Seorang Pria Bertapa sampai Mati

October 10, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Pria tak beridentitas yang diperkirakan seorang pertapa ditemukan tewas mengenaskan. Selain sudah membusuk, sebagian tubuhnya sudah tak berbentuk lagi karena dagingnya mengelupas.

Pria yang diperkirakan berusia 35 tahun itu ditemukan di tepi laut dan diduga sebagai pertapa karena ditemukan di bibir Goa Cina, yang berlokasi di tepi pantai selatan, Dusun Rowoterate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Diperkirakan, korban tewas akibat kelaparan setelah berhari-hari menjalani tirakat batin (pasa ngembleng/ tanpa makan dan minum).

AKP ZD Patty, Kapolsek Sumbermanjing Wetan, mengatakan, korban tak beridentitas. Seusai dievakuasi, mayat korban kini dibawa ke Kamar Mayat (KM) RSSA Malang.

“Kami belum bisa memastikan identitas korban. Selain dia tak beridentitas, tak ada petunjuk sama sekali untuk mengungkapnya. Yang bisa dikenali darinya, kemungkinan usianya sekitar 35 tahun dengan tinggi sekitar 160 cm,” kata Patty, Jumat (9/10).

Menurut Patty, jenazah itu ditemukan, Sapto Aji (63), nelayan setempat, Jumat (9/10) sekitar pukul 06.00 WIB, saat ia mencari ikan. Saat itulah ia mencium bau busuk yang semakin lama semakin menyengat. Karena penasaran, ia pun mencari sumber bau itu dan akhirnya menemukan mayat yang sudah tanpa bentuk itu.

Jenazah itu tidak berbaju dan sebagian tubuhnya sudah hancur. Kedua kaki jenazah itu sudah tinggal tulang tanpa daging, begitu juga kepalanya yang sudah terlihat tengkoraknya. Bagian yang utuh adalah badan dari dada hingga pantat. Di tempat ditemukannya mayat itu juga tidak ditemukan benda yang bisa membantu identifikasi korban.

Kuat dugaan, mayat itu adalah seorang pertapa yang mencari ilmu di Goa Cina. Goa itu langsung menghadap ke pantai selatan. Biasanya gua itu dimanfaatkan untuk bertapa oleh orang yang menjalani tirakat batin atau lelaku. Saat bertapa itu mungkin saking khusuknya tak terasa kalau air laut masuk ke gua hingga menyapu tubuhnya. Kemungkinan lainnya, dia kelaparan hingga meninggal dunia. Tubuhnya kemudian tersapu ombak dan keluar ke bibir gua. st12

sumber

Related posts

Ternyata Mozart Mati Bukan karena Diracun

August 19, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Wolfgang Amadeus Mozart, komposer, berusia 35 tahun, meninggal pada 5 Desember 1791, dan satu surat kabar Berlin, Jerman, memerlukan waktu satu pekan untuk mengumumkan bahwa ia telah diracuni.

Penyebab sesungguhnya kematian Mozart, menurut satu studi baru, mungkin telah disebabkan oleh sesuatu yang lebih sederhana: infeksi tenggorokan yang disebabkan bakteri streptokokus.

Kini beberapa peneliti yang menulis di dalam The Annals of Internal Medicine, terbitan Selasa, telah melakukan analisis epidemiologi yang menyatakan ia adalah korban infeksi wabah streptokokus.

Kematian secara rutin dicatat di Wina pada Abad 18, tapi para dokter tak diharuskan menyebutkan penyebabnya, yang biasanya diberikan oleh keluarga atau penulis yang melakukan pekerjaan menulis.

Semua catatan itu telah bertahan hingga sekarang, dan para peneliti memanfaatkannya untuk menyelidiki pola kematian selama beberapa bulan seputar penyakit yang merenggut nyawa Mozart—November dan Desember 1791 dan Januari 1792—dan membandingkannya dengan pola pada masa yang sama beberapa tahun sebelum dan sesudahnya.

Para ilmuwan menemukan 5.011 kematian orang yang berusia 18 tahun dan lebih selama sembilan bulan. Penyebab yang paling umum ialah tuberkulosis, kekurangan gizi, edema (pembengkakan jaringan di bawah kulit), penyakit gastrointestinal dan penyakit cerebrovascular, gangguan pembuluh darah yang mengakibatkan stroke.

Tetapi pada musim dingin 1791-92, edema adalah satu-satunya penyebab yang memperlihatkan peningkatan peristiwa di kalangan pemuda dibandingkan dengan beberapa tahun lain sehingga menunjukkan adanya wabah kecil penyakit menular.

Edema juga berkaitan dengan penyakit jantung dan ginjal kronis tertentu, tapi penyakit yang diderita Mozart menyerang secara tiba-tiba.

Selain edema, Mozart mengalami tidak enak badan, nyeri punggung dan bintik merah pada kulit, semua gejala infeksi streptokokus.

“Streptokokus kadangkala diikuti oleh penyakit ginjal akut yang disebut glomerulonephritis, yang menjelaskan pembengkakan parah yang dialami oleh saudari ipar Mozart,” kata Dr Richard HC Zegers, ahli ophthalmologi di University of Amsterdam, pemimpin penulis studi itu.

sumber

Related posts