Seabad Punah, Gagak Banggai Khas Sulawesi Ternyata Masih Ada
October 15, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Gagak banggai (Corvus unicolor) yang dikira telah punah sejak seabad lalu ternyata masih ditemukan di habitat aslinya. Burung tersebut adalah salah satu spesies gagak khas Indonesia yang hidup di Pulau Peleng, Sulawesi.
Selama ini, para ilmuwan hanya mengetahui jejak kehidupan gagak tersebut dari dua ekor spesimennya yang ditangkap tahun 1900. Kedua sampel gagak banggai itu disimpan di Museum Sejarah Alam Amerika di New York.
Namun, pada tahun 2007, seorang ilmuwan dari Universitas Indonesia bernama Mochamad Indrawan menemukannya kembali di habitat yang sama. Spesimen tersebut kemudian dikirim kepada Pamela Rasmussen, ahli zoologi dari Michigan State University, untuk dicocokkan dengan spesimen lain yang selama ini disimpan.
Rasmussen kemudian membandingkan spesimen yang baru dengan dua sampel yang berusia lebih dari satu abad. Hasil penelitian memastikan bahwa spesimen-spesimen tersebut dari satu spesies bukan anggota dari gagak hitam spesies lainnya Corvus enca.
“Analisis morfometrik yang saya lakukan menunjukkan, dari empat ekor spesimen yang kami tangkap, jelas berbeda dari spesimen enca. Kami juga menemukan kedua taksonomi tersebut mempunyai perbedaan warna mata, ciri yang penting untuk membedakan gagak,” kata Rasmussen. Keempat spesimen gagak banggai yang baru ditemukan itu saat ini disimpan sebagai koleksi Museum Zoologi Bogor di Cibinong.
Sejak gagak banggai ditemukan kembali, banyak pengamat burung di Pegunungan Peleng yang mulai merekam keberadaannya baik dalam foto maupun video. Sebuah foto gagak banggai bahkan telah muncul minggu ini dalam buku Handbook of the Birds of the World.
Mochamad Indrawan dari Universitas Indonesia, yang mempelopori penemuan ini, mulai fokus untuk melestarikan spesies langka yang sering diburu oleh warga lokal. Termasuk merekomendasi untuk menjaga hutan sebagai habitat hewan tersebut melalui sistem agrikultural yang berkelanjutan, atau mungkin dengan ekoturisme, untuk mencukupi kebutuhan hidup para warga lokal.
Related posts
Zuhri Lihai Cerita Revolusi Perancis dan Perang Dingin
October 15, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Dua tersangka teroris yang baru tewas dalam penggerebekan, Syaifudin Zuhri dan M Syahrir, ternyata sudah tinggal di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, sejak bulan Ramadhan lalu. Keduanya menyamar dengan nama lain dan mengaku sebagai teknisi komputer dan penjual es campur.
Hal tersebut diceritakan ML, seorang mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) yang merasa selama ini mungkin dijadikan target sebagai “pengantin” oleh kedua buron tersebut. Kepada Persda Network, ML mengaku bertemu Zuhri dan Syahrir di kawasan Ciputat sejak pertengahan bulan Ramadhan atau bulan September lalu.
Teroris kakak beradik tersebut sejak bulan Ramadhan sering tarawih di Masjid As Salam, yang hanya berjarak 100 meter dari rumah kos Zuhri dan Syahrir. Di Masjid itulah awalnya Zuhri-Syahrir bertemu dengan Z, pemuda asal Jawa Timur yang sedang mencari pekerjaan di Jakarta. Z adalah teman dari ML. Pertemuan itu persisnya terjadi malam ke-20 bulan Ramadhan.
Kepada Z, Zuhri yang pandai mendoktrin membuka pembicaraan soal hukum-hukum Islam. Z, yang pernah mondok di pesantren, merasa obrolannya nyambung. Ketika itu Zuhri bersama dengan Syahrir. Karena percaya, Z memberitahukan tempat tinggal sementaranya kepada Zuhri-Syahrir.
Bak gayung bersambut, Zuhri dan Syahrir mendatangi tempat tinggal sementara Z yang menumpang di rumah kos temannya di kawasan Ciputat. Layaknya tamu, saat bertandang ke rumah kos Z, Zuhri-Syahrir menyalami penghuni kos lainnya yakni R dan ML. Kepada mereka, Zuhri mengaku bernama Rahman, sedangkan Syahrir bernama Sidik.
Di kosan tersebut, hanya ML yang membuka diri kepada Syahrir-Zuhri. Kepada ML, Zuhri membuka obrolan soal mitos tujuh abad Islam (Islam maju abad 7-14, Islam mundur abad 14-21, dan Islam maju lagi abad 21-seterusnya). Kepadanya, Zuhri berkata, “Islam akan mengalami kemajuan kembali. Pertanyaannya apakah kita mau sebagai penonton atau pelaku juga,” tiru ML.
Sebagai mahasiswa baru, ML sempat kagum dan terpesona. Apalagi, Zuhri juga lihai bercerita panjang soal Revolusi Perancis dan Perang Dingin di Eropa. “Nada bicaranya halus banget. Saya kagum dengan pengetahuannya saat berbicara pada malam pertemuan pertama itu,” ujar ML.
Kepada ML, Rahman alias Zuhri mengaku bekerja sebagai teknisi komputer di Pasar Ciputat. Sedangkan Sidik alias Syahrir mengaku berjualan es campur di Ciputat. Zuhri-Syahrir mengaku tinggal di Ciputat, tetapi tidak mengatakan alamat lengkapnya. Ia tidak menyangka kalau dua tamunya tersebut adalah teroris buronan Densus 88 Antiteror.(YOG)
Related posts
Jenazah Zuhri dan Syahrir Bisa Diambil Besok
October 12, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
Polri memastikan keluarga Syaifudin Zuhri dan M Syahrir bisa mengambil jenazah yang saat ini terbujur kaku di ruang jenazah Rumah Sakit Polri Jakarta, Selasa (13/10) besok.
“Jenazah sudah dapat diambil besok,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna saat jumpa pers di Mabes Polri Jakarta, Senin (12/10).
Nanan menjelaskan, keluarga akan diberikan fasilitas untuk pemulangan jenazah. Menurutnya, Polri sebenarnya ingin menangkap seluruh teroris hidup-hidup. Namun, karena teknis di lapangan tidak memungkinkan untuk menangkap hidup sehingga dengan terpaksa diambil tindakan penembakan.
“Terpaksa polisi menindak tegas (tembak). Tidak ada perintah menewaskan mereka,” kata dia.
Related posts
Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis
October 10, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Mahasiswa Jurusan Sistem Komputer (SK) di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, Kadek Kertayasa, menciptakan Angklung Otomatis.
“Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, sedang angklung otomatis merupakan karya tugas akhir Kadek yang mendapatkan nilai A,” kata dosen pembimbing Kadek, yakni Ihyauddin S.Kom, di Surabaya, Jumat.
Di sela-sela Halal bihalal STIKOM Surabaya bersama pers, ia menjelaskan cara kerja Angklung Otomatis terkait ihtiar pemerintah mendaftarkan angklung sebagai alat musik tradisional warisan budaya Indonesia ke UNESCO pasca pengakuan dunia terhadap wayang, keris, dan batik.
Menurut Ihyauddin, Angklung Otomatis merupakan alat musik yang diberi memori pada bagian mikro kontroler untuk menyimpan lagu-lagu.
“Tapi, penyimpanan lagu-lagu itu tidak dapat langsung dipindahkan dari komputer ke memori itu, melainkan lagu yang hendak disimpan perlu diubah dari bentuk notasi ke program ehxa agar memori yang ada dapat membaca notasi lagu itu,” katanya.
Untuk proses pembuatan karya tugas akhir “Angklung Otomatis” itu, katanya, mahasiswa yang dibimbingnya itu hanya mampu menyimpan 3-5 lagu.
“Kapasitas memori yang ada memang sebesar 32 KB (kilobyte), tapi hanya mampu menyimpan 3-5 lagu, karena perlu perubahan notasi ke dalam bentuk program Ehxa itu,” katanya.
Namun, katanya, kapasitas penyimpanan lagu dapat ditingkatkan dengan menambahkan memori eksternal sebesar 64 KB, sehingga dapat menyimpan lebih dari lima lagu.
“Lagu yang disimpan dalam memori Angklung Otomatis atau bisa juga disebut Robot Angklung itu hanya ada tiga lagu yakni Gambang Suling, RA Kartini, dan Jula Juli,” katanya.
Dosen mikrokontroler STIKOM Surabaya itu mengatakan Angklung Otomatis itu akan menyuarakan lagu-lagu yang tersimpan dalam memori dengan adanya “Motor DC” yang terhubung antara memori dengan setiap rangkaian bambu dalam alat musik itu.
“Motor DC itulah yang mengatur panjang-pendeknya suara. Selain itu, Angklung Otomatis itu juga dilengkapi dengan display untuk pemilihan lagu melalui keypad dan alat tombol,” katanya.
Ditanya biaya yang diperlukan untuk pembuatan Angklung Otomatis atau Robot Angklung itu, ia mengatakan biayanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
“Biaya itu untuk membeli angklung asli Bandung yang harganya berkisar Rp800 ribu, komponen memori dan motor, dan sejumlah alat mekanik lainnya,” katanya.
Dalam abstrak yang ditulisnya, Kadek yang saat ini masih pulang ke kampung halaman di Bali pasca wisuda itu menjelaskan bahwa Motor DC adalah salah satu alat untuk mengubah tenaga listrik menjadi energi mekanik.
“Dengan menggunakan motor DC dapat meringankan beban manusia dalam bekerja.
Idenya dengan menggabungkan alat musik angklung, motor DC, keypad, LCD, dan micro controller, sehingga menghasilkan irama musik angklung yang enak didengar layaknya music player yang ada di pasaran,” katanya.
Ia menambahkan Angklung Otomatis itu dirancang karena alat musik modern saat ini sudah mengarah ke alat musik yang elektrik, sehingga mudah dimainkan seperti drum electric, gitar listrik, dan keyboard.
“Karena itu, alat musik tradisional seperti gamelan, kulintang, seruling, angklung juga perlu dilestarikan dengan membuatnya sebagai alat musik elektrik,” katanya.(*)
Related posts
Lamborghini Gallardo LP560-4 Spyder Hadir di Indonesia
October 10, 2009 by hafeez
Filed under Berita Petir

Jika Anda penggemar mobil eksotis, bersiaplah untuk melihat varian terbaru dari Lamborghini di jalan raya Ibu Kota. Pasalnya, hari Sabtu (10/10) ini, PT Lamborghini Jakarta memboyong Lamborghini Gallardo LP560-4 Spyder ke Indonesia.
“New Gallardo LP560-4 Spyder menghadirkan suatu dimensi baru ke dalam jajaran Gallardo melalui desainnya yang ekstrem dan performa yang unggul di kelasnya,” ujar President dan CEO Automobile Lamborghini Stephan Winkelman dalam rilis resminya.
Perbedaan paling mencolok dari Gallardo sebelumnya, produk ini mengaplikasikan fitur atap terbuka (soft-top). Selain itu, ada perubahan di bumper, lampu depan dan belakang, serta suspensi hidrolik yang bisa meninggikan bodi hingga 5 cm.
Gallardo mengusung mesin berkapasitas 5.200 cc V10 dan mempunyai tenaga 560 dk pada putaran 8.000 rpm. Akselerasi 0-100 km dicapai dalam waktu 4 detik. Kecepatan maksimumnya diklaim mencapai 324 km/jam.
Mobil yang didesain di Ufficio Tecnico Lamborghini yang berlokasi di Technical Departement Sant Agata, Italia, ini merupakan pengembangan sentuhan baru dari produk sebelumnya. Tenaga ditingkatkan sebesar 40 dk dan pengurangan bobot kendaraan hingga 20 kg. Tujuannya, di antaranya untuk meningkatkan performa.
Meski tenaga dan konsumsi bahan bakarnya masuk kategori boros, super-sportscar ini mengaku masih bisa meningkatkan efisiensi bahan bakar akibat sistem direct fuel injection yang menyempurnakan pembakaran. Namun, di brosur resminya, konsumsi bahan bakarnya 20,8 liter/100 km. Selain itu, pembuangan gas karbondioksida direduksi hingga 18 persen.
Nah, bagi Anda yang berminat, tinggal menyiapkan uang senilai 588.000 dollar AS atau sekitar Rp 5,64 miliar (kurs 1 dollar AS = Rp 9.600) saja per unitnya. Sebagai catatan tambahan, harga ini masih off the road ya, jadi akan ada dana tambahan untuk bea balik nama (BBN), tertarik?
Related posts
Polisi Gerebek Rumah Teroris di Ciputat?
October 9, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Polisi dikabarkan melakukan penggerebekan lagi terhadap gerombolan teroris di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (9/10). Informasi yang diperoleh wartawan di Mabes Polri menyebutkan, kali ini yang digerebek adalah Syaifudin Zuhri, teroris yang diduga terlibat dalam aksi pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu.
Syaifudin Zuhri adalah salah satu orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Ia adalah kakak ipar Ibrohim, teroris yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung. Syaifudin memiliki keahlian dalam melakukan perekrutan orang.
Related posts
Bunga Bangkai Mekar di Cianjur
October 6, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Markas PMI Cianjur di Jalan Pangeran Hidayattulah Cianjur menjadi pusat perhatian warga sekitar karena sepasang bunga bangkai mekar di halamnnya.
Bunga bangkai yang tumbuh di bagian pojok depan Markas PMI itu, satu bulan yang lalu, sengaja disembunyikan beberapa orang relawan dengan harapan bunga itu tidak disentuh atau diganggu.
“Sebelum berangkat ke lokasi bencana satu bulan lalu, saya sempat melihat ada bunga yang aneh di depan markas,” kata Ewok relawan Satgana PMI Cianjur, Senin, tetapi tidak dia beritahukan kepada relawan dan pengurus PMI Cianjur agar tidak diganggu.
“Saya baca di buku, bunga bangkai tidak akan sempurna mekarnya jika banyak disentuh atau diganggu,” tambahnya.
Satu malam sebelumnya, kata Ewok, ia mencium bau busuk yang menyengat dan berusaha mencari sumber bau yang menyengat hidung itu.
Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sepasang bunga bangkai dengan kepala bunga berwarna ungu dan kelopak daun berwarna coklat, mekar bersamaan.
Malam itu, ia memberitahukan hal tersebut ke beberapa anggota relawan lainnya yang berencana berangkat kembali ke lokasi penampungan di Kecamatan Cibinong.
Sementara itu, warga sekitar yang mendapat kabar mekarnya bunga bangkai di Markas PMI Cianjur itu, mulai berdatangan. Bahkan menjelang sore ini jumlahnya terus bertambah.
Hingga saat ini belum diketahui jenis bunga bangkai yang mekar di halaman Markas PMI itu. Namun satu tahun yang lalu, beberapa tangkai bunga bangkai dengan ukuran yang sama mekar di Kampung Panembong, Cianjur.
Related posts
Soal Batik, Malaysia Sampaikan Selamat Kepada Indonesia
October 5, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Delegasi asal Malaysia menyampaikan ucapan selamat secara khusus kepada Indonesia sesaat setelah pengukuhan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.
“Delegasi Malaysia yang belum menjadi delegasi resmi di UNESCO datang ke Abu Dhabi dan memberi selamat setelah batik dikukuhkan sebagai warisan budaya Indonesia,” kata mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik sesaat setelah dilantik menjadi anggota MPR RI di Gedung Nusantara Senayan, Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan, dirinya secara khusus mendapatkan informasi tersebut dari delegasi Indonesia yang dipimpin pejabat dari Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar.
Jumat pagi ini, UNESCO dilaporkan telah mengetuk palu pengukuhan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
“UNESCO dengan 114 negara delegasinya sudah mengetuk palu pengukuhan batik,” katanya.
Soal ucapan selamat dari delegasi Malaysia, ia secara pribadi menyatakan gembira dan bangga.
Jero Wacik mengaku akan terus melanjutkan perjuangannya dalam hal pariwisata dan budaya meskipun tidak lagi menjabat sebagai menteri nantinya.
“Kita harus tetap berjuang, di manapun tempatnya termasuk memperjuangkan batik ini,” katanya.
Ia secara khusus mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menggunakan batik dalam berbagai kesempatan.
Selain batik, Wacik mengaku akan terus mengawal sejumlah karya budaya masterpiece (karya agung) asal Indonesia untuk juga dikukuhkan di UNESCO.
“Selain batik, sekarang kita sedang memroses angklung dan gamelan,” katanya.
Keris telah lebih dulu dikukuhkan UNESCO pada 2005 dan wayang pun demikian pada 2003.
“Kita akan pilih karya yang menasional dan mendaftarkannya ke UNESCO,” katanya.
Namun, ia menegaskan bangsa Indonesia harus juga mengapresiasi karya-karya tersebut.
Rencananya, Jumat malam (2/10) pemerintah akan mendeklarasikan secara resmi pengukuhan batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.(*)
Related posts
Profesionalisme TNI Masih Bersandar Militansi
October 5, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Bagaimana Tentara Nasional Indonesia (TNI) memandang profesionalisme bagi dirinya sendiri, kiranya dapat menyimak pernyataan yang dikemukakan orang nomor satu di tubuh militer Indonesia itu.
“Siapa bilang kita bukan nomor satu,” kata Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan jajarannya serta wartawan yang memenuhi balai media Mabes TNI Cilangkap.
Guyonan Panglima TNI nampaknya ingin menunjukkan keadaan bahwa kondisi semangat dari militer Indonesia tetaplah kuat, meski ditengah situasi keterbatasan alat utama sistem persenjataan yang dimiliki TNI.
Dengan penuh semangat, Djoko mengutip pernyataan pimpinan revolusi komunis Cina Mao Zedong “senjata memang penting dalam sebuah peperangan, namun peperangan sangat ditentukan manusia dibalik persenjataan,”.
Dalam arti lain, militansi sangat penting dan bagi TNI fokus pembinaan yang menekankan militansi bagi para prajuritnya masih merupakan modal utama untuk menjadi tentara yang profesional.
“Daya tempur tidak semata dihitung dari persenjataan, melainkan juga kekuatan militasi prajuritnya,” tutur Djoko yang mencontohkan betapa militer di negara-negara maju yang mengerahkan sebagian besar kekuatan militernya ke sejumlah negara seperti Irak, akhirnya kelelahan juga.
Jadi, tambah lulusan Akademi Militer 1975 itu, militansi itu penting, untuk menjadikan TNI sebagai tentara rakyat, tentara penjuang, dan tentara nasional yang profesional.
Namun, untuk menjadi profesional di tengah dimensi ancaman yang beragam dan kompleks, militansi saja tidak cukup. TNI profesional tetap harus dibekali dengan perlengkapan, peralatan dan persenjataan yang memadai.
Panglima TNI menegaskan, sebagai bagian dari agenda reformasi internal TNI, pihaknya terus berupaya melakukan pembinaan untuk mewujudkan TNI sebagai tentara yang profesional dalam menjalankan tugas pokoknya sebagai penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tetapi untuk mewujudkannya, TNI tidak dapat sendirian. Perlu dukungan pemerintah dan parlemen, terutama dalam modernisasi persenjataannya.
“Menjadikan TNI profesional itu memang domain TNI. Tetapi untuk menjadi profesional, dengan dilengkapi persenjataan memadai itu perlu dukungan pemerintah, parlemen dan masyarakat,” katanya.
Audit
Upaya TNI membangun profsionalisme memang masih mendapat “pertanyaan” dari berbagai kalangan, terutama dengan akuntabilitasnya dalam mengelola alutsista maupun soal keuangan. Simak saja yang disampaikan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution.
Anwar Nasution mengatakan, pemerintah seharusnya berupaya menginventarisasi dan memisahkan terlebih dulu aset yang efektif dan yang rongsokan dalam kelompok alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang digunakan TNI.
Selama ini kondisi alutsista itu dalam laporannya tidak jelas mana yang masih layak dan yang tidak dapat dipakai lagi.
Ia menjelaskan, neraca Departemen Pertahanan dan Markas Besar TNI mencatat penguasaan aset senilai Rp163 triliun atau 24 persen dari total aset tetap (aset berupa sarana fisik, bukan nonfisik seperti surat utang pemerintah).
Sekitar Rp47 triliun atau 29 persen dari aset tetap Dephan dan TNI itu berupa alat utama sistem persenjataan (alutsista). Padahal, untuk mengetahui kesiapan tempur TNI, kondisi aset itu perlu diketahui mana yang masih efektif, yang menjadi rongsokan, dan yang teknologinya ketinggalan zaman.
“Ketidakcermatan dalam melaporkan kondisi alutsista akan mengakibatkan DPR, pemerintah, dan pengguna laporan keuangan tersesat dalam mengambil keputusan dalam memodernisasi persenjataan TNI,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono mengemukakan, hingga 2008, alokasi anggaran yang disediakan negara untuk sektor pertahanan tergolong rendah, sehingga masih sulit untuk memodernisasi TNI secaar besar-besaran.
Pada 2000, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10,5 triliun, yang meningkat secara perlahan hingga tahun ini berjumlah Rp36,4 triliun dan pada 2010 menjadi Rp40,7 triliun.
Meski secara nominal anggaran pertahanan meningkat, rasionya terhadap nilai produk domestik bruto (PDB) cenderung menurun dan berada pada posisi di bawah satu persen (4-5 persen dari APBN).
Sebagai perbandingan, negara-negara maju ataupun negara kawasan Asia Tenggara mengalokasikan anggaran pertahanan di atas dua persen dari PDB masing- masing.
Minimnya anggaran yang dialokasikan mau tidak mau mempengaruhi kinerja dan penampilan TNI terutama terkait kesiapan dan kemampuan alat dan sistem persenjataan TNI.
Pengamat militer Universitas Indonesia, Andi Widjojanto, menilai, kebijakan anggaran belanja pertahanan pemerintahan belum berubah secara signifikan, terutama dalam besaran nominalnya.
“Faktor utama yang menghalangi pemerintah menaikkan alokasi anggaran pertahanan adalah anggaran itu sendiri, terutama ketika belanja pertahanan masih menjadi bagian dari APBN,” ujar Andi.
“Kebijakan dan postur pertahanan akan tetap selalu didikte oleh anggaran. Untuk itu, seharusnya pemerintah memikirkan sebuah terobosan baru,” katanya.
Salah satu terobosan yang bisa dilakukan adalah dengan menetapkan kebijakan penganggaran multitahun untuk belanja pertahanan dengan komitmen menaikkan besarannya, setidaknya 15 persen dari tahun sebelumnya setiap tahun
Efisiensi Manajemen
Sementara dari kacamata peniliti baik Departemen Pertahanan maupun Mabes TNI perlu melakukan efisiensi manajemen alat utama sistem senjata untuk memodernisasi dirinya, ditengah minimnya anggaran.
Jaleswari Pramodhawardani dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) LIPI mengatakan, satu dasawarsa reformasi TNI menunjukkan, kendatipun jumlah anggaran pertahanan selalu diusulkan naik, tidak satu presiden pun mampu melakukannya sesuai dengan usulan maupun rencana strategis yang diajukan Departemen Pertahanan.
“Sulitnya anggaran pertahanan naik secara signifikan, diperlukan langkah penting sebagai terobosan memenuhi kebutuhan alutsista yang memadai,” katanya.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain, penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Dephan yang komprehensif. Kebutuhan minimal Dephan/TNI selama ini menggunakan perhitungan proyeksi anggaran secara regresi linear dari kebutuhan atau usulan pada tahun sebelumnya.
Dengan penambahan laju inflasi 10 persen, kenaikan rata-rata APBN selama lima tahun dan rata-rata kenaikan rencana anggaran belanja Dephan/TNI selama lima tahun.
“Hal itu, tidak mencerminkan kebutuhan perumusan renstra pertahanan yang sesungguhnya. Renstra pertahanan penting dilakukan karena hal ini yang akan menentukan arah pengembangan postur pertahanan nasional, akuisisi persenjataan yang diperlukan, dan besarnya anggaran yang dibutuhkan,” tuturnya.
Bagaimana pun, Renstra memerlukan perhitungan rumit karena harus mengombinasikan alokasi sumber daya nasional yang diperlukan untuk mempertahankan postur pertahanan yang saat ini ada (arms maintanence) dan kebutuhan untuk memulai proses modernisasi pertahanan (arms build- up).
Kedua, konsep dan strategi pertahanan serta pengadaan alutsista, haruslah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sistem pertahanan udara dan bawah laut hendaknya mendapat prioritas pertama, mengingat Indonesia sebagai negara maritim sangat rapuh terhadap ancaman musuh.
Berdasar data Departemen Pertahanan Indonesia kini
memiliki 173 jenis alutsista dari 17 negara. TNI Angkatan Udara memiliki 87 pesawat tempur dari sejumlah negara yang sebagian usianya lebih dari 20-30 tahun.
“Kita harus mulai mengubah “mindset” untuk tidak melulu memikirkan jumlah alutsista, tetapi di sisi lain justru mengabaikan modernisasi teknologi alutsista dengan bersembunyi di balik minimnya anggaran. Lebih baik kita memiliki dua kapal selam baru dengan dukungan teknologi terbaru dan persenjataan tercanggih ketimbang membeli 10 kapal selam bekas tanpa dipersenjatai dan memiliki spesifikasi tempur yang andal,” papar Jaleswari.
Ketiga, sumber alutsista dan pendanaan alutsista. Selama ini pengadaan alutsista kita didanai fasilitas kredit ekspor (FKE) yang mensyaratkan bunga yang tinggi dan pengembalian cepat.
“Perlu optimalisasi peran badan usaha milik negara industri strategis (BUMNIS) untuk mengisi kesenjangan kebutuhan alutsista TNI,” katanya.
Keempat, mempergunakan strategi “offset”, salah satu cara untuk melakukan inovasi sistem pembelian senjata. Pengertian ini mengacu pada pembelian atau investasi timbal balik yang disepakati pemasok senjata sebagai imbalan dari kesepakatan yang dilakukan.
Ada dua tipe offset yang bisa dimintakan oleh Indonesia, yaitu “licensed production” atau “co-production”. Licensed production yaitu transfer teknologi oleh negara produsen kepada Indonesia. seangkan co-production, adalah melibatkan Indonesia dalam pembuatan komponen peralatan militer yang tengah dipesan, selain itu juga menghasilkan peralatan militer yang sama untuk memenuhi pesanan dari negara produsen maupun pasar internasional.
Kelima, melibatkan daerah-daerah (terutama daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang berlimpah dan berada di wilayah perbatasan/ strategis) membantu pembiayaan pertahanan melalui dana hibah.
“Mekanisme penganggarannya perlu dicermati dengan tetap meletakkan APBN sebagai satu- satunya pembiayaan pertahanan negara sesuai dengan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,” katanya.
Dengan beberapa langkah efisiensi manajemen itu, TNI diharapkan dapat memodernisasi dirinya untuk lebih profesional. Militansi, semangat cinta tanah air, dan bela negara tentu penting, namun tetap tidak akan efektif tanpa dukungan persenjataan yang handal.
Persenjataan mumpuni tentu akan menaikkan moral dan militansi prajurit untuk semakin gigih mempertahankan negaranya dari gempuran musuh. (*)
Related posts
Yogyakarta Gagas Wisata Batik
October 5, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berniat mengembangkan wisata batik pada 2010, menyusul pengakuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) terhadap batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.
“Kami tahun depan akan mengembangkan wisata yang berhubungan batik, misalnya di berbagai kampung batik dijadikan tempat belajar cara membatik,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yulia Rustiyaningsih, di Yogyakarta, akhir pekan kemarin.
Menurut dia, pengakuan UNESCO atas batik Indonesia tersebut diharapkan dapat membantu upaya melestarikan batik. Rencana awal yang akan dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk mengembangkan pariwisata minat khusus tersebut adalah mengembangkan wilayah yang sudah terkenal sebagai tempat produksi batik di Kota Yogyakarta. “Salah satunya adalah Kampung Taman di Kecamatan Kraton. Wisatawan bisa diajak belajar membatik,” katanya.
Ia berharap wisatawan yang tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang batik bukan hanya berasal dari mancanegara, tetapi juga wisatawan nusantara. “Wisatawan dalam negeri juga meminati batik. Jika berkunjung ke Yogyakarta mereka selalu mencari batik sebagai cenderamata,” katanya.
Menurut dia, Pasar Beringharjo, sebagai pusat penjualan batik, juga akan terus dikembangkan sebagai bagian dari wisata batik di Yogyakarta. Ketua Umum Paguyuban Pecinta batik Indonesia (PPBI), Larasati Sulianti Sulaiman sebelumnya menyatakan pengakuan UNESCO atas batik Indonesia merupakan bentuk pengakuan dunia terhadap keagungan batik sehingga harus dijadikan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk melestarikannya.
Menurut dia, salah satu usaha pelestarian yang dapat ditempuh adalah mengenalkan batik kepada seluruh masyarakat Indonesia, karena masih ada masyarakat yang belum mengetahui batik. “Selain itu perlu pula juga dilakukan regenerasi perajin batik,” katanya.



