Buaya Purba dengan Taring Babi Hutan, Gigi Tikus dan Moncong Lebar

November 22, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita


Sejenis buaya sepanjang 6 meter yang memiliki tiga pasang taring seperti taring babi hutan, pernah menjelajahi wilayah Afrika bagian utara jutaan tahun lalu. Pada masa yang sama, di tempat yang tak jauh, jenis buaya lain dengan moncong lebar dan datar hidup dengan berburu ikan. Masih di wilayah tersebut, jenis buaya lain sepanjang satu meter dengan gigi pengerat mencari ulat dan mengunyah tanaman.

Tiga spesies yang baru ditemukan fosilnya itu diperkenalkan oleh peneliti Paul Sereno dari Universitas Chicago dan Hans Larsson dari Universitas McGill di Montreal, Kamis (19/11). Mereka bicara dalam konferensi pers yang diselenggarakan National Geographic Society.

“Spesies-spesies ini membuka jendela mengenai dunia buaya di bagian utara benua itu,” ujar Sereno tentang hewan-hewan yang hidup 100 juta tahun lalu itu.

Menurut para peneliti, buaya-buaya itu bisa bergerak lincah di daratan untuk mengejar mangsa dan menyelam di air. “Mereka memiliki kaki yang mampu digunakan berlari dan ekor yang bisa dipakai mengayuh di air. Kemampuan itulah yang membuat mereka bisa selamat di masa dinosaurus,” papar Sereno.

Ketiga spesies yang ditemukan itu adalah:

• Kaprosuchus saharicus, disebut juga “Buaya Celeng” ditemukan di Niger. Pemakan daging sepanjang 6 meter ini memiliki moncong yang berisi tiga pasang taring untuk memotong daging. Taring di rahang atas dan bawah itu mirip taring babi hutan, sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya pada buaya.

• Araripesuchus rattoides, atau dijuluki “Buaya Tikus” ditemukan di Maroko. Hewan sepanjang satu meter ini makan ulat dan tanaman. Ia memiliki gigi seperti tikus di rahang bawahnya untuk menggali tanah.

• Laganosuchus thaumastos, atau “Buaya Pancake” di Niger dan Maroko. Panjangnya sekitar 6 meter dan makanannya ikan. Hewan ini memiliki kepala datar seperti panekuk sepanjang satu meter dan gigi-gigi tegak di rahangnya. Diduga ia menangkap ikan dengan membuka rahangnya dan menanti ikan lewat.

Sebagai tambahan, para peneliti juga menemukan fosil dari dua spesies buaya yang telah dikenal sebelumnya, yakni:

• Anatosuchus minor, alias “Buaya Bebek” yang ditemukan di Niger. Buaya sepanjang satu meter yang memiliki moncong lebar dan hidung mirip pinokio ini memangsa ikan, kodok, dan ulat. Ia memiliki sensor khusus di ujung moncongnya untuk mencari mangsa di perairan dangkal.

• Araripesuchus wegeneri, atau “Buaya Anjing” ditemukan di Niger. Hewan sepanjang satu meter ini memakan tumbuhan dan memiliki hidung mengarah ke depan seperti hidung anjing.

Sereno fokus meneliti buaya purba di Gurun Sahara sejak ia menemukan fosil Sarcosuchus imperator, buaya sepanjang 12 meter yang diduga beratnya mencapai 8 ton dan kemudian dikenail sebagai “SuperCroc.”

sumber

Related posts

Humas Polri: Belum Tahu Alasan Pengunduran Susno

November 5, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol. Nanan Soekarna mengaku belum mengetahui alasan pengunduran diri Komjen Pol. Susno Duadji sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri.

Nanan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, mengatakan dirinya belum mengetahui alasan Susno mengundurkan diri dari jabatannya karena surat pengajuannya langsung dikirim ke Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri.

“Saya tidak tahu apakah Kapolri sudah memutuskannya terkait pengunduran diri Pak Susno,” kata Nanan.

Nanan menyatakan pihaknya belum mengetahui mekanisme pergantian jabatan Kabareskrim yang ditinggalkan Susno itu karena kewenangannya Kapolri.

Namun jenderal bintang dua itu, mengungkapkan kemungkinan besar, Wakil Bareskrim, Brigjen Pol. Dikdik Mulyana Arif akan menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kabareskrim menggantikan posisi Susno.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri di Istana Presiden, Kamis pagi, menyatakan Susno sudah mengajukan surat pengunduran diri sebagai Kabareskrim Mabes Polri.

Dugaan sementara, pengunduran diri Susno terkait dengan penyebutan namanya pada rekaman percakapan antara pengusaha Anggodo Widjojo dengan sejumlah penegak hukum, antara lain Wisnu Subroto (mantan Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung) dan beberapa penyidik Polri.

Pada rekaman percakapan hasil penyadapan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu, Anggodo menyebut nama Susno dan sejumlah penyidik bernama Dikdik, Benny, Parman dan Gupuh.

Rekaman percakapan Anggodo diduga merupakan upaya merekayasa penetapan tersangka terhadap pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah.

Selain itu, Jaksa Agung, Hendarman Supandji menyatakan Wakil Jaksa Agung Abdul Ritonga juga sudah mengajukan pengunduran diri yang diduga terkait dengan penyebutan namanya pada rekaman percakapan Anggodo.(*)

sumber

Related posts

Tiba-tiba Muncul Buaya di Parit

September 11, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Warga Jalan Haji Nafi, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, sempat heboh dan resah dengan ditemukannya anak buaya di sebuah parit ketika sedang memangsa binatang lain, Selasa (8/9). Efek dari ditemukannya anak buaya betina dengan panjang 90 cm dan berat dua kilogram itu, warga curiga kalau induk binatang itu ada di sekitar lokasi tersebut, apalagi parit itu letaknya dekat rawa-rawa.

Karena itu, kemarin pagi, seratusan warga setempat menyisir beberapa lokasi di sekitar tempat penemuan anak buaya itu. Ditakutkan, bila ada induknya, tidak tertutup kemungkinan makhluk itu akan memangsa ternak warga maupun anak-anak.

Amri (32), saksi mata, mengatakan, awalnya anak buaya itu dilihat Iman (17) dan dikira biawak, apalagi di Meunasah Mesjid belum pernah ditemukan buaya. Saat rekan Iman, Suheri (19), berhasil menangkap dengan cara ditutup dengan kain dilanjutkan menggunakan keranjang sampah, anak buaya itu tak berkutik lagi.

“Saat kami lihat secara dekat, ternyata binatang itu bukan biawak, tapi buaya karena moncongnya lebih panjang, ekornya berduri, dan badanya bersisik seperti duri,” ujarnya.

Saat seratusan warga melakukan penyisiran di sekitar rawa-rawa, mereka tidak menemukan induk buaya. Rawa-rawa itu mengelilingi rumah warga. Warga Meunasah Mesjid pun mengharapkan agar dinas terkait dapat mencari atau memastikan keberadaan induk buaya itu sehingga hal-hal yang tak diinginkan bisa dicegah. (bah)

sumber

Related posts

Buaya Mengganas, Dua Jadi Korban

August 27, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Setelah beberapa bulan ditenangkan pawang, buaya Sungai Bangka Kota kembali mengganas. Dua hari terakhir, sudah dua warga menjadi korban. Seorang nelayan tewas mengenaskan, sedangkan satu lainnya terluka parah.

Korban tewas bernama Madi (15), warga Dusun Limang, Desa Pangkalberas, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat. Ia ditemukan tidak bernyawa lagi dengan kondisi luka mengenaskan di beberapa bagian tubuhnya, Rabu (26/8) pukul 08.00.

Kades Bangka Kota Safei Embun dan Kaur Pemerintahan Desa Pangkalberas Hartono yang dihubungi terpisah membenarkan peristiwa itu.

Awalnya, Madi bersama lima temannya berangkat dari Sungai Pangkalberas, Selasa, seusai sahur. Mereka menggunakan dua perahu motor tiba di muara Sungai Bangka Kota untuk mencari kepiting hitam. Para nelayan ini kemudian berpencar menggunakan perahu kolek. Tiba-tiba seorang temannya melihat Madi terjungkal ke sungai bersama dayung yang dipegangnya. Teman itu mendekat dan menyadari Madi tak ada lagi di atas perahu.

“Informasi yang saya dengar dari masyarakat, korban dimakan buaya, cuma kebenarannya saya belum begitu jelas karena saya hanya sebatas dengar-dengar,” kata Hartono dihubungi via ponsel, tadi malam.

Menurutnya, setelah sepanjang malam dicari, Madi baru ditemukan pada Rabu sekitar pukul 08.00. Korban mengapung di alur sungai tidak jauh dari lokasi perahu yang dibawanya.

Sejumlah bagian tubuh korban, yakni salah satu tangan dan kakinya putus, terpisah dari badannya. Ada goresan bergaris di bagian tubuh dan luka-luka di kepala, diduga gigitan buaya.

“Setelah tubuhnya ditemukan mengapung, teman-teman korban terus mencari potongan tangan dan kakinya yang sudah putus. Kaki dan tangan yang putus itu, saya juga tidak tanya apakah kanan apa kiri, tapi ditemukan di tempat terpisah,” kata Hartono.

Madi awalnya hendak dimakamkan di Dusun Pangkalberas, tetapi keluarga minta supaya dikebumikan di Kampung Limang, Desa Pangkalberas. “Sore atau siang tadi (Rabu), korban dimakamkan di Limang karena permintaan dari orangtuanya,” kata Hartono.

36 jahitan

Sehari sebelumnya, Senin pukul 07.00, Aswin (26), warga Desa Bangka Kota, juga diserang buaya. Peristiwa terjadi saat menjelang salat isya dan tarawih. Aswin hendak mengambil wudu di tepi sungai belakang masjid. Tak disangka, seekor buaya besar berukuran sekitar 4 meter menyambar kakinya. Aswin menjerit sejadi-jadinya.

Meski kakinya sudah disambar buaya, pemuda itu tak mau menyerah begitu saja. Sekuat tenaga Aswin membuka mulut buaya yang mencengkeram kakinya. Gigitan buaya sempat terlepas. Namun, belum sempat Aswin menjauh, kembali terkaman bersarang di paha korban.

Aswin yang pahanya mengucurkan darah berusaha memukul kepala buaya. “Saat itu warga dan jemaah masjid mulai ramai ke tepi sungai menolong Aswin,” tutur Kades Bangka Kota Safei Embun yang dihubungi lewat telepon, Selasa petang.

Setelah sekitar 15 menit kemudian baru buaya itu melepaskan gigitannya. Namun, reptil itu rupanya masih mengincar korban dan sempat menunggu beberapa saat di tepi sungai sebelum akhirnya menghilang dari pandangan warga yang berusaha menangkapnya.

Aswin langsung dilarikan warga ke Puskesmas Simpangrimba untuk mendapat pertolongan. Korban mengalami pendarahan cukup banyak dari luka terkaman buaya di paha dan kakinya. Akibat luka gigitan itu, Aswin harus mendapatkan 36 jahitan. “Aswin untuk sementara ini tak bisa berbuat apa-apa, terbaring di rumah,” ujar Safei.

Delapan bulan ini, setidaknya sudah empat kali buaya Sungai Bangka Kota menyerang warga. “Kami sudah berusaha untuk melakukan ritual dengan memanggil dukun untuk menjinakkannya. Namun, menurut dukun, ada beberapa pantangan yang dilanggar warga sehingga buaya itu kembali mengganggu, misalnya ada warga yang membuang kotoran atau sisa daging ke sungai, itu tidak boleh,” ujar Safei yang sedang berkonsultasi dengan para tetua Desa Bangka Kota untuk mencari jalan lain menjinakkan buaya dan menjauhkan warga dari terkaman buaya.

Warga setempat sudah cukup resah dengan ulah buaya Sungai Bangka Kota. Untuk itu, Safei mengimbau warga lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas di sungai. Diharapkan juga warga tidak melanggar pantangan sang dukun sehingga bisa menjinakkan buaya-buaya di sana. (j2/yik/fly)

sumber

Related posts

Kisah Persahabatan Buaya dan Manusia di Costa Rica

August 17, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita, Otomotif Kita

Kalau dalam cerita Babad Tanah Jawi, Jaka Tingkir yang bergelar Raden Adiwijaya berhasil mengalahkan buaya-buaya dalam pertempuran sengit di sebuah sungai, Chito, nelayan asal Costa Rica ini tidak kalah hebat.

Buaya bernama Pocho sepanjang 5,18 m (17 kaki) setiap hari harus digauli, digelutinya. Pria usia 52 tahun ini mesti bergulat dengan buaya seberat 444 kilogram hanya untuk memberi cinta. “Pocho adalah teman baikku. Ini merupakan permainan rutin yang berbahaya, tetapi semua ini demi meningkatkan hubungan kami. Dia akan memandang mataku dan tak akan menyerangku. Tentu ini bakal berbahaya bagi orang lain. Ini hanya untuk kami berdua,” jelas Chito.

Chito mulai berteman dengan Pocho setelah buaya ini ditemukan terluka akibat tembakan seorang petani di Sungai Parismina di negara bagian Amerika Tengah 20 tahun lalu. Dia tertembak di sebelah kiri matanya dan nyaris mati.

Namun Chito berhasil menyelamatkannya dan memasukkannya ke perahunya. “Saat kutemukan, Pocho sedang sekarat, aku membawanya langsung ke rumah. Saat itu kira-kira 68 kilogram beratnya. Saya beri dia ayam dan ikan serta obat selama enam bulan sampai sembuh. Saya juga selalu berada di samping Pocho, tidur dekatnya di malam hari. Saya hanya ingin agar dia merasa bahwa seseorang mencintainya dan tidak menganggap semua manusia jahat.”

Pocho tidak begitu saja dekat dengan Chito. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai kedekatan ini dan pelan-pelan. Saat nyaris sembuh, Pocho sempat ditinggalkan di sebuah sungai di dekat rumah Chito. Tapi, Pocho muncul dari air dan mengikuti Chito. “Saya mencintai semua binatang, terutama yang menderita sakit.” jelas Chito.

Saat ini Pocho dan Chito yang bernama asli Gilberto Shedden dan digelari “Tarzan Tico” menjadi tontonan menarik para wisatawan yang ingin melihat atraksi sungai. Keduanya telah menjadi sahabat dan menghibur banyak orang di Costa Rica.

sumber

Related posts

Kisah Persahabatan Buaya dan Manusia di Costa Rica

August 17, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Comments Off

Kalau dalam cerita Babad Tanah Jawi, Jaka Tingkir yang bergelar Raden Adiwijaya berhasil mengalahkan buaya-buaya dalam pertempuran sengit di sebuah sungai, Chito, nelayan asal Costa Rica ini tidak kalah hebat.

Buaya bernama Pocho sepanjang 5,18 m (17 kaki) setiap hari harus digauli, digelutinya. Pria usia 52 tahun ini mesti bergulat dengan buaya seberat 444 kilogram hanya untuk memberi cinta. “Pocho adalah teman baikku. Ini merupakan permainan rutin yang berbahaya, tetapi semua ini demi meningkatkan hubungan kami. Dia akan memandang mataku dan tak akan menyerangku. Tentu ini bakal berbahaya bagi orang lain. Ini hanya untuk kami berdua,” jelas Chito.

Chito mulai berteman dengan Pocho setelah buaya ini ditemukan terluka akibat tembakan seorang petani di Sungai Parismina di negara bagian Amerika Tengah 20 tahun lalu. Dia tertembak di sebelah kiri matanya dan nyaris mati.

Namun Chito berhasil menyelamatkannya dan memasukkannya ke perahunya. “Saat kutemukan, Pocho sedang sekarat, aku membawanya langsung ke rumah. Saat itu kira-kira 68 kilogram beratnya. Saya beri dia ayam dan ikan serta obat selama enam bulan sampai sembuh. Saya juga selalu berada di samping Pocho, tidur dekatnya di malam hari. Saya hanya ingin agar dia merasa bahwa seseorang mencintainya dan tidak menganggap semua manusia jahat.”

Pocho tidak begitu saja dekat dengan Chito. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai kedekatan ini dan pelan-pelan. Saat nyaris sembuh, Pocho sempat ditinggalkan di sebuah sungai di dekat rumah Chito. Tapi, Pocho muncul dari air dan mengikuti Chito. “Saya mencintai semua binatang, terutama yang menderita sakit.” jelas Chito.

Saat ini Pocho dan Chito yang bernama asli Gilberto Shedden dan digelari “Tarzan Tico” menjadi tontonan menarik para wisatawan yang ingin melihat atraksi sungai. Keduanya telah menjadi sahabat dan menghibur banyak orang di Costa Rica.

sumber

Related posts