Situs Web Indonesia Lebih Berbahaya dari Malaysia

December 5, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Situs-situs web yang berdomain di Indonesia (.id) bukan yang paling aman di kawasan Asia Tenggara. Domain .id ternyata lebih berbahaya dibandingkan domain dari Malaysia (.my).

Demikian hasil riset terbaru yang dilakukan McAfee bertajuk Mapping the Mal Web. Dalam laporan tersebut, domain Indonesia secara umum berada di peringkat ke-56 dunia. Tingkat risiko serangan malware terhadap situs-situs web .id sekitar 0,6 persen. Sementara itu, situs-situs web Malaysia ada di peringkat ke-80 dengan tingkat risiko serangan 0,3 persen.

“Sebagian besar web relatif aman untuk dikunjungi, tetapi beberapa di antaranya mengandung risiko, apakah yang datang dalam bentuk yang relatif ringan seperti pop up, atau sesuatu yang lebih berbahaya, seperti malware yang memberikan akses kepada hacker untuk “melihat” segala sesuatu yang Anda ketik,” demikian McAfee.

Dari 7 negara Asia Tenggara yang diteliti, Filipina berada di urutan teratas. Mereka bahkan menembus Top 10 dunia karena ada di urutan ke-6. Tingkat risiko domain situs Filipina mencapai 13,1 persen. Setelah Filipina, menyusul Singapura, Laos, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Malaysia.

Berikut daftar domain web paling berbahaya di Asia Tenggara:
1. Filipina (.ph) - 13,1 persen.
2. Singapura (.sg) - 4,6 persen.
3. Laos (.la) - 1,6 persen.
4. Thailand (.th) - 1,1 persen.
5. Vietnam (.vn) - 0,9 persen
6. Indonesia (.id) - 0,6 persen.
7. Malaysia (.my) - 0,3 persen.

sumber

Related posts

Soal Batik, Malaysia Sampaikan Selamat Kepada Indonesia

October 5, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Delegasi asal Malaysia menyampaikan ucapan selamat secara khusus kepada Indonesia sesaat setelah pengukuhan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

“Delegasi Malaysia yang belum menjadi delegasi resmi di UNESCO datang ke Abu Dhabi dan memberi selamat setelah batik dikukuhkan sebagai warisan budaya Indonesia,” kata mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik sesaat setelah dilantik menjadi anggota MPR RI di Gedung Nusantara Senayan, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, dirinya secara khusus mendapatkan informasi tersebut dari delegasi Indonesia yang dipimpin pejabat dari Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.

Jumat pagi ini, UNESCO dilaporkan telah mengetuk palu pengukuhan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

UNESCO dengan 114 negara delegasinya sudah mengetuk palu pengukuhan batik,” katanya.

Soal ucapan selamat dari delegasi Malaysia, ia secara pribadi menyatakan gembira dan bangga.

Jero Wacik mengaku akan terus melanjutkan perjuangannya dalam hal pariwisata dan budaya meskipun tidak lagi menjabat sebagai menteri nantinya.

“Kita harus tetap berjuang, di manapun tempatnya termasuk memperjuangkan batik ini,” katanya.

Ia secara khusus mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menggunakan batik dalam berbagai kesempatan.

Selain batik, Wacik mengaku akan terus mengawal sejumlah karya budaya masterpiece (karya agung) asal Indonesia untuk juga dikukuhkan di UNESCO.

“Selain batik, sekarang kita sedang memroses angklung dan gamelan,” katanya.

Keris telah lebih dulu dikukuhkan UNESCO pada 2005 dan wayang pun demikian pada 2003.

“Kita akan pilih karya yang menasional dan mendaftarkannya ke UNESCO,” katanya.

Namun, ia menegaskan bangsa Indonesia harus juga mengapresiasi karya-karya tersebut.

Rencananya, Jumat malam (2/10) pemerintah akan mendeklarasikan secara resmi pengukuhan batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.(*)

Related posts

Discovery Akan Produksi Program Khusus Tari Pendet

September 11, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Sejak mengemuka, sekitar dua minggu lalu, persoalan gambar Tari Pendet yang diputar selama 30 detik dalam video klip promosi yang diproduksi untuk Discovery Channel dalam rangka mempromosikan serial Enigmatic Malaysia (Keragaman Malaysia) hingga kini belum jelas benar. Situasi hubungan Indonesia-Malaysia justru menegang.

“Kami sangat prihatin dengan perkembangan terakhir di Jakarta seputar kesalahpahaman ini dan ingin menyampaikan kembali bahwa kesalahan penggunaan gambar Tari Pendet dalam video promosi tersebut tidaklah mengandung maksud buruk untuk merendahkan kebudayaan Indonesia; kejadian ini merupakan kesalahan manusia atau human error yang dilakukan oleh produser independen, dimana dalam hal ini Discovery Networks bertanggung jawab atasnya,” ungkap Kevin Dickie, Senior Vice President, General Manager Discovery Southeast Asia dalam suratnya kepada Kompas.com, di Jakarta, Jumat (10/9).

Program yang dipromosikan oleh video klip tersebut, yaitu Enigmatic Malaysia, menurut Kevin tidak menampilkan gambar-gambar yang salah dan seluruhnya akurat.

Namun, jelas Kevin, gambar Tari Pendet yang dengan salah telah turut masuk ke dalam video promosi, bersumber dari dokumentasi produser independen dan bukan berasal dari program itu sendiri.

Kevin juga menyampaikan bahwa dalam hal ini Badan Kepariwisataan Malaysia (Malaysia Tourism Board) ataupun badan pemerintahan Malaysia lainnya, sama sekali tidak terlibat dalam proses produksi video promosi tersebut.

Karena itu, sebagai langkah lanjut, Discovery akan memproduksi program khusus sepanjang 30 menit tentang Tari Pendet yang akan ditayangkan di Discovery Channel di seluruh kawasan Asia Pasifik.

“Sebagai perusahaan, kami tetap berkomitmen untuk membuat program-program menarik seputar kekayaan kebudayaan Asia Tenggara yang menakjubkan, dan kami berharap situasi ini dapat berujung pada kajian dan pemahaman yang lebih baik akan kekayaan budaya Indonesia dan Malaysia,” jelas Kevin.

ABD

sumber

Related posts

Malaysia Tak Akan Balas “Sweeping” WNI

September 10, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Menteri Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Rais Yatim mengatakan, pemerintah dan rakyat Malaysia tidak akan melakukan demonstrasi di KBRI Kuala Lumpur sebagai balasan demontrasi di Kedutaan Malaysia dan di sejumlah kota lain di Indonesia.

“Walaupun bendera Malaysia dibakar, kedutaan kami dilempari telur dan batu, kami tidak akan membalas terhadap Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur,” kata Rais Yatim didampingi Dubes RI untuk Malaysia Da`i Bachtiar di Kuala Lumpur, Rabu (9/9).

Menteri Rais Yatim, yang masa kecilnya sempat dihabiskan di Sawahlunto, Sumatera Barat, Selasa kemarin, mengadakan acara buka bersama dengan karyawan Radio Televisi Malaysia (RTM) di gedung RTM.

Ia mengundang Dubes RI Da`i Bachtiar dan para wartawan Indonesia di Malaysia untuk mendinginkan suasana akibat pemberitaan pers Indonesia yang menuduh Malaysia mengklaim beberapa kesenian dan kebudayaan Indonesia yang akhirnya menimbulkan kemarahan dan demonstrasi di Kedubes Malaysia Jakarta dan beberapa kota.

“Kami tidak mau membalas demo dengan demo karena Malaysia memang ingin menjalin terus hubungan baik dengan Indonesia sebagai negara tetangga dan serumpun. Indonesia dan Malaysia adalah pendiri ASEAN yang kini punya cita-cita sama, yakni terciptanya masyarakat ASEAN,” katanya.

Ia menegaskan, tuduhan pers Indonesia bahwa Malaysia mengklaim tari pendet, batik, lagu “Rasa Sayange”, reog, mengklaim Pulau Jemur, serta tuduhan macam-macam lainnya adalah tidak benar.

“Tuduhan itu tidak benar. Akibat tuduhan itu menimbulkan kebencian rakyat Indonesia pada Malaysia dan menimbulkan berbagai demonstrasi, namun tidak akan dibalas di Malaysia,” katanya.

Rakyat Malaysia ada yang keturunan Aceh, Sumatera Barat, Mandailing, Riau, Jambi, Palembang, Jawa, dan Bugis. “Mereka datang ke Malaysia dan meneruskan kebudayaan mereka dari Indonesia. Apakah salah mereka melestarikan kebudayaan Indonesia. Dan kami tidak pernah mengklaim itu kebudayaan Malaysia,” tambah dia.

Begitu juga dengan rakyat Malaysia keturunan China dan India, yang menurut Rais Yatim, masih melestarikan bahasa, budaya, kesenian, dan lagu-lagu dari China dan India, tetapi kedua negara itu tidak pernah protes.

“Kami tahu bahwa begitu banyak rakyat Indonesia di Malaysia, mencari nafkah, belajar, melancong, saya jamin mereka akan aman di Malaysia,” janji Rais Yatim.

Selain itu, Rais Yatim juga mengatakan akan bekerja sama erat dengan KBRI untuk mengadakan inter media dialog antara pers Indonesia dan Malaysia.

Tahap pertama, pers Malaysia akan diundang ke Jakarta, kemudian dibalas dengan mengundang pers Indonesia ke Malaysia. “Selain itu, akan dilakukan pengiriman tim kesenian ke Indonesia dan mengundang tim kesenian Indonesia di Malaysia untuk saling mengenal kesenian negara tetangga,” katanya.

Da’i malu

Dubes Da`i Bachtiar ketika ditanya mengaku merasa malu dengan sikap rakyat Indonesia bila dibandingkan dengan sikap pemerintah dan rakyat Malaysia dalam menangani berbagai isu klaim kebudayaan.

“Kita malu karena semua tuduhan bahwa Malaysia mengklaim budaya kita itu tidak benar,” katanya.

Seperti diketahui, sejumlah pers di Malaysia juga memberitakan unjuk rasa anti-Malaysia di Indonesia. Padahal, unjuk rasa itu hanya dilakukan segelintir orang dan tidak mencerminkan sikap seluruh bangsa Indonesia.

Utusan Malaysia di halaman satu menurunkan berita yang cukup bijak dengan mewawancarai warga Indonesia dari Riau, Sumatera Utara, Dumai, dan Sulawesi yang mengatakan bahwa yang demo anti-Malaysia hanyalah dilakukan oleh segelintir orang.

Oleh sebab itu, janganlah hal tersebut terlalu dianggap serius karena tidak mewakili sikap rakyat Indonesia secara keseluruhan. Mereka mengatakan, memang faktanya Indonesia dan Malaysia adalah negara tetangga dan serumpun.

sumber

Related posts

Minangkabau, Tujuan Favorit Turis Malaysia

September 7, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui Bandara Udara (Bandara) Minangkabau Padang, Sumatera Barat, pada Juli 2009 sebesar 6.872 orang atau naik 101,56 persen dibanding periode yang sama tahun 2008.

Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan (P2DSJ) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebutkan, dari jumlah itu, sebanyak 4.991 orang atau 73 persen merupakan wisatawan asal Malaysia.

Selain wisman Malaysia, turis berkebangsaan Singapura, Australia, dan Amerika Serikat cukup banyak yang masuk melalui Bandara Minangkabau. Jumlah masing-masing mencapai 557 orang, 157 orang, dan 118 orang.

Sementara itu, sepanjang Januari-Juli 2009, jumlah kunjungan wisman yang masuk melalui Bandara Minangkabau mencapai 36.287 orang atau terjadi kenaikan 81,49 persen dibanding periode yang sama tahun 2008. Dari jumlah kunjungan wisman tersebut, sejumlah 70 persen atau 25.520 orang adalah turis Malaysia.

Tingginya jumlah kunjungan wisman Malaysia ke Sumbar tersebut, selain karena faktor kedekatan hubungan budaya, sejarah maupun mudahnya aksesibilitas terutama transportasi udara dari kota-kota besar di Malaysia ke Minangkabau, juga karena gencarnya promosi pariwisata ke negeri jiran.

Depbudpar bersama para pelaku bisnis pariwisata termasuk maskapai penerbangan belakangan ini menggencarkan promosi paket wisata “Pulang Basamo” ke Malaysia dan Singapura. Pada musim liburan panjang seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta Natal dan Tahun Baru, banyak wisatawan dari Malaysia dan Singapura berlibur ke Sumbar.

MBK

sumber

Related posts

Malaysia Tenggelam dalam Krisis Identitas

September 6, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Direktur Jenderal (Dirjen) Asean Departemen Luar Negeri (Deplu) Indonesia, Djauhari Oratmangun, menegaskan, Malaysia saat ini sedang mengalami krisis identitas.

“Malaysia sedang mengalami krisis identitas dan sedang dalam proses mencari jati diri,” kata Dirjen Oratmangun, saat dikonfirmasi menyangkut klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, di Ambon, Sabtu (5/9).

Oratmangun yang berada di Ambon sejak Rabu (3/9) dalam rangka melakukan serangkaian pertemuan dengan Pemprov Maluku dan Pemkot Ambon, mengatakan 50 persen penduduk di Malaysia adalah keturunan Melayu dan sisanya dari China dan India. Ia menegaskan, orang Melayu saat ini sedang mencari identitas dirinya.

“Suka atau tidak suka, 50 persen orang Malaysia adalah keturunan Indonesia dan mereka membawa budaya itu ke sana,” kata Oratmangun.

Begitu pun tari reog Ponorogo yang pernah menjadi masalah di Malaysia, sebenarnya juga diperkenalkan dan ditarikan oleh orang Ponorogo yang sudah bermukim di sana selama tiga generasi. Khusus tari pendet dari Bali yang diklaim sebagai kebudayaan Malaysia, Djauhari menerangkan, iklan tersebut diproduksi untuk promosi wisata negara itu, tetapi saat diproduksi tidak ada tari pendet.

Namun, Discovery Chanel yang menayangkan iklan tersebut kemudian menambahkan tari itu dalam iklannya.
“Kesalahannya adalah Discovery tidak menyebutkan bahwa tari pendet berasal dari Indonesia,” kata Oratmangun.

Ia menegaskan Pemerintah Indonesia sudah mengirim surat protes yang diakui sebagai produk hukum internasional kepada Pemerintah Malaysia dan telah diterima.

“Mereka telah menerima klaim kalau itu (tari pendet) adalah milik kita. Penyelesaian secara diplomasi telah kita lakukan dan itu sudah cukup, apalagi Presiden Susilo Bambang Yudyohono juga telah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Malaysia,” ujarnya.

Lagi pula, kata Djauhari, Malaysia tidak pernah mengklaim secara resmi bahwa tari pendet adalah milik Malaysia, dan itu hanya klaim di internet. Djauhari Oratmangun meminta seluruh masyarakat Indonesia menilai persoalan ini secara positif bahwa produk budaya Indonesia ternyata sangat laku dijual.

“Ini membuktikan budaya kita sangat kuat dan terkenal di dunia internasional. Kelemahan orang Indonesia adalah jarang memelihara budayanya dan baru akan protes jika pihak luar mengklaim suatu produk budaya kita sebagai budaya mereka,” katanya

Dia juga menyesalkan sikap media di Indonesia yang ramai memberitakan aksi protes terhadap budaya Indonesia yang diklaim negara tetangga, termasuk mempengaruhi masyarakat untuk melakukan ganyang terhadap negara tetangga itu.

Dia meminta media di tanah air lebih arif dan bijaksana memberikan masalah ini, mengingat presentase berita seni dan budaya di Indonesia di media nasional sangat jarang dimuat atau diulas secara luas. “Program acara atau berita untuk reservasi budaya kita sangat kurang di media nasional. Tetapi kalau budaya asing banyak,” katanya.

sumber

Related posts

Senyum Indonesia Diragukan oleh Malaysia

September 4, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Hasil survei The Smiling Report Swedia pada 2009 yang menyebutkan Indonesia merupakan negara yang paling murah senyum sepertinya harus dikaji ulang. Karena faktanya “wajah” Indonesia masih tercitra masam di kalangan turis asing.

Norah Binti Jelani, Supervisor Muslim Department Malaysian Harmony Tour & Travel S/B, mengatakan, jangankan diberi senyum, sukses melewati birokrasi untuk masuk ke Indonesia dengan mudah saja, dianggapnya sebagai prestasi luar biasa. Norah yang juga berprofesi sebagai tour leader mengaku kerap dihadapkan pada birokrasi berbelit di sejumlah titik dalam kaitannya memandu wisatawan asal Malaysia ke Indonesia.

“Satu senyum saja sudah cukup buat kami, karena kami datang ke Indonesia untuk melancong,” katanya. Norah mengatakan, agen perjalanan yang ditanganinya menempatkan Indonesia sebagai destinasi utama dengan tingkat frekuensi/repetisi berwisata yang tinggi.

Sementara itu, Akil Yusof, Managing Director Triways Travel Network Malaysia, meminta dengan sangat, senyum masyarakat di tanah air untuk menghibur para kliennya yang melancong ke Indonesia. “Dan yang terpenting jangan memperlakukan kami seperti pelaku kriminal khususnya pada layanan imigrasi,” katanya.

Akil sangat menyayangkan sikap oknum dan sejumlah masyarakat di Indonesia yang tidak memberikan sambutan baik kepada turis mancanegara khususnya dari Malaysia.

Destinasi favorit

Pada dasarnya, Indonesia masih tetap merupakan destinasi terfavorit bagi masyarakat di sejumlah negara bahkan setelah terjadi peledakan bom di Mega Kuningan baru-baru ini. Bagi Malaysia, misalnya, Indonesia tetap favorit untuk dilancongi meskipun belakangan ini juga marak pemberitaan tentang isu klaim Malaysia atas kesenian Indonesia termasuk Tari Pendet.

Gary Oh yang berprofesi sebagai World Business Development Manager dari Travel Services Sdn Bhd di Malaysia bahkan berani menekankan, Indonesia tetap tujuan wisata masyarakat Malaysia yang utama meskipun hubungan kedua negara sedikit memanas dengan konflik-konflik kecil yang timbul belakangan ini.

“Itu tidak memberikan efek signifikan karena Indonesia adalah destinasi tradisional kami,” katanya. Berwisata ke Indonesia, menurut Gary, berarti “value for money” dibandingkan dengan besarnya ringgit yang harus dibelanjakan untuk melancongi Singapura. Thailand sebagai alternatif lain saat ini masih dinilai belum stabil secara politik dan keamanan.

Jadi Indonesia, di mata masyarakat Malaysia, merupakan destinasi wisata yang menarik dengan biaya yang murah, kultur yang serumpun, dan kuliner yang mirip. Malaysia hanya satu cermin di negara-negara tetangga lain, Singapura misalnya, menempatkan Indonesia sebagai primadona pariwisata masyarakat mereka.

Dua negara itu dari tahun ke tahun menjadi penyumbang jumlah wisman terbanyak ke Indonesia. Singapura pada 2008 mengkontribusi 1,197 wisman ke Indonesia sedangkan turis asal Malaysia yang melancong ke Indonesia sebesar 864.000 wisman. Indonesia juga terbukti menjadi favorit bagi masyarakat di negara lain seperti Jepang, Korea, Australia, China, Eropa, Filipina, India, dan Saudi Arabia. Negara-negara itu menjadi 10 besar penyumbang jumlah wisman terbanyak ke Indonesia dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu sudah saatnya mengingatkan kembali masyarakat di tanah air untuk mengamalkan senyum sebagai salah satu komponen Sapta Pesona; ramah tamah. Apalagi sektor pariwisata tergolong segmen yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan nasional. Tahun lalu saja lebih dari Rp200 triliun sukses diraup dari sektor pelancongan.

Saatnya dibenahi

Senyum adalah harga mati dalam dunia pariwisata. Senyum melambangkan pelayanan prima dan profesionalitas yang kondusif bagi wisman. Senyum sekaligus menjadi simbol penerimaan yang memberikan rasa aman bagi turis asing. Akil Yusof yang sempat menjabat sebagai Country Manager Visit Indonesia Tourism Office (Vito) untuk Malaysia berpendapat, dengan tersenyum Indonesia akan memiliki modal untuk membenahi pelayanan pariwisata yang dinilainya sampai saat ini belum optimal.

“Selain servis, Anda juga harus segera membenahi infrastruktur agar sektor pariwisata maju,” katanya. Indonesia juga dinilai belum memiliki variasi obyek wisata pada destinasi-destinasinya. Sisi hospotality, logistik, dan keamanan menjadi pekerjaan rumah yang lain bagi pariwisata tanah air.

Direktur Promosi Internasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, I Gde Pitana, mengatakan, memiliki pengalaman tersendiri dimana ia secara khusus pernah ditugaskan untuk “mengajarkan” masyarakat di Sumatera Utara untuk “tersenyum”. Menurut dia, pelayanan dengan senyum tidak menjadi budaya bagi masyarakat di wilayah itu. Ia menghadapi kesulitan tersendiri untuk membuat orang Batak senyum saat menyajikan kopi pesanan wisatawan, misalnya.

“Masing-masing daerah di Indonesia memang memiliki kekhasan dan keunikan,” katanya. Oleh karena itu, katanya, ada budaya-budaya termasuk kebiasaan tertentu yang harus diubah menjadi lebih baik.

“Tidak harus budaya dilestarikan kalau tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan,” katanya. Masih menjadi pekerjaan rumah bagi pihaknya dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Indonesia selalu tersenyum pada wisman.

Karena pada dasarnya semua kesuksesan berawal dari sebuah senyuman yang ikhlas. Jadi, Indonesia, kami minta satu senyum saja untuk pariwisata yang maju.

JIM

sumber

Related posts

Kementrian Kebudayaan Malaysia Terima Nota Protes Indonesia

September 4, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Kementerian Penerangan dan Kebudayaan Malaysia telah menerima nota protes dari Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia Jero Wacik yang disampaikan melalui Dubes RI untuk Malaysia Da’i Bachtiar di Kuala Lumpur, Kamis.

“Saya baru serahkan nota protes ke Menteri Rais Yatim. Masih ada satu surat lagi untuk kementerian Pelancongan Malaysia belum diserahkan karena belum ada waktu untuk bisa bertemu,” kata Da’i di sela-sela buka puasa bersama dengan sekitar 400 TKI di KBRI, Kuala Lumpur.

Dalam pembicaraan dengan Rais Yatim, mantan Kapolri itu mengajak Rais Yatim membicarakan ke depan agar keributan dua negara bertetangga dan serumpun ini soal klaim dan tuduhan mencuri kebudayaan tidak lagi terulang.

Pada kesempatan itu, Menteri Kebudayaan Malaysia menanyakan tentang pers Indonesia yang selalu provokatif dan menanamkan kebencian terhadap Malaysia.

Malaysia seperti yang diungkapkan Rais yatim berkeinginan untuk mengundang pers Indonesia ke Malaysia agar bisa melihat persoalan dalam perspektif yang lebih netral.

Dubes RI mengatakan, sudah ada rencana untuk membuat dialog antarmedia kedua negara dan selanjutnya saling melakukan kunjungan balasan. “Usahakan upaya itu dipercepat lagi,” pinta Rais Yatim.

Utusan Menbudpar Ketut Wiryadinata minggu lalu membawa nota protes Indonesia untuk Menteri Pelancongan dan Menteri Penerangan dan Kebudayaan Malaysia terkait gambar penari Pendet Bali dalam iklan promosi pariwisata Malaysia “Enigmatic Malaysia”yang ditayangkan Discovery Channel.

Pers dan pemerintah Indonesia kemudian menuduh bahwa Malaysia mengklaim tari pendet Bali sebagai kesenian atau kebudayaan negeri jiran itu.

sumber

Related posts

Hmmm… Gempa Juga Diklaim Malaysia?

September 3, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Para pengguna internet dari Indonesia ternyata masih jengah dengan tingkah Malaysia yang sering mengklaim kekayaan alam dan budaya Indonesia. Sampai-sampai kejadian gempa besar berskala 7,3 skala Richter (SR) yang menguncang Pulau Jawa, Rabu (2/9), juga jadi senjata untuk menyindir Malaysia.

Hal tersebut tampak dari status-status pengguna Facebook, salah satu situs jejaring sosial yang sedang menjadi tren saat ini. Beberapa pengguna masih menyindir seputar klaim Malaysia.

“Kata Malaysia, gempa yang baru terjadi berpusat di Kuala Lumpur bukan Tasikmalaya,” tulis pengguna bernama Widianti Kamil. Juga status Brama Setyadi, “Breaking News! Malaysia mengklaim pusat gempa ada di KL.”

Terkait banyak status yang menyebutkan klaim Malaysia itu, ada pula yang mencoba meluruskan. “Pusat gempanya di Tasikmalaya lho bukan di Kuala Lumpur,” tulis status Reza Wahyudi. Seperti diberitakan sebelumnya, gempa tersebut memang berpusat di pantai selatan Tasikmalaya, Jawa Barat.

Laporan Badan Geologi AS (USGS) menyebutkan bahwa pusat gempa 95 kilometer dari Bandung, 110 km dari Sukabumi, 115 km dari Tasikmalaya, dan 190 km dari Jakarta. Jangan sampai, USGS menulis kalau pusat gempa sekian kilometer dari Kuala Lumpur.

sumber

Related posts

Soekarno Minta “Terang Bulan” Diserahkan ke Malaysia

September 3, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Ahli waris pencipta lagu “Terang Bulan”, Aden Bahri, mengungkapkan, Presiden Soekarno meminta ayahnya, Saiful Bahri, untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” kepada Malaysia.

“Mantan Presiden Soekarno meminta penyerahan lagu itu pada awal 1960-an,” kata Aden Bahri di Solo, Jateng, Rabu.

Hal tersebut, lanjutnya, dikuatkan berdasarkan keterangan salah seorang saksi kejadian tersebut yang juga merupakan teman satu grup ayahnya di Orkes Studio Djakarta, Soebroto.

“Pak Broto yang berada di lokasi kejadian saat itu mengakui hal yang sama,” katanya.

Mengenai tuntutan pihak keluarga Saiful Bahri, dia mengatakan, pihak keluarga meminta Pemerintah Indonesia untuk membantu keluarga dalam melindungi lagu “Terang Bulan”, yang juga menjadi salah satu aset budaya Indonesia.

“Pemerintah harus lebih tegas dan bersikap lebih keras dalam melindungi seluruh aset budaya Indonesia, termasuk lagu yang diciptakan ayah saya,” kata Aden Bahri yang sekarang tinggal di Jakarta.

Sementara itu, mantan anggota Orkes Studio Djakarta, Soebroto mengatakan, mantan Presiden Soekarno meminta Saiful Bahri untuk menyerahkan lagu “Terang Bulan” antara 1961 hingga 1962, “Seingat saya saat itu adalah perayaan HUT Republik Indonesia,”.

Dia mengatakan, kalimat yang diucapkan Soekarno ketika itu, “Ful, kasih saja lagu itu ke Malaysia. Mereka belum punya lagu kebangsaan,”.

“Saat itu yang menjadi saksi tidak hanya saya, tetapi banyak. Dr. Johannes Leimena menjadi saksi yang masih saya ingat,” katanya.

Akan tetapi, lanjutnya, dia sudah tidak ingat siapa lagi yang menjadi saksi kejadian tersebut.

“Yang jelas, pesan Soekarno sangat jelas terdengar karena saya hanya berjarak sepuluh meter dari pembicaraan antara Soekarno dan Saiful Bahri,” kata Soebroto.

Pernyataan yang disampaikan Soebroto tersebut saat ini belum dapat dibuktikan kebenarannya dan dihadapkan dengan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa kemerdekaan Malaysia terjadi pada 31 Agustus 1957.

Menanggapi pengakuan tersebut, Kepala Lokananta, Ruktiningsih mengatakan, perusahaan rekaman Lokananta menyerahkan rekaman lagu “Terang Bulan” yang sudah digandakan.

“Kami berharap rekaman lagu tersebut dapat dipergunakan oleh Aden untuk mengurus hak-haknya sesuai dengan pengakuannya sebagai ahli waris pencipta lagu tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, hingga saat ini Lokananta yang menjadi perusahaan yang merekam dan menggandakan lagu “Terang Bulan” tidak memiliki catatan mengenai pencipta lagu tersebut.

“Jika pengakuan pihak ahli waris terbukti, kami akan mencatat nama Saiful Bahri ke dalam data pencipta lagu yang ada di perusahaan ini,” kata Ruktiningsih.

sumber

Related posts

Next Page »