Simon dan Apel Organik Denmark…
December 13, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Remaja pria berkulit putih itu tampak mencolok dengan kaos berwarna hijau terang. Buah-buah apel yang didorongnya dalam gerobak kayuh bak terbuka di bagian depan membuatnya makin “berwarna.” Ia mengayunkan sepedanya berkeliling Bella Centre, tempat pelaksanaan Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark, Senin (7/12/2009).
Pria itu bernama Simon Kristensen. Ia menjual apel organik asli Denmark berkeliling gedung dengan harga 5 krone atau sekitar Rp10.000 per butirnya. “Ini apel khas Denmark, murah saja,” katanya berpromosi kepada setiap orang yang berhenti melihat apel yang cukup menggiurkan.
Simon mengaku, sejak pukul 8 pagi hingga 5 sore, ia telah menjual sedikitnya 450 buah apel. Darimana asal apel-apel itu? “Ini asli apel Denmark, tapi saya tidak tahu dari daerah mana. Saya hanya membelinya di pasar,” kata Simon, pegawai Bella Centre, kepada Kompas.com.
Kenapa apel?
Buah apel tampaknya menjadi buah favorit warga Denmark. Dalam beberapa kesempatan, buah apel selalu disediakan dalam jumlah besar dan selalu ada dalam setiap paket makanan yang disajikan. “Saya tidak tahu kenapa. Tapi apel memang enak bukan?” ujar Simon.
Menurut warga Denmark lainnya, Jesper, terdapat kebun apel di salah satu pulau di Denmark yang terkenal. Hanya saja, ia juga tak terlalu ingat namanya. Apel merupakan buah yang akan terus ditemukan sepanjang musim di Denmark.
Sebagai informasi, warga Denmark tidak bisa mendapatkan buah yang tidak sedang musimnya. Pemerintah setempat membatasi impor buah dari negara lain, salah satunya karena alasan dukungan penyelamatan lingkungan. Pengiriman buah dari luar negeri yang membutuhkan transportasi dinilai menambah jumlah karbon. Setidaknya, itu penjelasan yang didapatkan dari warga setempat. Dipastikan, dua jenis buah yang pasti ada disana adalah apel dan pisang.
Yang jelas, di arena COP15, apel dagangan Simon laku keras. Menariknya, apel Simon laku bukan karena orang tergiur harum dan warnanya, tetapi karena pilihan makanan yang tersedia di kafetaria tak cukup menggugah selera. Seperti pengakuan Latisha, peserta yang berasal dari Oman, saat membeli 5 buah apel Simon. “Saya tidak berminat dengan makanan di kafe. Apel-apel ini saya pikir cukup mengenyangkan buat saya,” ujar Latisha.



