Jenazah Zuhri dan Syahrir Bisa Diambil Besok
October 12, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Polri memastikan keluarga Syaifudin Zuhri dan M Syahrir bisa mengambil jenazah yang saat ini terbujur kaku di ruang jenazah Rumah Sakit Polri Jakarta, Selasa (13/10) besok.
“Jenazah sudah dapat diambil besok,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, Senin (12/10).
Nanan menjelaskan, keluarga akan diberikan fasilitas untuk pemulangan jenazah. Menurutnya, Polri sebenarnya ingin menangkap seluruh teroris hidup-hidup. Namun, karena teknis di lapangan tidak memungkinkan untuk menangkap hidup sehingga dengan terpaksa diambil tindakan penembakan.
“Terpaksa polisi menindak tegas (tembak). Tidak ada perintah menewaskan mereka,” kata dia.
Related posts
Lima Menit di Tengah Penyergapan Teroris
October 10, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Jumat (9/10) sekitar pukul 11.50, Usep (18), Dimiyati (18), dan Adlan (18) terkurung di kamar nomor 14 kontrakan Semanggi di kompleks permukiman Semanggi, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Mereka bersembunyi di meja sudut kamar sembari berdoa.
Di kamar 15, yang bersebelahan persis dengan kamar mereka, dua tersangka teroris sedang digerebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Ketiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu mendengar dentuman bom, seperti suara petasan meledak dan rentetan tembakan.
”Kami terkurung lebih kurang selama lima menit. Selain suara tembakan dan dentuman, samar-samar kami mendengar suara, ’bawa hidup-hidup saja… bawa hidup-hidup saja’. Suara itu semakin membuat kami panik,” kata Usep yang masih agak gemetaran.
Setelah itu, ketiga mahasiswa semester satu itu semakin gemetar ketika seorang anggota Densus 88 menggebrak pintu kamar mereka. ”Dia meminta kami segera keluar kamar,” ujar Adlan.
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah lain, Ari (19), mengaku mendengar tembakan dan dentuman saat mandi dan mempersiapkan diri untuk shalat Jumat. Dia juga diminta keluar kamar oleh salah seorang anggota Densus 88.
”Saya hanya menginap semalam di kamar teman. Letaknya persis di bawah suara dentuman dan tembakan,” kata Ari yang hanya mengenakan kaus dan sarung.
Kontrakan Semanggi berada di perkampungan Semanggi, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Kontrakan berlantai dua dan berwarna salem itu berada sekitar 200 meter dari Jalan Raya Ciputat dan tertutup gedung-gedung tinggi.
Gedung-gedung itu adalah perguruan tinggi Bina Sarana Informatika dan Pusat Pelatihan dan Pendidikan Pegawai Departeman Agama. Di sebelah barat dan timur kontrakan merupakan rumah-rumah penduduk yang cukup padat.
Penyergapan teroris di kontrakan Semanggi itu menggegerkan warga permukiman Semanggi, Kelurahan Cempaka Timur. Warga tidak menduga kalau di permukiman mereka tinggal dua tersangka teroris.
Begitu besar rasa ingin tahu warga, setelah evakuasi jenazah tersangka teroris dari rumah kontrakan dilakukan, warga sekitar berbondong-bondong memasuki lokasi di belakang garis polisi secara bergantian. Mereka rela berdesakan melihat rumah kontrakan itu bersama wartawan, polisi, dan tenaga keamanan masyarakat.
Peristiwa itu juga memacetkan Jalan Ciputat Raya. Pasalnya, warga yang tinggal di seberang jalan berduyun-duyun menyeberang untuk melihat langsung lokasi penyergapan teroris. Sebagian besar warga, terutama warga permukiman Semanggi, tidak mengenali dua teroris itu. Mereka mengenal dua orang itu sebagai mahasiswa peneliti.
Menurut Usep, teroris itu mengaku bernama Soni dan Aan. Saat memperkenalkan diri, mereka mengaku sedang melakukan penelitian, tetapi tidak menyebut bidang penelitiannya.
”Mereka datang sejak awal puasa dan jarang keluar kamar. Kami tidak tahu keadaan kamar mereka karena selalu tertutup. Mereka hanya keluar pada malam hari,” kata Usep.
Hal senada dikatakan Akbar (29), pemilik warung yang berjarak sekitar 200 meter dari kontrakan Semanggi. Dua tersangka teroris itu kerap memesan minuman mineral galon.
Menurut Akbar, salah satu penghuni kamar yang mengaku bernama Soni mendatangi warung dan meminta galon itu dikirim ke kamar. Dia berperawakan tinggi, berpenampilan seperti mahasiswa, berkulit putih kecoklatan, dan berjenggot.
”Saya mengetuk pintu kamar dan mengatakan kalau air sudah terkirim. Dari dalam kamar, dia meminta saya meletakkan galon di depan pintu,” kata Akbar.
Beberapa hari yang lalu, pintu kamar Ihya (19), mahasiswa yang kos di kamar nomor 11, diketuk salah satu penghuni kamar nomor 15. ”Dia tanya nomor telepon Bu Amas, pengurus kos. Tingginya sedang, kulit di bawah matanya kehitaman,” ujar Ihya. (Hendriyo Widi/Sarie Febriane)
Related posts
Di Bawah Ancaman Pistol, Kepala Kurir “Noordin” Ditendangi
August 10, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Keluarga Aris Susanto dan Indra Arif Hermawan mempertanyakan surat penangkapan yang belum diberikan sejak keduanya dibekuk di bengkel sepeda di jalan Kedu-Jumo di Kecamatan Kedu, Jumat (7/8) sore.
Aris (31) dan Indra (24) adalah kakak beradik yang ditangkap karena diduga terkait jaringan terorisme Noordin M Top. Mereka adalah warga Kedu yang diduga menitipkan orang yang diyakini sebagai gembong teroris asal Malaysia itu di rumah paman mereka, Muhdjahri (69) di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jumat dini hari. Keduanya yang lantas dicap sebagai “kurir” Noordin itu ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror beberapa saat sebelum penggerebekan di rumah Muhdjahri.
Istri Indra, Rustiningrum (24) atau yang akrab disapa Arum, mengatakan, Jumat lalu, dia sendiri sedang berada di bengkel tempat Aris dan Indra bekerja. Saat itu, dia menjadi saksi mata dan melihat polisi dan jajaran tim Densus 88 Antiteror tiba-tiba datang dan membekap suami dan kakak iparnya disertai dengan ancaman pistol. Kedua pria ini pun diikat tangan dan kakinya, dan berkali-kali ditendang kepala dan wajahnya. Setelah itu, keduanya pun dibawa pergi dengan mobil.
Melihat itu, Arum pun seketika menjerit-jerit histeris. “Namun, karena begitu shock, bahkan saya sampai lupa menanyakan, apakah petugas tersebut membawa surat penangkapan atau tidak,” ujarnya.
Belakangan, dia pun baru menyadari bahwa surat penangkapan semestinya diberikan polisi, entah orang yang bersangkutan ditangkap selaku saksi, ataupun pelaku kejahatan. Namun, hingga kini, keluarga juga tidak menerima surat penangkapan atau pemberitahuan dalam bentuk apa pun dari polisi.
Arum pun meyakini suaminya, Indra, tidak bersalah. Sebab, sejauh ini, suaminya tidak memiliki aktivitas yang mencurigakan selain bekerja di bengkel. Kegiatan pengajian atau bertemu dengan teman-temannya hanya dilakukan sesekali waktu saja. “Teman-temannya juga hanya sebatas warga Kabupaten Temanggung,” ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Indaryati (22), warga Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, istri dari Aris. Menurut dia, suaminya adalah pria yang baik, bertanggung jawab, sangat menyayangi dirinya dan anak-anak.
Indaryati mengatakan, suaminya juga tidak pernah membawa teman-teman dengan wajah serupa Noordin M Top. “Selama ini, wajah Noordin M Top hanya saya lihat sebatas di poster atau baliho yang banyak tersebar di mana-mana,” ujarnya.
Indaryati yang memakai jilbab dan bercadar ini, saat ditemui, membatasi wartawan menanyakan lima pertanyaan saja. Selain itu, dia pun meminta agar setiap perkataannya tidak dipelintir karena, tanpa itu pun, keluarganya sering kali difitnah, disindir, dan dikait-kaitkan dengan kejahatan terorisme.
Utomo (61), ayah Aris dan Indra, berharap agar polisi segera memberikan kejelasan perihal status anaknya. Dia menyesalkan tindakan polisi yang menangkap kedua anaknya tanpa surat penangkapan. “Sampai sekarang, saya tidak tahu di mana anak-anak saya. Saya juga tidak tahu harus berbuat apa,” ungkap Utomo.
Related posts
Alasan untuk Meragukan Jenazah Itu Noordin
August 10, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Pengamat intelijen, Dinno Cressbon, meragukan jenazah yang berada di dalam ruang forensik Rumah Sakit Polri Dr Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, adalah jenazah gembong teroris kelas kakap Noordin M Top. “Analisa saya meragukan bahwa orang tersebut Noordin (M Top),” kata Dinno saat dihubungi wartawan lewat telepon, Jakarta, Minggu (9/8) sore.
Keraguan tersebut, diakui Dinno, bukanlah tanpa alasan karena, menurutnya, ciri lokasi tempat persembunyian orang yang mengaku Noordin M Top tersebut sangat berbeda dengan lokasi tempat persembunyian Noordin M Top sebelumnya.
“Pertama, lokasi persembunyiannya dikelilingi bukit yang sulit kabur, berbeda dengan 9 lokasi sebelumnya yang dekat dengan akses jalan dan laut. Jarang sekali Noordin mencari lokasi seperti di Temanggung,” ujarnya.
Lantas bagaimana dengan pengakuan orang tersebut yang mengaku sebagai Noordin M Top saat ditanya aparat kepolisian? Dinno menjawab, “Kesaksian orang itu adalah bernama Noordin itu tidak cukup,” katanya.
Tim Polisi Antiteror, Jumat (7/8) malam hingga Sabtu (8/8) pagi, mengepung sebuah rumah yang berada di Dusun Beji, Desa Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang berakhir dengan tewasnya seorang yang diduga merupakan gembong teroris Noordin M Top.
Dalam pengepungan yang disertai aksi baku tembak tersebut, aparat sempat menanyakan perihal identitas orang yang berada di dalam rumah, yang kemudian disambut dengan teriakan Noordin M Top. Hingga saat ini Mabes Polri belum dapat memastikan jenazah tersebut adalah Noordin M Top.
Related posts
Baasyir: Penyergapan Noordin M Top Sandiwara
August 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Kesuksesan Mabes Polri melakukan penyergapan terhadap gembong teroris Noordin M Top di sebuah rumah di Dusun Beji, Desa Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, masih dipertanyakan berbagai pihak. Pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Abu Bakar Baasyir menyebut penyergapan ini sebagai sandiwara belaka.
“Penyergapan yang dilakukan polisi di Temanggung merupakan skenario yang disusun rapih yang sengaja ditunjukkan oleh polisi,” kata Baasyir di kantor Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo, Sabtu (8/8/2009).
Pasalnya, lanjut Baasyir, selama ini rekayasa yang dibuat polisi dengan menciptakan sebuah nama sebagai dalang yang melakukan pengeboman, tidak pernah tertangkap.
Sehingga skenario itu sengaja dibuat agar terlihat kesungguhan kerja Polri, baik di dalam negeri maupun luar negeri dalam menuntaskan kasus teroris yang didalangi tokoh yang mereka ciptakan sendiri, yaitu Noordin M Top.
“Ini terlihat dari penyergapan yang berlebihan. Masa untuk menangkap satu orang saja, membutuhkan waktu 17 jam lamanya,” tukas Baasyir.
“Satu orang saja kalau dipentung kan kelenger. Masa harus mengerahkan segitu banyak untuk menangkap satu orang saja. Kelihatan sekali lah,” lanjutnya lagi.(Bramantyo/Trijaya/hri)
Related posts
Jika Bukan Noordin, Polri Harus Gandeng TNI
August 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung, Jawa Tengah belum dipastikan apakah jenazah Noordin M Top atau bukan. Jika bukan Noordin, apa yang harus dilakukan kepolisian untuk memburu Noordin M Top?
“Polri harus lebih giat dan intensif berkoordinasi dengan pasukan elit dari Angkatan Darat (AD),” kata Dynno Chressbon, pengamat intelijen dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (8/8/2009).
Menurut Dynno, Polisi selama ini sebagai pihak yang menyajikan fakta yuridis. Sedangkan fakta intelijen dilakukan oleh pasukan elite Detasemen (Den) 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD.
“Fakta intelijen biarlah dikejar oleh pasukan elit AD,” tambahnya.
Lebih lanjut Dynno menjelaskan, Densus 88 Polri sendiri hingga kini dipusatkan di 7 Kota. Sedangkan
Detasemen (Den) 81 TNI-AD ada di setiap Komando Daerah Militer (Kodam).
11 Kodam di Indonesia tersebut, yaitu Iskandar Muda, Bukit Barisan, Sriwijaya, Siliwangi, Kodam Jaya, Diponegoro, Wira Buana, Udayana, Tanjung Pura, Pattimura, dan Cendrawasih.
(nov/lrn)
Related posts
Keluarga Air dan Eko Berangkat ke Jakarta
August 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Keluarga Air Setyawan dan Eko Joko Sarjono, dua orang yang diduga sebagai anak buah Noordin M Top, berangkat ke Jakarta pada Sabtu malam (8/8).
Pada pemberitaan sebelumnya, Air Setyawan dan Eko Joko Sarjono tewas ditembak aparat Densus 88 Mabes Polri dalam sebuah penyergapan di Perumahan Puri Nusa Pala, RT 04/RW 12 blok D nomor 12, Kelurahan Jatiluhur Kecamatan Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu pagi (8/8). “Kepergian kami ke Jakarta ini untuk memastikan dua jenazah tersebut apakah benar merupakan putra-putra kami,” kata ayah Air Setyawan, Agus Purwanto di Solo.
Agus mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi dari kepolisian. Padahal, lanjutnya, pemilik mobil yang disewa oleh Air Setyawan sudah diperiksa Poltabes Surakarta. “Hal tersebut mendorong kami untuk segera memastikan identitas kedua jenazah yang diduga merupakan putra kami,” katanya.
Saat dihubungi melalui telepon, Agus Purwanto sedang dalam perjalanan, “Ini kami sudah berangkat menuju Jakarta,” katanya.
Dia mengatakan, pihak keluarga kedua korban berangkat ke Jakarta dengan menggunakan satu mobil. Selain berangkat bersama Slamet Widodo yang merupakan ayah Eko Joko Sarjono, Agus Purwanto mengatakan, pihak keluarga juga ditemani oleh seorang pengacara.
Related posts
Video Eksklusif Detik-Detik Penyerbuan Noordin M Top
August 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Related posts
Noordin M Top Bertahan Sendirian
August 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Buronan nomor satu di Indonesia, Noordin M Top diperkirakan bertahan sendirian di dalam rumah di dusun Beji, Temanggung. Menurut informasi yang dikumpulkan Kompas.com, di dalam rumah itu Noordin melengkapi diri dengan bom dan senjata.
Namun dalam laporan lain disebutkan juga, di dalam rumah itu juga ada seorang nenek dan tiga orang bocah. Hingga berita ini diturunkan belum ada informasi yang jelas, sebenarnya siapa saja yang berada di dalam rumah itu. Noordin seorang diri atau bersama orang lain.
Diperoleh informasi juga, warga yang menyaksikan penggerebekan rumah Muhzuhri tempat tinggal Noordin itu semakin banyak. Warga memenuhi jalan menuju ke rumah itu, sehingga menyulitkan petugas.
Sementara itu petugas Densus 88 menggunakan megapone mengimbau yang berdiam di dalam rumah yang sudah terkepung itu segera menyerahkan diri.
Related posts
Empat Ditangkap, M. Top Belum Pasti
August 7, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Sebanyak empat orang ditangkap dalam pengerebekan di sebuah rumah di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (7/8).
Wartawan Antara dari Desa Beji, Jumat malam melaporkan, tiga orang ditangkap secara bersamaan, yakni Hendra (23), Aris (33), dan Muhdaroni. Muhdaroni diketahui merupakan warga Dusun Siwur, Desa Karangtejo, Kedu. Selain itu, polisi juga menangkap Mohzahri, yang merupakan pemilik rumah itu.
Hendra dan Aris merupakan keponakan Mohzahri (70) pemilih rumah yang digerebek Densus 88 dan aparat kepolisian.
Rumah Mohzahri dikepung oleh tim Densus 88 dan aparat kepolisian sejak pukul 15:45 dan sekitar pukul 16:00 mulai terdengar tembakan sampai pukul 22:45.
Beredar informasi, rumah yang dikepung aparat keamanan itu dihuni Noordin M. Top dan beberapa orang, namun belum bisa dipastikan kebenarannya.
Hingga sekarang pengepungan masih dilakukan aparat dan ratusan penduduk yang berkerumun di lokasi kejadian dihalau hingga 300 meter dari rumah tersebut.



