private military company

December 18, 2009 by hafeez  
Filed under Berita Petir

Perusahaan militer swasta (bahasa Inggris: private military company, PMC) adalah perusahaan atau korporasi yang menyediakan jasa dan keahlian yang berhubungan dengan bidang militer atau bidang sejenisnya. Perusahaan seperti ini juga dikenal sebagai korporasi militer swasta, firma militer swasta, penyedia jasa militer, dan secara luas sebagai industri militer swasta. Jasa-jasa yang ditawarkan perusahaan militer swasta antara lain adalah jasa logistik, pelatihan militer, pertahanan, serta jasa keamanan. Jasa PMC umumnya digunakan sebagai pendukung bagi operasi resmi suatu angkatan bersenjata, namun sering juga digunakan untuk pribadi, misalnya sebagai bodyguard. PMC merupakan lembaga sipil yang diberi wewenang kerjasama dengan unit-unit militer di dalam negerinya atau bahkan negara lain yang disetujui oleh departemen pertahanan. PMC biasanya dipakai pada area dengan konflik intensitas rendah, ketika pemakaian angkatan bersenjata penuh dapat merugikan secara ekonomi, diplomatik, atau politik. Namun, perusahaan-perusahaan ini juga bekerjasama dengan negara-negara untuk menyediakan pelatihan militer dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pertahanan.

Perusahaan militer swasta misalnya menyediakan perlindungan untuk presiden Afganistan, membangun penjara di Guantanamo Bay, serta penerbangkan helikopter dan pesawat terbang untuk menghancurkan tanaman coca di Kolombia. Mereka juga mengoperasikan sistem intelegen dan komunikasi di United States Northern Command di Colorado, yang bertanggung jawab untuk merespon kepada serangan terhadap Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan ini juga melatih tentara dan militer di negara-negara seperti Nigeria, Bulgaria, dan Taiwan. Industri militer swasta sudah menjadi industri yang menghasilkan lebih dari $100 juta per tahun.


Istilah umum

Perusahaan militer swasta juga dikenal dengan kontraktor militer swasta, namun istilah ini lebih ditujukan untuk seorang individual yang dipekerjakan atau dikontrak oleh perusahaan militer swasta.

Perusahaan militer swasta sering masuk dalam kategori yang sama dengan kontraktor pertahanan, namun kontraktor pertahanan lebih terfokus kepada penyediaan perangkat keras dan peralatan militer, serta tenaga manusia yang mendukung perawatan peralatan tersebut. Sedangkan perusahaan militer swasta menyediakan tenaga manusia yang terlatih secara operasional dan taktis, termasuk pengalaman bertempur.

Konvensi Jenewa Ketiga (GCIII) tahun 1949 tidak menyatakan perbedaan antara kontraktor pertahanan dan perusahaan militer swasta, konvensi tersebut hanya mendefinisikan kategori kontraktor persediaan. Bila seorang kontraktor persediaan dilengkapi kartu identitas lengkap dari angkatan bersenjata yang mempekerjakannya, mereka harus diperlakukan sebagai tahanan perang kalau tertangkap (GCIII Artikel 4.1.4). Namun, apabila seorang kontraktor melakukan pertempuran, kontraktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai tentara bayaran, berdasarkan Protocol I Additional to the Geneva Conventions 1997 (Protokol I) Artikel 47.c. Kontraktor yang tertangkap sebagai tentara bayaran akan kehilangan haknya atas status tahanan perang. Protokol I tidak ditanda tangani oleh Amerika Serikat, salah satu alasannya adalah bahwa protokol ini tidak akan berlaku untuk “pejuang kemerdekaan”.


Rekrutmen

Dengan adanya perusahaan militer swasta, banyak laporan akan adanya eksodus dari pasukan khusus di seluruh dunia, masuk ke perusahaan militer swasta. Special Air Service Britania Raya, Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat, serta Joint Task Force 2 Angkatan Darat Kanada dilaporkan telah kehilangan anggotanya yang keluar untuk bekerja di perusahaan militer swasta. Perusahaan militer swasta menawarkan gaji sampai $100.000 per tahun, yaitu dua sampai tiga kali lipat gaji anggota pasukan khusus di negara maju.

Related posts

Harta dan Wanita untuk Pelempar Sepatu Bush

September 12, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Meski masuk bui gara-gara melempar sepatu ke George W Bush, waktu itu Presiden AS, Muntazer al-Zaidi menjadi idola. Menjelang pembebasannya, sederet tawaran sudah menunggu, dari rumah dan mobil, hingga calon istri.

Rumah baru dengan empat kamar tidur disediakan mantan bosnya. Mobil, uang, dan fasilitas kesehatan dijanjikan oleh tempatnya bekerja, stasiun televisi Al-Baghdadia.

“Seorang warga Irak yang tinggal Maroko menawarkan putrinya untuk menjadi istri al-Zaidi,” ujar editor Abdul Hamil al-Saij dilansir Telegraph. Menurut al-Saij, ada pula telepon dari Arab Saudi menawarkan Rp 100 miliar untuk membeli sepatunya. Sementara itu, kaum wanita berlomba-lomba menawarkan diri.

Namun, al-Zaidi tidak terlalu memikirkan tawaran-tawaran itu. Ia justru tak sabar menunggu kesempatan untuk keluar penjara. Menurut Maitam sang kakak, al-Zaidi itu berencana membuka panti asuhan dan berhenti menjadi jurnalis. (tel/tis)

sumber

Related posts

Kisah Satu-satunya “Lampu Stopan” di Baghdad

August 24, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Satu-satunya lampu lalu-lintas yang masih berfungsi di Baghdad dan diapit oleh tembok bekas ledakan, bunker serta kabel, berdiri tegak. Itu sebagai “satu-satunya prajurit” untuk memulihkan ketenangan di kota yang telah lama dirundung kekacauan tersebut.

Lampu tenaga surya itu, yang beroperasi sejak Mei, berada di Damascus Square di Baghdad. Ini adalah lampu pertama sejak serbuan pimpinan AS 2003 untuk menggulingkan presiden Saddam Hussein.

Lampu lalu-lintas itu adalah bagian dari upaya untuk memulihkan kehidupan normal di Irak. Kerusuhan di Irak telah berkurang tapi tetap terjadi setiap hari –sebagaimana dibuktikan oleh pemboman mematikan Rabu (19/8) yang menewaskan hampir 100 orang.

“Yang membuat kami prihatin adalah serangan teror, orang meninggalkan bom mobil dan benda semacam itu, bukan tabrakan mobil,” kata seorang personil polisi lalu-lintas yang hanya menyebutkan namanya sebagai Hussein sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Lampu itu berada di luar pintu masuk “Zona Hijau” yakni daerah kedutaan besar dan kantor pemerintah yang dijaga ketat dan sebelumnya berfungsi sebagai pusat pendudukan Amerika. Satu truk derek tetap berada di persimpangan dekat lampu. Fungsinya untuk mengangkat rongsokan mobil, muatan yang bertumpuk di luar kantor polisi di dekatnya.

Pada umumnya pengemudi kendaraan di Baghdad termasuk rombongan menteri dongkol terhadap setiap upaya melakukan pengendalian lalu-lintas. “Namun, para menteri dan personil militer berhenti jika mereka datang dengan satu mobil. Namun mereka tak melakukannya jika mereka berombongan,” kata polisi lalu-lintas Ali Saad.

Kepatuhan pada lampu lalu-lintas adalah langkah besar yang dibutuhkan di Baghdad. Karena, jumlah kendaraan telah bertambah dari sebanyak 250.000 menjadi 1 juta sejak serbuan pimpinan AS. Meskipun tak ada surat izin baru yang dikeluarkan buat semua kendaraan tersebut.

Segera setelah invasi AS, satu peraturan yang masih berlaku hingga sekarang adalah mengenai kendaraan tak boleh melaju terlalu dekat dengan rombongan tentara asing atau kontraktor keamanan, jika Anda tidak mau ditembak. Meskipun tentara Amerika ditarik dari tengah kota pada 30 Juni, dan menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak, penghalang beton dan pos pemeriksaan dengan tujuan menghentikan pemboman mobil dan pria bersenjata masih menjadi metode utama pengendalian lalu-lintas.

“Jaringan lampu lalu-lintas yang pernah ada di Baghdad hilang sebagai akibat kekacaun pascapenggulingan Saddam,” kata Brigadir Polisi Ammar Waleed Al Khayat, yang setiap hari menyampaikan laporan mengenai lalu-lintas melalui televisi. Setiap lampu lalu-lintas rusak, baik karena peralatannya dicuri maupun lampunya dipindahkan.

Kota tersebut pada 2008 memasang sejumlah lampu baru yang menerima pasokan listrik secara tradisional. Tetapi jika seseorang duduk di markas polisi lalu-lintas di dekat Departemen Dalam Negeri di Baghdad, ia segera mengetahui mengapa semua lampu itu tak berfungsi. Menurut Al Khayat, pada siang hari, lampu neon di kantor tersebut menyala, berkat pasokan listrik selama tiga jam sehari di kota itu, dan kemudian tiba-tiba listrik padam. “Bagaimana kami dapat mengoperasikan lampu lalu-lintas dengan listrik seperti itu?” ujar Al Khayat mempertanyakan.

Di Damascus Square, keadaan lebih aman dibandingkan beberapa tahun belakangan di mana aksi perlawanan dan pertempuran sektarian membuat kota tersebut kehabisan polisi lalu-lintas. Toh, itu tidak sepenuhnya benar. Satu bom truk dahsyat merenggut banyak nyawa dan meninggalkan puing di luar Departemen Luar Negeri hanya beberapa ratus meter dari tempat itu pada Rabu. Rangkaian serangan di ibukota Irak itu menewaskan hampir 100 orang.

Seorang pejabat intelijen, yang berpakaian seragam polisi lalu-lintas, mengatakan baru bulan Juli dua personil tewas di persimpangan jalan, setelah memburu beberapa pria bersenjata yang memakai lencana palsu polisi lalu-lintas. Ketika ditanya apakah pembunuhan semacam itu membuat dia takut, petugas intelijen tersebut mengatakan ia hanya malu.

Polisi lalu-lintas Hussein juga mengatakan ia merasa lebih aman dalam beberapa tahun belakangan. Selama masa kerusuhan paling buruk pada 2006, komandannya terbunuh dan banyak rekannya berdiam di rumah, karena takut dibunuh. “Sebelumnya kami harus mengenakan pakaian lapis baja dan membawa senjata, bukan pistol. Dan siaga,” katanya. “Situasinya lebih baik sekarang. Yang penting ialah saya mengabdi buat negara”.

Mohammed Abbas, pegawai negeri yang berusia 32 tahun mengatakan lampu lalu-lintas adalah bagian dari upaya peningkatan keamanan di jalan setelah tentara AS ditarik. “Saya kira lampu lalu-lintas baru bukanlah tanda perdamaian, tapi semua itu adalah tanda ketentraman,” kata Abbas.

sumber

Related posts