Satelit Buatan Mahasiswa Indonesia Diluncurkan 2012

October 20, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Satelit mini atau nano-satelit buatan mahasiswa Indonesia akan diluncurkan pada tahun 2012, karena pembahasan antarmahasiswa UGM, ITB, ITS, UI, dan PENS ITS serta mahasiswa Indonesia di luar negeri sudah dimulai.

“Mulai tahun ini (2009), kami melakukan serangkaian pertemuan dengan mahasiswa dari berbagai kampus,” kata peneliti asal Indonesia di TU Delft Belanda, Dedy H.B. Wicaksono, PhD., di Surabaya, Senin.

Di sela-sela Lokakarya INSPIRE (Indonesian Nano Satellite Platform Initiative for Research & Education) di PENS ITS, ia mengatakan pertemuan akan berlanjut dengan penelitian secara intensif di Belanda atau di Indonesia.

“INSPIRE merupakan forum pertemuan antarmahasiswa dengan berbagai stakeholder dari pemerintah dan lembaga riset untuk mendorong penguasaan teknologi satelit sejak kalangan mahasiswa,” katanya.

Alumnus Teknik Fisika ITB Bandung (S1) pada tahun 1934-1998 itu menyatakan Indonesia sangat membutuhkan satelit untuk peta hutan, perikanan, bencana alam, kepulauan, kriminalitas laut, dan sebagainya.

“Kita sudah memiliki Satelit Palapa dan usianya sudah 30 tahunan. Teknologinya dibuat di luar negeri, sehingga devisa negara akan tersedot keluar dan kita akhirnya tidak memiliki kemandirian,” kata alumnus Tokyo University of Technology (S2) itu.

Menurut alumnus TU Delft Belanda (S3) itu, satelit yang besar itu membutuhkan dana yang mahal hingga ratusan miliar atau bahkan triliunan, namun nano-satelit hanya berkisar Rp5 miliar dan satelit mini akan bertahan selama kurun tiga tahunan.

“Tidak hanya murah, tapi nano-satelit itu sebenarnya dapat kita kuasai dengan mudah, apalagi di dalamnya sudah ada unsur pendidikan, aspek aplikasi teknologi, dan penelitian lintas keilmuan seperti telekomunikasi, elektronika, energi surya, dan sebagainya,” katanya.

Oleh karena itu, kata penggagas INSPIRE itu, para dosen dapat mendorong mahasiswa telekomunikasi yang selama ini merumuskan tugas akhir (TA) tentang alat-alat telekomunikasi seperti handphone (HP), namun kini dapat mengarahkan TA pada bidang satelit.

“Jadi, pembahasan dapat dilakukan pada tahun 2009, lalu tahun 2010 dengan penelitian intensif, bahkan TU Delft sangat senang bila penelitian dapat dilakukan di Belanda, kemudian tahun 2011 dilakukan persiapan dan tahun 2012 ada peluncuran,” katanya.

Senada dengan itu, Sekretaris Menkominfo, Dr Eng. Son Kuswadi, menyatakan dana pembuatan nano-satelit hanya Rp5 miliar dan bila dimulai dengan pertemuan, penelitian, hingga akhirnya peluncuran nano-satelit, maka akan dibutuhkan dana sekitar Rp10 miliar.

“Pembahasan lewat workshop yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai universitas itu akan kita lakukan dua kali selama tahun 2009, termasuk pembahasan dengan LAPAN, BPPT, IPTN, Departemen Kelautan dan Perikanan,” katanya.

Setelah itu, kata dosen robotik PENS ITS Surabaya itu, pembahasan intensif untuk aplikasi akan dilakukan di TU Delft Belanda dan di Indonesia hingga tahun 2011.

“Tahun 2012 akan kita lakukan peluncuran, apakah peluncuran akan memanfaatkan lembaga sejenis LAPAN di Indonesia yang sudah memiliki lokasi peluncuran roket atau mungkin LAPAN juga sudah siap pada tahun itu,” katanya.

Ia menambahkan pemanfaatan nano-satelit itu akan diaplikasikan untuk fungsi telekomunikasi di saat bencana alam dan pencegahan pencurian ikan. “Nantinya, bisa juga untuk sensor cuaca,” katanya.
(*)

sumber

Related posts

Mahasiswa PENS ITS Buat Pistol untuk Tembak Penyusup

August 6, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Pistol air soft gun type glock 19C dibuat sebagai sistem pengaman ruangan. Pistol karya Candra Uji Wira Prakoso, mahasiswa D4 Teknik Informatika PENS ini, menggabungkan ilmu computer vision dengan computer control, dimana kamera seolah-olah dapat melihat dan merespon seketika saat penyusup masuk ke dalam ruangan. Respon yang diberikan adalah langsung menembak penyusup yang datang.

Alat ini terdiri atas sebuah laptop dan seperangkat pistol yang dilengkapi kamera pengintai di atasnya. Project tugas akhir dengan judul ‘Simulasi Penembak Jitu dengan Metode Colour Tracking’ bekerja dengan cara memindai gambar dan mengambil informasi dari gambar yang tertangkap kamera. Gambar tersebut mensimulasikan orang-orang tertentu yang dianggap penyusup.

“Alat akan terus mengejar dan menembak hingga penyusup roboh,” jelas Candra saat dihubungi okezone, Kamis (06/08/2009).

Penyusup kali ini direpresentasikan oleh beberapa objek yang memiliki warna yang berbeda, misalnya merah, hijau dan biru. Prinsip kerjanya pun cukup sederhana, namun tidak sesederhana saat membuatnya. Pasalnya, dibutuhkan waktu antara 3 hingga 4 bulan untuk membuat seperangkat alat ini. Belum lagi harus mencari solusi untuk mengantisipasi faktor cahaya yang dapat mempengaruhi perubahan warna.

Lebih jauh lagi, alat ini dapat lebih disempurnakan dengan cara mengganti motornya dengan motor crop.

“Tujuannya adalah agar gerak kamera dapat lebih cepat saat mengintai,” jelas Candra.

Selain itu ke depan, pemindaian penyusup dapat diganti dengan pengenalan wajah maupun gerakan dalam suatu ruangan.

Aplikasi alat ini akan sangat membantu instansi-instansi yang ingin menjaga ruangannya agar lebih aman. Terlebih masih hangatnya kasus pencurian, perampokan hingga terorisme yang membuat pemerintah dan masyarakat harus lebih waspada.

Bimbingan Setiawardhana ST dan Rizky Yuniar Hakkun, SKom ini harus mengeluarkan kocek antara 3 hingga 4 juta untuk membuat Gunner Bot (istilah untuk pistol, red). Setidaknya, sejumlah uang telah ia dapat karena melalui alat tembak jitunya Candra berhasil meraih juara II dalam Lomba Tugas Akhir Mahasiswa yang diselenggarakan di PENS. (srn)

sumber

Related posts