Afrika Asal Suku Bangsa Asia
December 14, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Studi besar yang memetakan genetik populasi bangsa Asia menghasilkan data genom yang fundamental dalam pemahaman asal usul bangsa Asia. Salah satunya, pola migrasi manusia ke Asia yang melahirkan berbagai suku bangsa.
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Dr Sangkot Marzuki dalam jumpa pers terkait dengan sosialisasi hasil penelitian itu mengatakan, untuk pertama kalinya lebih dari 90 ilmuwan dari Konsorsium Pan-Asian SNP (Single Nucleotide Polymorphisms) yang dinaungi oleh Human Genome Organisation (Hugo) mengadakan studi lebih luas mencakup 73 populasi di Asia Tenggara dan Asia Timur. Sepuluh negara Asia yang terlibat ialah Jepang, Korea, China, Taiwan, Singapura, Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan India.
Studi tersebut menggunakan sekitar 2.000 sampel dengan 50.000 marka (titik data) per sampel dari 73 populasi di Asia. Penelitian yang dilakukan konsorsium itu didasari pada keinginan melihat detail melalui model urutan sekuen deoxyribonucleic acid (DNA). Hasil studi itu telah diterbitkan dalam artikel majalah Science. Sebelumnya ada studi-studi yang mirip, tetapi populasinya relatif minim.
Sangkot mengatakan, dari penelitian itu antara lain terungkap pola migrasi ”nenek moyang” bangsa Asia.
Studi itu menunjukkan, pada masa lalu terdapat satu jalur utama migrasi manusia ke Asia, yakni melalui Asia Tenggara. Ia melanjutkan, setelah keluar dari Afrika 150.000-200.000 tahun lalu, mereka singgah di Asia Tenggara sekitar 60.000 tahun lalu, kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia.
”Asia Tenggara merupakan lokasi bersama nenek moyang bangsa Asia,” lanjutnya. Itu menunjukkan, Asia Tenggara sumber geografis utama dari populasi Asia Timur dan Asia Utara.
Sangkot mengatakan, data geografis, bahasa, dan genetik memperjelas perlunya stratifikasi genetik dalam melaksanakan studi genetik dan farmakogenomik di Benua Asia.
Kesehatan
Sangkot menambahkan, pemetaan itu sangat penting terkait dengan hubungan antara pola migrasi, genetik, dan penyakit. Untuk negara kepulauan seperti Indonesia, dengan lebih dari 500 etnik, data tersebut sangat mendasar dalam pendekatan kesehatan masyarakat dan penelitian distribusi penyakit.
Distribusi penyakit berhubungan dengan distribusi penduduk dan genetik. Data dasar itu dapat digunakan untuk pencarian penyakit dan kecenderungan-kecenderungannya terkait dengan genetik. Selama migrasi manusia, terjadi perubahan dalam tubuh seiring dengan perubahan pola makan, kondisi lingkungan, dan aktivitas.
Data fundamental tersebut juga sangat berguna dalam penelitian farmakogenetik. Terdapat kemungkinan obat bekerja dengan cara yang berbeda pada populasi yang berbeda. (INE)
Related posts
Studi: Manusia Tak Berevolusi Dari Kera
October 8, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.
Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, “kera darat” kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, dibeberkan di dalam jurnal “Science” terbitan Jumat (2/10).
Sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua, jurnal itu juga berisi 11 berkas mengenai temuan tersebut.
Fosil itu, yang diberi nama panggilan “Ardi”, adalah kerangka paling tua yang dikenal dari cabang manusia dari pohon keluarga primata. Cabang tersebut meliputi Homosapiens serta spesies yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan kera dan bonobo.
Temuan itu memberi pengertian baru mengenai bagaimana “hominid” –keluarga “kera besar” yang terdiri atas manusia, simpanse, gorila dan orang-utan– mungkin telah muncul dari satu nenek moyang monyet.
Sampai ditemukannya “Ardi”, tahap paling awal yang diketahui mengenai evolusi manusia adalah “Australopithecus”, “manusia kera” yang berotak kecil dan sepenuhnya berkaki dua yang hidup antara empat juta dan satu juta tahun lalu.
Fosil “Australopithecus” yang paling terkenal adalah “Lucy”, yang berumur dari 3,2 juta tahun, yang namaya diambil dari lagu Beatles “Lucy in the Sky with Diamonds”. “Lucy” ditemukan pada 1974 di tempat sekitar 45 mil dari tempat “Ardi” belakangan ditemukan.
Kerangka “Ardi” dan kerangka “Ardipithecus ramidus”, yang berkaitan, lebih tua dan lebih primitif dibandingkan dengan “Australopithecus”.
Setelah temuan “Lucy”, ada perkiraan bahwa ketika kerangka “hominid” terdahulu ditemukan, semua itu akan berkumpul jadi anatomi mirip simpanse, berdasarkan kesamaan genetika manusia dan kera. Namun fosil “Ardipithecus ramidus” tidak mendukung dugaan itu.
Kerangka “Ardi” cukup lengkap –tengkorak, gigi, tulang panggul, kaki, paha, lengan dan tangan– untuk memperkirakan tinggi dan berat tubuhnya. “Ardi” berjalan dengan dua kaki di tanah, tapi memanjat pohon dan juga menghabiskan waktu mereka di sana, dan barangkali adalah pemangsa segala.
Sesuatu yang mengejutkan ialah “Ardi” dan temannya tidak memiliki bagian tubuh seperti kera atau gorila, tapi lebih mirip dengan kera yang punah atau bahkan monyet, dan kedua tangannya juga tidak mirip tangan simpanse atau gorila, tapi lebih berkaitan dengan kera yang punah sebelumnya.
Banyak ilmuwan mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa “hominid” dan kera afrika, masing-masing, memiliki jalur evolusi yang berbeda, dan “kita tak lagi dapt menganggap kera sebagai `wali` bagi nenek moyang terakhir bersama kita”.
“Temuan (Charles) Darwin sangat bijaksana mengenai masalah ini,” kata Tim White dari University of California Berkeley, yang membantu memimpin tim penelitian tersebut.
“Darwin mengatakan kita harus benar-benar berhati-hati. Satu-satunya cara kita akan mengetahui seperti apa nenek moyang terakhir bersama ini dan menemukannya. Yah, pada 4,4 juta tahun lalu, kita menemukan sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Dan, persis seperti Darwin menghargai evolusi garis kera dan garis manusia telah berjalan secara terpisah sejak jalur itu terpisah, sejak nenek moyang terakhri bersama yang kita miliki,” kata White.
Related posts
Kisah Persahabatan Buaya dan Manusia di Costa Rica
August 17, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita, Otomotif Kita

Kalau dalam cerita Babad Tanah Jawi, Jaka Tingkir yang bergelar Raden Adiwijaya berhasil mengalahkan buaya-buaya dalam pertempuran sengit di sebuah sungai, Chito, nelayan asal Costa Rica ini tidak kalah hebat.

Buaya bernama Pocho sepanjang 5,18 m (17 kaki) setiap hari harus digauli, digelutinya. Pria usia 52 tahun ini mesti bergulat dengan buaya seberat 444 kilogram hanya untuk memberi cinta. “Pocho adalah teman baikku. Ini merupakan permainan rutin yang berbahaya, tetapi semua ini demi meningkatkan hubungan kami. Dia akan memandang mataku dan tak akan menyerangku. Tentu ini bakal berbahaya bagi orang lain. Ini hanya untuk kami berdua,” jelas Chito.

Chito mulai berteman dengan Pocho setelah buaya ini ditemukan terluka akibat tembakan seorang petani di Sungai Parismina di negara bagian Amerika Tengah 20 tahun lalu. Dia tertembak di sebelah kiri matanya dan nyaris mati.
Namun Chito berhasil menyelamatkannya dan memasukkannya ke perahunya. “Saat kutemukan, Pocho sedang sekarat, aku membawanya langsung ke rumah. Saat itu kira-kira 68 kilogram beratnya. Saya beri dia ayam dan ikan serta obat selama enam bulan sampai sembuh. Saya juga selalu berada di samping Pocho, tidur dekatnya di malam hari. Saya hanya ingin agar dia merasa bahwa seseorang mencintainya dan tidak menganggap semua manusia jahat.”
Pocho tidak begitu saja dekat dengan Chito. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai kedekatan ini dan pelan-pelan. Saat nyaris sembuh, Pocho sempat ditinggalkan di sebuah sungai di dekat rumah Chito. Tapi, Pocho muncul dari air dan mengikuti Chito. “Saya mencintai semua binatang, terutama yang menderita sakit.” jelas Chito.
Saat ini Pocho dan Chito yang bernama asli Gilberto Shedden dan digelari “Tarzan Tico” menjadi tontonan menarik para wisatawan yang ingin melihat atraksi sungai. Keduanya telah menjadi sahabat dan menghibur banyak orang di Costa Rica.
Related posts
Kisah Persahabatan Buaya dan Manusia di Costa Rica
August 17, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Comments Off

Kalau dalam cerita Babad Tanah Jawi, Jaka Tingkir yang bergelar Raden Adiwijaya berhasil mengalahkan buaya-buaya dalam pertempuran sengit di sebuah sungai, Chito, nelayan asal Costa Rica ini tidak kalah hebat.

Buaya bernama Pocho sepanjang 5,18 m (17 kaki) setiap hari harus digauli, digelutinya. Pria usia 52 tahun ini mesti bergulat dengan buaya seberat 444 kilogram hanya untuk memberi cinta. “Pocho adalah teman baikku. Ini merupakan permainan rutin yang berbahaya, tetapi semua ini demi meningkatkan hubungan kami. Dia akan memandang mataku dan tak akan menyerangku. Tentu ini bakal berbahaya bagi orang lain. Ini hanya untuk kami berdua,” jelas Chito.
Chito mulai berteman dengan Pocho setelah buaya ini ditemukan terluka akibat tembakan seorang petani di Sungai Parismina di negara bagian Amerika Tengah 20 tahun lalu. Dia tertembak di sebelah kiri matanya dan nyaris mati.

Namun Chito berhasil menyelamatkannya dan memasukkannya ke perahunya. “Saat kutemukan, Pocho sedang sekarat, aku membawanya langsung ke rumah. Saat itu kira-kira 68 kilogram beratnya. Saya beri dia ayam dan ikan serta obat selama enam bulan sampai sembuh. Saya juga selalu berada di samping Pocho, tidur dekatnya di malam hari. Saya hanya ingin agar dia merasa bahwa seseorang mencintainya dan tidak menganggap semua manusia jahat.”
Pocho tidak begitu saja dekat dengan Chito. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai kedekatan ini dan pelan-pelan. Saat nyaris sembuh, Pocho sempat ditinggalkan di sebuah sungai di dekat rumah Chito. Tapi, Pocho muncul dari air dan mengikuti Chito. “Saya mencintai semua binatang, terutama yang menderita sakit.” jelas Chito.
Saat ini Pocho dan Chito yang bernama asli Gilberto Shedden dan digelari “Tarzan Tico” menjadi tontonan menarik para wisatawan yang ingin melihat atraksi sungai. Keduanya telah menjadi sahabat dan menghibur banyak orang di Costa Rica.



