Pemain-pemain Bola yang Bunuh Diri
November 22, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita
ADA pelajaran penting di balik kematian kiper Jerman, Robert Enke, beberapa waktu lalu. Popularitas ternyata tak menjamin kebahagiaan. Berbagai persoalan hidup terus saja menghajarnya. Karena tak kuat menanggung beban, dia memilih bunuh diri.
Enke bukan satu-satunya tokoh dari kalangan sepak bola yang kehilangan nyawa dengan tragis. Masih banyak nama-nama lain yang melakukan tindakan konyol tersebut. Berikut pelaku-pelakunya.
![]()
Justin Fashanu
Pada 1998, Justin Fashanu tewas gantung dri. Mantan pemain Manchester City era 1990-an itu nekat melakukannya karena dia tidak kuat dengan anggapan negatif terhadapnya.
Sebelum tewas, Fashanu dituduh mencabuli anak berumur 17 tahun. Itu dilakukannya usai menenggak minuman keras di apartemennnya. Tuduhan itu makin kuat ketika banyak bermunculan pemberitaan soal Fashanu yang bergabung di komunitas homoseksual.
![]()
(kanan)
Sergio Lopez Segu
Sergio Lopez Segu tewas secara tragis. Pada 4 November 2006, dia menabrakkan diri ke sebuah kereta api yang berjalan cepat. Nyawanya melayang seketika. Dia tewas di umur 39 tahun.
Mantan gelandang Barcelona era 1990-an tersebut nekat melakukannya karena tak kuat menahan cobaan hidupnya. Pemain yang sukses mengantarkan Barcelona menjuarai Piala Winners 1989 itu memang pensiun dini karena cedera lutut. Ini membuatnya depresi berat. Ditambah lagi pernikahannya gagal.
Paul Vaessen
Agustus 2001, sepak bola Inggris dihebohkan dengan tewasnya Paul Vaessen, Pemain Arsenal itu bunuh diri di bak mandi dengan cara mengonsumsi heroin hingga over dosis. Sebelumnya dia sempat ditangani oleh psikiatris, tapi gagal.
Perjalanan kaier pencetak gol kemenangan Arsenal ke gawang Juventus pada semifinal Piala Winners 1980 itu memang menyedihkan. Di musim pertamanya, dia memesona. Namun, di musim-musim berikutnya dia rentan cedera.
Vaessen lalu pensiun. Beberaap pekerjaan sempat digeluti. Mulai dari tukang pos hingga buruh bangunan. Sepertinya Vaessen tak bisa menerima kenyataan dan stres. Karena frustrasi, narkoba lalu dijadikan pelarian hingga mengakhiri hidupnya.
Asgotino Di Bartolomei
Kematian legenda AS Roma, Agostino di Bartolomei, juga menyedihkan. Pada 30 Mei 1994, dia menembak dirinya tepat di jantung. Diduga, Bartolomei bunuh diri karena depresi.
Dugaan penyebab depresi bermacam-macam. Diperkirakan dia tak kuat dengan bebam ekonomi yang mengimpit. Ada juga yang menduga dia tidak siap ketika pensiun dari sepak bola.
Kehidupannya berakhir mengenaskan. Selama aktif sebagai pemain, sepak terjang Bartolomei memang meyakinkan. Dia punya andil besar mengantarkan Roma merebut scudetto pada 1983. Tapi, setelah itu kariernya meredup dan sederet masalah pribadi terus-terusan mengganggunya.
Sandor Kocsis
Sandor Kocsis adalah striker hebat Barcelona di kurun waktu 1958-1965. Pada 22 Juli 1979, saat berumur 49 tahun, dia meninggal dunia. Sampai saat ini, banyak yang percaya dia tewas karena bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari lantai empat di sebuah rumah sakit. Namun, ada juga yang memberitakan murni kecelakaan.
Menjelang akhir hayatnya, kesehatan Kocsis memang menurun drastis. Striker yang punya julukan Golden Head ini menderita kanker perut dab leukimia. Diduga, karena sulit menyembuhkan dua penyakit itu, Kocsis stres lalu bunuh diri.
Juan Gamper
Juan Gamper adalah aktor penting di balik lahirnya Barcelona. Pria kelahiran Swiss ini juga presiden pertama klub asal Spanyol tersebut. Selama menjadi presiden, Barcelona dibawanya meraih beberapa gelar, di antaranya 11 Championnat de Catalunya dan enam Copa del Rey.
Gamper sangat menyokong nasionalisme Catalan. Akibatnya, pria yang juga pendiri klub asal Swiss, FC Zurich ini pun diusir keuar dari Spanyol. Karena tak kuat dengan perlakuan tersebut, Gamper bunuh diri.
Matthias Sindelar
Matthias Sindelar adalah salah satu pemain besar yang pernah dilahirkan Austria di era 1930-an. Tapi perjalanan hidupnya tragis. Kematiannya masih kontroversial. Ada yang bilang bunuh diri, namun ada juga yang menyebut dibunuh secara “halus”.
Pada 23 Januari 1939, Matthias Sindelar bersama pacarnya, Camilla Castagnola ditemukan tewas di sebuah apartemen di Wina, Austria. Kematiannya diduga akibat keracunan kabon monoksida dari pemanas yang bocor. Dugaan lain, rezim Nazi terlibat karena saat itu Sindelar menolak bermain mewakili Jerman.
Related posts
Bunuh Diri Sambil Telepon Pacar
September 12, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Namun, Muhammad Suryadika (22), mahasiswa Universitas Negeri Jember (Unej), memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tak ayal, aksi nekatnya membuat kaget warga Jalan Manggar Gang Jambuan, Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Jember.
Dika, demikian panggilan akrab pemuda itu, ditemukan tewas sekitar pukul 09.00, Kamis (10/9). Ia ditemukan oleh keponakannya, Fitri (12), tergantung di kusen jendela kamar tidurnya.
Sebelum tubuhnya diturunkan dari tali yang menggantungnya, tangan korban diketahui masih dalam posisi memegang ponsel, bahkan headset ponsel masih terpasang di telinganya. Diduga, Dika bunuh diri ketika masih berkomunikasi menggunakan ponselnya, atau beberapa saat setelah ia menghubungi seseorang dengan ponselnya. Dugaan ini juga dibenarkan oleh Pak Mutik, tetangga korban, yang ikut menurunkan tubuh korban dari lilitan tali.
“Kalau melihat kondisi itu, diperkirakan sebelum meninggal, korban sempat berbicara dengan nomor yang ada di ponselnya,” ungkap Pak Mutik.
Dari informasi yang beredar, Dika ditengarai bunuh diri karena ada masalah dengan pacarnya, Anis. Pak Mutik juga mengaku sempat mengecek ponsel milik Dika. Dalam daftar panggilan, nomor terakhir yang dihubungi oleh Dika adalah nomor ponsel milik Anis. “Bahkan, ada dua kali komunikasi (dengan Anis),” ujar Pak Mutik.
Pak Mutik membenarkan Anis adalah pacar Dika, dan gadis itu beberapa kali bertandang ke rumah Dika. Meski begitu, pihak keluarga tidak mengetahui secara pasti yang menyebabkan Dika nekat gantung diri. Sebab, sebelum diketemukan dalam posisi menggantung di kusen jendela kamar, korban yang tercatat sebagai mahasiswa D3 Jurusan Manajemen Perusahaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jember itu tidak menunjukkan sikap dan perilaku yang aneh. Dika bahkan pada Kamis dini hari itu masih menikmati makan sahur bersama keluarga.
“Saya tidak menyangka, adik saya akan nekat seperti ini. Wong tadi malam juga masih ikut makan sahur,” terang Sugiono, kakak korban. Menurutnya, selama ini adiknya tidak pernah mengeluh atau bercerita tentang masalah pribadinya. Selama ini, korban berperilaku wajar-wajar saja. Namun, dalam dua hari terakhir, ia terlihat murung. Namun, hal itu dianggap Sugiono biasa saja.
“Beberapa malam lalu sempat telepon ke Bapak yang ada di Bali,” ujarnya. Dalam perbincangan di telepon itu, Dika sempat meminta kiriman uang untuk membeli buku.
Hingga saat peristiwa itu terjadi, Dika belum mendapatkan uang kiriman itu. Orangtua Sugiono dan Dika bekerja di Bali. Sugiono beserta adiknya itu mengontrak rumah di Jalan Manggar untuk lima tahun.
“Mengapa dia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini. Saya sendiri tidak yakin ketika diberitahu kalau adik saya melakukan ini,” kata Sugiono dengan meneteskan air mata.
Pendiam
Menurut sepupu Dika, Imam Riyadi, selama ini korban jarang bergaul dengan teman sebayanya di lingkungan setempat. Korban tergolong pemuda pendiam dan tak pernah keluar rumah.
Imam juga menambahkan bahwa saat pertama ditemukan, bagian kaki tubuh korban sedikit menyentuh kasur karena jarak antara kusen dan tempat tidur di bawahnya sangat dekat. ”Kakinya tadi sudah menyentuh kasur yang ada di bawahnya. Sepertinya, ada kursi kecil yang dipakai korban untuk pijakan (bunuh diri),” ujarnya.
Sementara itu, nomor Anis, yang masuk dalam daftar terakhir panggilan di ponsel Dika, sempat dihubungi oleh keluarga Dika. Namun, yang mengangkat adalah seorang laki-laki yang mengaku sebagai kakak Anis dan mengatakan bahwa Anis sedang tidak berada di rumah.
Pak Mutik yang sempat memeriksa ponsel Dika mengaku sempat membaca isi pesan singkat yang tertulis “selamat tinggal” di ponsel Dika. Namun, belum diketahui, ucapan selamat tinggal itu ditujukan atau dikirimkan kepada siapa.
Kapolsek Patrang AKP Mustamo menyatakan, jika melihat tanda-tanda yang terdapat pada tubuh korban, seperti lidah menjulur dan korban mengeluarkan sperma, itu merupakan tanda-tanda orang meninggal karena gantung diri.
”Tapi semua itu masih perlu visum untuk memastikan penyebab kematian korban. Karena itu, jenazah kami bawa ke rumah sakit,” katanya. (st9)
Related posts
Bikin Gol Bunuh Diri, Pemain Tewas di Lapangan
September 7, 2009 by hafeez
Filed under Olahraga Kita

Seorang pemain sepak bola di Republik Ceko mendadak tewas setelah mencetak gol bunuh diri. Pemain itu diduga meninggal karena serangan jantung.
Kantor berita CTK menyebutkan, kejadian itu berlangsung ketika bek Michal Jezek membela tim kecil dalam sebuah kompetisi liga regional di distrik Kladno. Baru sembilan menit berjalan, bek 31 tahun itu melompat untuk membuang bola tapi justru membuat gawangnya terkoyak. Ia kemudian jatuh di lapangan dan tak sadarkan diri.
“Dia tampaknya tak punya masalah kesehatan sama sekali,” kata rekan satu tim Jezek kepada CTK.
Rekan-rekan Jezek kemudian memanggil paramedis dan ambulans datang beberapa menit kemudian. Namun, dokter tak mampu menyelamatkan nyawanya.
“Dia terkena penyakit serangan jantung dan sayangnya kami tidak mampu menyadarkannya kembali,” kata Tereza Janeckova, petugas di mobil ambulans, kepada situs idnes.cz.
Josef Horak, seorang dokter setempat, mengatakan, kematian itu bisa disebabkan oleh stres yang datang tiba-tiba termasuk kaget setelah mencetak gol bunuh diri. “Stres mendadak dapat memicu kejadian tersebut,” ujarnya.
Jezek meninggalkan seorang istri dan putri yang baru berusia enam bulan. (AP)



