Ciaaat… Monyet Jagoan Taekwondo Hajar Pelatih

December 17, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Jangan semena-mena terhadap binatang nanti kena tulah, kata para tetua. Entahlah, apakah pria ini ini kena tulah atau tidak. Sepasukan monyet yang telah dilatihnya untuk pertunjukan seni bela diri taekwondo melakukan balas dendam terhadapnya.

Lo Wung (42), pria itu mengajar monyet-monyet tersebut sehingga mereka dapat menghibur kerumunan orang di luar pusat pertokoan di Nshi, Provinsi Hubei, China bagian timur. Namun, primata yang mendatangkan uang itu membalikkan meja-meja Lo saat dia terpeleset dalam sebuah pertunjukan. Seekor monyet tanpa pikir panjang langsung menghajar sang pelatih dengan tendangan di kepala.

Hu Luang (32), penonton yang memotret insiden itu, mengatakan, “Saya melihat seekor (monyet) meninju tepat di matanya, dia (Lo) menangkap yang lain di telinganya dan itu ditanggapi monyet itu dengan menyabet hidung sang pelatih. Mereka berjingkrak-jingkrak dan melompat ke sana kemari. (Adegan) itu lebih baik dari sebuah film Bruce Lee.”

Pada suatu kesempatan, pelatih itu mendorong seorang stafnya untuk menyerang monyet-monyet itu. Hal itu justru menjadikan dirinya berhadapan dengan seekor monyet yang mengayunkan tongkat lalu menghajar kepalanya.

Lu Wung akhirnya berhasil mengendalikan monyet-monyet itu dengan menggunakan tali yang biasa digunakan untuk menghentikan mereka saat melarikan diri.

Hu mengatakan, “Dia (pelatih itu) sangat gusar, dia membuat monyet-monyet itu berlutut di tanah dengan tangan-tangan diikat ke belakang untuk menghukum dan membuat mereka menyesal atas serangan buruk tersebut.”

Related posts

Studi: Manusia Tak Berevolusi Dari Kera

October 8, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Satu tim ilmuwan internasional pekan ini melaporkan bahwa kerangka manusia purba yang hidup 4,4 juta tahun lalu memperlihatkan manusia tak berevolusi dari nenek moyang mirip kera.

Penyelidikan selama 17 tahun tersebut mengenai temuan kerangka yang sangat rapuh, “kera darat” kecil, yang ditemukan di wilayah Afar, Ethiopia, dibeberkan di dalam jurnal “Science” terbitan Jumat (2/10).

Sebagaimana dilaporkan kantor berita China, Xinhua, jurnal itu juga berisi 11 berkas mengenai temuan tersebut.

Fosil itu, yang diberi nama panggilan “Ardi”, adalah kerangka paling tua yang dikenal dari cabang manusia dari pohon keluarga primata. Cabang tersebut meliputi Homosapiens serta spesies yang lebih dekat dengan manusia dibandingkan dengan kera dan bonobo.

Temuan itu memberi pengertian baru mengenai bagaimana “hominid” –keluarga “kera besar” yang terdiri atas manusia, simpanse, gorila dan orang-utan– mungkin telah muncul dari satu nenek moyang monyet.

Sampai ditemukannya “Ardi”, tahap paling awal yang diketahui mengenai evolusi manusia adalah “Australopithecus”, “manusia kera” yang berotak kecil dan sepenuhnya berkaki dua yang hidup antara empat juta dan satu juta tahun lalu.

Fosil “Australopithecus” yang paling terkenal adalah “Lucy”, yang berumur dari 3,2 juta tahun, yang namaya diambil dari lagu Beatles “Lucy in the Sky with Diamonds”. “Lucy” ditemukan pada 1974 di tempat sekitar 45 mil dari tempat “Ardi” belakangan ditemukan.

Kerangka “Ardi” dan kerangka “Ardipithecus ramidus”, yang berkaitan, lebih tua dan lebih primitif dibandingkan dengan “Australopithecus”.

Setelah temuan “Lucy”, ada perkiraan bahwa ketika kerangka “hominid” terdahulu ditemukan, semua itu akan berkumpul jadi anatomi mirip simpanse, berdasarkan kesamaan genetika manusia dan kera. Namun fosil “Ardipithecus ramidus” tidak mendukung dugaan itu.

Kerangka “Ardi” cukup lengkap –tengkorak, gigi, tulang panggul, kaki, paha, lengan dan tangan– untuk memperkirakan tinggi dan berat tubuhnya. “Ardi” berjalan dengan dua kaki di tanah, tapi memanjat pohon dan juga menghabiskan waktu mereka di sana, dan barangkali adalah pemangsa segala.

Sesuatu yang mengejutkan ialah “Ardi” dan temannya tidak memiliki bagian tubuh seperti kera atau gorila, tapi lebih mirip dengan kera yang punah atau bahkan monyet, dan kedua tangannya juga tidak mirip tangan simpanse atau gorila, tapi lebih berkaitan dengan kera yang punah sebelumnya.

Banyak ilmuwan mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa “hominid” dan kera afrika, masing-masing, memiliki jalur evolusi yang berbeda, dan “kita tak lagi dapt menganggap kera sebagai `wali` bagi nenek moyang terakhir bersama kita”.

“Temuan (Charles) Darwin sangat bijaksana mengenai masalah ini,” kata Tim White dari University of California Berkeley, yang membantu memimpin tim penelitian tersebut.

Darwin mengatakan kita harus benar-benar berhati-hati. Satu-satunya cara kita akan mengetahui seperti apa nenek moyang terakhir bersama ini dan menemukannya. Yah, pada 4,4 juta tahun lalu, kita menemukan sesuatu yang sangat dekat dengan itu. Dan, persis seperti Darwin menghargai evolusi garis kera dan garis manusia telah berjalan secara terpisah sejak jalur itu terpisah, sejak nenek moyang terakhri bersama yang kita miliki,” kata White.

sumber

Related posts

Penelitian: Kera Penggemar Musik Heavy Metal

September 4, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Kera ternyata lebih suku musik heavy metal ketimbang klasik, kata beberapa peneliti di University of Wisconsin yang temuan mereka diterbitkan di dalam “Biology Letters” pekan pertama September.

Beberapa ilmuwan memainkan kumpulan musik di hadapan sekelompok kera tamarin cotton-top tapi satu-satunya nada yang mendapat reaksi hanya lah yang berasal dari band heavy metal Metallica.

Semua hewan itu tampaknya tak tertarik pada Led Zepellin, Miles Davis dan Bach, tapi setelah nada dulcet lagu Master of Puppets dari Metallica dikumandangkan hewan tamarin itu menjadi tenang.

Kera menafsirkan nada naik dan turun secara berbeda dengan manusia. Anehnya, satu-satunya reaksi mereka terhadap beberapa contoh musik manusia ialah reaksi tenang terhadap band heavy metal Metallica,” kata Profesor Charles Snowdon, dari University of Wisconsin-Madison, sebagaimana dilaporkan oleh Xinhuanet, Selasa (2/9).

Bukannya membuat mereka gelisah dan agresif, musik heavy metal memiliki dampak yang menyejukkan mereka.

Dr. Snowdon, yang bergabung dengan pemain selo National Symphony Orchestra David Teie, juga memainkan irama yang disusun khusus buat mereka.

Meskipun mereka menikmati Metallica, mereka jauh lebih tertarik pada musik itu.

Melodi yang dilandasi atas suara pendek kera yang ketakutan menghasilkan tingkat suara kegelisahan, kata para peneliti tersebut, sementara nada yang dilandasi atas nada panjang yang dihasilkan makhluk itu ketika mereka senang memiliki dampak yang membuat mereka tenang.

Frans B.M. de Waal, profesor ilmu jiwa di Emory University yang mempelajari primata, mengatakan temuan tersebut tampaknya memberi penjelasan lebih banyak mengenai bagaimana kera bereaksi terhadap suara yang mereka buat ketimbang yang mereka lakukan terhadap musik atau evolusi musik.

Dr. Snowdon tak lagi memiliki koloni kera yang dapat digunakan dalam penelitiannya, tapi ia mengatakan penulis bersama studi itu, David Tele, sedang meneliti konsep musik buat kucing.

“Jika kita memahami bagaimana kita dapat mempengaruhi tingkat emosi mereka melalui pemanfaatan nada musik dan aspek bicara kita, barangkali orang-orang di antara kita yang hidup bersama hewan juga dapat memiliki hubungan yang lebih baik dengan mereka,” kata Snowdon.

sumber

Related posts