Mentega Berumur Satu Abad Ditemukan di Antartika
December 18, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Dua kotak mentega ditemukan dalam keadaan utuh setelah hampir satu abad ada di satu gubuk yang digunakan penjelajah Inggris Robert Falcon Scott dalam ekspedisinya yang gagal pada 1910-1912 di Antartika.
Stasiun televisi Selandia Baru melaporkan, beberapa pencinta lingkungan menemukan dua kota mentega Selandia Baru di dalam tas yang diikatkan ke gubuk ekspedisi di Cape Evans di Antartika.
Udara yang sangat dingin di wilayah kutub “melestarikan” gubuk itu dan peralatan ekspedisi yang berada di dalamnya. Namun, beberapa tanda kerusakan baru-baru ini membuat Antarctic Heritage Trust melancarkan proyek pelestarian. Lizzie Meek dari Trust mengatakan, mentega tersebut adalah “temuan harta karun”.
“Sungguh mengagumkan betapa kuat aromanya setelah hampir 100 tahun,” kata Meek di gubuk tersebut. “Saya tidak yakin saya mau menggunakannya di roti panggang saya.”
Scott menggunakan gubuk di Cape Evans sebagai pangkalan ekspedisinya ke Kutub Selatan. Ia dan empat penjelajah lain mencapai wilayah tersebut pada 17 Januari 1912. Namun, mereka mendapati bahwa Roald Amundsen dari Norwegia telah mengalahkan mereka dan tiba lebih dulu di Kutub Selatan dengan selisih waktu lima pekan.
Scott dan empat temannya itu tewas dalam perjalanan pulang ke Cape Evans. Temuan paling akhir itu terjadi menyusul berita bulan lalu mengenai penemuan dua peti wiski scotch di satu gubuk yang digunakan oleh penjelajah Inggris, Ernest Schackleton, selama ekspedisi 1907-1909 ke Antartika.
Related posts
Kutub Bakal Tak Punya Es
October 19, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Para peneliti meramalkan, Laut Artik (kutub) akan bebas es pada musim panas dalam satu dekade mendatang. Setelah musim semi berlalu, para peneliti kembali mengukur ketebalan es sepanjang 450 kilometer dengan rute menyeberangi Laut Beaufort. Mereka menemukan sebagian besar es sangat tipis.
Pemimpin ekspedisi dan pakar es lautan dari University of Cambridge, Peter Wadhams, mengatakan, pada musim semi tahun lalu rata-rata ketebalan es hanya 1,8 meter, menandakan usia lapisan itu sekitar satu tahun. Sementara itu, es yang sudah bertahun-tahun sekitar 3 meter.
Tipisnya lapisan tersebut menjadi indikasi penting kondisi memprihatinkan es di Laut Artik. ”Secara sederhana, es tipis itu akan sekejap hilang pada musim es mulai meleleh,” ujarnya. Angin dan arus laut dapat pula memecah es yang tipis itu. Es yang terpecah dan mengapung bebas akan mudah terdorong ke wilayah perairan yang lebih hangat dan mencair. Catlin Arctic Survey dan kelompok konservasi internasional WWF mendukung penemuan tersebut.
Situasi es di Artik tersebut sangat dipengaruhi iklim dan kondisi alam. Kondisi es di Laut Artik kerap pula dikaitkan dengan perubahan iklim dan pemanasan global. (INE)



