars berdasarkan poling SMS yang diadakan panitia lokal Tur MU ke Asia. Beberapa pemain yang sudah terpilih antara lain Boaz Solossa dan Bambang Pamungkas yang ikut hadir dalam jumpa pers tersebut. Rencananya, pengumuman akan dilakukan pada pukul 19.00 WIB, hari ini, diisiarkan langsung oleh Stasiun TVOne. (LHW)

kompas.com

Related posts