Ada Gurita Bercangkang Kelapa

December 17, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Para ilmuwan Australia telah menemukan gurita di Indonesia yang mengumpulkan batok kelapa untuk dijadikan rumah. Ini bisa jadi merupakan penemuan perilaku tingkat lanjut yang pertama bagi binatang invertebrata (tanpa tulang belakang) yang mampu memakai alat.

Para ilmuwan memfilmkan gurita Amphioctopus marginatus itu yang tengah memilah kumpulan batok-batok kelapa di dasar lautan, mengosongkan isinya, dibawa di bawah tubuhnya sejauh 20 meter, dan kemudian mengatur dua batok sehingga membentuk bola tempat bersembunyi.

Julian Finn dan Mark Normann, dari Musium Victoria di Melbourne, selama beberapa kali mengunjungi Sulawesi Utara dan Bali untuk menyelam, antara periode 1998 sampai 2008, telah melihat aktivitas janggal dilakukan oleh empat gurita berbeda. Penemuan mereka diterbitkan, Selasa (15/12/2009) di majalah Current Biology.

“Saya sampai tercengang,” kata Finn, seorang peneliti pakar biologi dari musium yang berspesialisasi pada Cephalopoda. “Maksudku, aku sering melihat gurita bersembunyi di balik batok kelapa, tapi aku tadinya belum pernah melihat ada yang bisa mengambil batok, dan menariknya. Aku sampai harus menahan tawa.”

Gurita seringkali memakai barang apa saja untuk berlindung. Tapi para ilmuwan telah menemukan bahwa gurita berpembuluh darah itu selangkah lebih maju karena bisa menyiapkan batok-batoknya, dengan cara membawanya cukup jauh, lalu mengaturnya di tempat lain.

“Itu adalah contoh pemakaian alat, yang mana belum pernah ditemukan pada mahluk invertebrata sebelumnya,” kata Finn.

“Bedanya dari umang-umang darat ialah gurita ini mengumpulkan batok-batok untuk digunakan belakangan, jadi ketika memindahkan batok, gurita itu tak terlindungi,” kata Finn. Hal ini unik karena batok itu tak langsung dipakai, berarti gurita itu bisa berpikir untuk masa depan. “Karena bisa mengumpulkan batok untuk digunakan nanti maka gurita ini unik.”

Para peneliti berteori bahwa kemungkinan besar jenis gurita itu dulunya memang bercangkang. Tapi begitu manusia tahu membelah kelapa dan membuang batoknya ke laut, gurita-gurita itu menemukan cara yang lebih baik untuk berlindung, tutur Finn.

Penemuan ini berarti, karena ini menunjukkan bahwa hewan mampu untuk menunjukkan perilaku yang lebih rumit, menurut Simon Robson, lektor kepala bidang biologi tropis dari Universitas James Cook di Townsville.

Gurita memang menonjol sebagai hewan invertebrata yang cerdas,” Robson memaparkan. “Mereka memiliki indra penglihatan yang cukup berkembang dan otak yang cukup cerdas. Jadi aku rasa penemuan ini menunjukkan kemampuan perilaku rumit yang bisa dilakukan organisme ini.”

Di kalangan ilmiah memang selalu ada perdebatan tentang definisi ‘penggunaan alat’ dalam dunia hewan, menurut Robson. Para peneliti Australia menjabarkan ‘alat’ sebagai barang yang dibawa atau disimpan untuk keperluan mendatang. Tapi ada juga ilmuwan lainnya yang beda pendapat, jadi sulit untuk menentukan dengan pasti apakah ini memang perilaku penggunaan alat pada hewan invertebrate atau bukan, kata Robson. Tapi biar bagaimanapun ia tetap menganggap penemuan ini sangat menarik.

“Ini satu lagi contoh yang membuat kita sadar betapa miripnya manusia dengan alam. Kita hanyalah perpanjangan dari planet ini,” tandasnya.

sumber

Related posts

Ular Sanca Meringkuk di Kloset

September 7, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Seorang pria Australia akan mengganti kloset duduknya setelah menemukan ular sanca yang besarnya hampir dua kali ukuran tubuhnya melingkar di bagian “mangkuk” kloset itu.

Pawang ular Chris Peberdy dipanggil ke satu rumah di pinggir kota Virginia, dekat Darwin, di bagian utara jauh Australia setelah pemilik rumah tersebut, Erik Rantzau, menemukan ular “carpet python” sepanjang 3 meter di klosetnya.

“Bukan tidak biasa untuk menemukan ular sebesar itu di daerah tropis, tapi kita biasanya tak menemukan hewan tersebut di toilet,” kata Peberdy.

Ular itu pasti telah datang melalui saluran air. Ular tersebut menjelajahi sekeliling rumah pada malam hari dan kembali ke toilet pada siang hari,” katanya.

Peberdy, yang mengelola perusahaan penanganan ular Snake N.T., yang berpusat di Darwin, mengatakan pemilik rumah tersebut tinggal di desa tempat ular dihormati, sehingga ia membiarkan saja ular sanca itu dan menggunakan kamar mandi berbeda sampai ular tersebut dapat dipindahkan dengan selamat.

Sang pawang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk menangkap ular itu, yang tak berbisa dan membunuh mangsanya dengan lilitan. “Ular tersebut melilit pipa dengan sangat ketat sehingga saya tak dapat memindahkannya, tapi akhirnya ular itu muncul cukup jauh dari pipa sehingga saya dapat menangkapnya,” kata Peberdy, yang dipanggil untuk menangkap sampai 1.000 ular per tahun.

Ular yang ditangkap tersebut dilepaskan kembali ke pepohonan sekitar 2,5 kilometer dari rumah tempatnya ditemukan. Peberdy memberi saran kepada warga yang tinggal di daerah itu, “Tutup kloset anda dan teliti sebelum anda duduk.”

sumber

Related posts

Indonesia Harus Punya Kapal Selam Sekelas Australia

August 24, 2009 by hafeez  
Filed under Dunia Kita

Kekuatan armada laut Indonesia di era Presiden Soekarno tidak usah diragukan lagi. Belasan kapal selam telah kita miliki pada era itu. Bahkan pada era 1960-an, Angkatan Laut Indonesia dengan kapal selam yang dimilikinya sempat menjalankan misi untuk membantu Pakistan, yang ketika itu sedang berperang dengan India.

Namun setelah Soekarno lengser, armada kapal selam yang dimiliki TNI AL seperti tak tersentuh dan cenderung menyusut dari segi jumlah yang dapat dioperasionalkan. Usulan untuk membeli kapal selam pun dilontarkan oleh berbagai pihak belakangan ini. Maklum saja, sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah laut yang teramat luas, sangatlah wajar jika Indonesia memiliki armada militer laut yang memadai.

Menanggapi hal itu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, jika Indonesia hendak membeli kapal selam, hendaknya membeli kapal selam yang memiliki kualitas yang baik, seperti yang dimiliki oleh negara-negara lain. Karena jika kapal selam yang dibeli kapal selam lama atau model lama, maka Indonesia akan tetap mengalami ketertinggalan dengan negara lain.

“Ibaratnya kalau Australia punya anjing herder kita punya yang diatasnya herder lah, atau minimal sama herder. Kalau nggak ya sia-sia aja, cuma nambah beban buat kasih makan aja,” ujarnya dalam jumpa pers di rumah kediamannya di Jakarta, Minggu (23/8).

Menurutnya, negara-negara tetangga saat ini telah memiliki kapal selam yang cukup tangguh dan banyak. Karenanya, jika Indonesia ingin memiliki kapal selam hendaknya kapal selam yang berteknologi dan berkemampuan yang canggih.

“Vietnam mau beli 6 kapal selam dari Rusia. Kalau Singapura sudah punya 4, Malaysia juga sudah punya 4,” katanya.

sumber

Related posts