Siluman Vampir Cantik Gigit Leher Fakrul
October 12, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Rumor vampir di Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, terus meluas. Setelah sebelumnya warga di tiga kecamatan dibuat resah, kini warga Gampong Geunteng Timur, Kecamatan Batee, yang dibikin heboh oleh rumor keberadaan makhluk tersebut. Keresahan semakin menjadi-jadi setelah seorang pemuda desa setempat bernama Fakrul (19) mengaku sempat digigit di bagian lehernya, Minggu (11/10), sekitar pukul 00.30 WIB.
Kapolres Pidie AKBP Moffan MK mengaku bahwa pihaknya telah menerima informasi tentang isu vampir tersebut. Ia mengatakan sudah menurunkan tim ke lokasi untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Fakrul pun melakukan perlawanan terhadap makhluk siluman yang disebut-sebut berwujud seekor kucing hitam dan menjelma menjadi wanita cantik dengan bercelana pendek dan berbaju serba hitam itu.
Fakrul menuturkan, pada malam itu ia hendak tidur di kamar rumahnya. Kala itu, ia merasa ada binatang di dalam kamar yang mirip seekor kucing. Lantaran merasa terganggu, ia kemudian mengusir binatang tersebut. Namun, saat Fakrul hendak mengusir dengan tangannya, kucing tersebut menyerang.
“Yang membuat saya tak percaya, tiba-tiba binatang itu menjelma menjadi manusia, yakni seorang wanita berkulit putih, berambut panjang, dengan tinggi badan mencapai dua meter, dan bentuk badannya besar ramping,” kisah Fakrul.
Pada saat itu, kata Fakrul, sang wanita mencoba menggigit lehernya sehingga terjadi perkelahian sengit selama sekitar satu jam. Fakrul mengaku leher bagian kanannya sempat digigit hingga terluka. Karena wanita itu sangat kuat, Fakrul mengaku sempat menarik rambut panjang wanita jadi-jadian itu dan menghantam kepala sang siluman ke kosen pintu. Meski wanita yang berubah menjadi kucing hitam itu dibanting, ia tidak apa-apa.
Perkelahian itu, kata Fakrul, membuat staminanya menurun. Ia sempat berusaha kabur dari dalam rumah. Namun, wanita siluman yang memakai celana pendek dan baju serba hitam itu menariknya ke dalam rumah. Pada saat itu, Fakrul kemudian menjerit minta tolong. Akan tetapi, tak seorang warga pun terjaga, sementara mahkluk tersebut masih terus berusaha mengisap darah Fakrul di bagian leher.
Dalam pergulatan yang menguras banyak tenaga itu, Fakrul mengaku akhirnya ia bisa melepaskan diri dan kabur keluar rumah menuju rumah tetangga. “Saya menggedor-gedor pintu rumah tetangga sehingga mereka terbangun dan menolong saya,” ujar Fakrul. Saat berusaha membangunkan tetangganya, kata Fakrul, sang wanita jadi-jadian itu dengan tenang berjalan dan berusaha kabur ke arah tambak yang diselimuti pohon pandan. Meski lolos dari sergapan siluman itu, kini Fakrul mengaku trauma. Bahkan, ia untuk sementara tidak berani tinggal di rumah bantuan NGO untuk korban tsunami itu.
Kapolres Pidie AKBP Moffan MK kepada Prohaba, Minggu (11/10), mengatakan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari masyarakat tentang rumor vampir tersebut. Untuk mengecek kebenarannya, Kapolres menyatakan telah menurunkan tim ke lokasi. “Kami sudah menurunkan tim untuk mengecek kebenaran informasi tersebut,” kata AKBP Moffan.
Dikatakan, sebelum adanya isu vampir, pihaknya sudah melakukan cross chek ke lapangan, tetapi tidak menemukan bukti secara logis. “Kita inginkan masyarakat jangan cemas, tetap melakukan kegiatan seperti biasa, dan menjaga kampungnya secara bersama-sama. Jika ada orang yang mencurigakan, maka segera dilaporkan kepada pihak keamanan terdekat agar dapat diantisipasi lebih cepat,” pungkas Moffan via telepon.
Related posts
Tiba-tiba Muncul Buaya di Parit
September 11, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Warga Jalan Haji Nafi, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, sempat heboh dan resah dengan ditemukannya anak buaya di sebuah parit ketika sedang memangsa binatang lain, Selasa (8/9). Efek dari ditemukannya anak buaya betina dengan panjang 90 cm dan berat dua kilogram itu, warga curiga kalau induk binatang itu ada di sekitar lokasi tersebut, apalagi parit itu letaknya dekat rawa-rawa.
Karena itu, kemarin pagi, seratusan warga setempat menyisir beberapa lokasi di sekitar tempat penemuan anak buaya itu. Ditakutkan, bila ada induknya, tidak tertutup kemungkinan makhluk itu akan memangsa ternak warga maupun anak-anak.
Amri (32), saksi mata, mengatakan, awalnya anak buaya itu dilihat Iman (17) dan dikira biawak, apalagi di Meunasah Mesjid belum pernah ditemukan buaya. Saat rekan Iman, Suheri (19), berhasil menangkap dengan cara ditutup dengan kain dilanjutkan menggunakan keranjang sampah, anak buaya itu tak berkutik lagi.
“Saat kami lihat secara dekat, ternyata binatang itu bukan biawak, tapi buaya karena moncongnya lebih panjang, ekornya berduri, dan badanya bersisik seperti duri,” ujarnya.
Saat seratusan warga melakukan penyisiran di sekitar rawa-rawa, mereka tidak menemukan induk buaya. Rawa-rawa itu mengelilingi rumah warga. Warga Meunasah Mesjid pun mengharapkan agar dinas terkait dapat mencari atau memastikan keberadaan induk buaya itu sehingga hal-hal yang tak diinginkan bisa dicegah. (bah)
Related posts
Balum Bili, Hantu Sungai yang Takut Suara Senapan
September 11, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Krueng Arakundo telah lama dikenal banyak orang. Arakundo sempat melambung ke seantero Nusantara saat tragedi dakwah di Idi Cut pada Rabu, 3 Februari 1999, yang berakhir dengan tewasnya banyak warga yang dibuang ke Krueng Arakundo. Riak Krueng Arakundo seperti mempunyai karakter tersendiri. Airnya yang keruh dan menguning kadang-kadang deras dan kadang melambat seperti dibawa angin.
Kini sebagian besar zona Arakundo dijadikan lokasi pertambangan pasir oleh warga sekitar untuk mencari nafkah demi keluarga mereka. Setelah lama tak terdengar, kini nama Arakundo mulai mencuat lagi ke permukaan dan menjadi buah bibir warga sekitar. Santer dibicarakan mengenai “penghuni” Krueng Arakundo menyusul tenggelamnya dua bocah warga Blang Gleum, Kecamatan Julok, masing-masing Zubir (7) dan Putri (6) yang tenggelam, Minggu (6/9) sekitar pukul 16.30 WIB.
Jasad kedua bocah ini ditemukan secara terpisah oleh tim pencari. Warga sekitar menyakini kedua bocah ini dimangsa Balum Bili atau disebut pasir mengambang dalam bahasa Indonesia, setelah melihat sejumlah hal aneh sebelum tenggelamnya dua bocah itu. Benarkah, Senin (7/9) sekitar pukul 10.00, satu jam sebelum jasad Putri ditemukan tim SAR Aceh Utara, suasana terlihat begitu tegang. Ratusan warga termasuk teman-teman korban tumpah ruah ke pinggir sungai yang di sekitarnya ditumbuhi semak belukar. Kondisi air sungai menguning pekat, sebagian keluarga Putri juga ikut menyaksikan operasi pencarian sambil tertunduk lesu di pinggir sungai Arakundo. Lokasi itu sekitar dua kilometer dari badan jalan Medan-Banda Aceh.
Desas-desus berkembang bahwa kedua bocah ini diambil penunggu sungai, orang Aceh sering menyebutnya Balum Bili. Malah, sebagian besar warga yang hadir berkeyakinan, bocah putri dan temannya seperti dipanggil maut karena lokasi tempat mereka bermain tidak pernah dikunjungi anak-anak dan jarang pula disinggahi warga biasa, kecuali para penambang pasir.
Menguatnya dugaan, para bocah itu dimangsa Balum Bili ketika pencarian yang berlangsung sejak Putri tenggelam, Minggu (6/9) sore hingga Senin pagi belum membuahkan hasil. Lalu, warga melalui Mukim Julok Cut, Tgk Abdullah Harun, berinisiatif meminta Kapolsek Julok Iptu Samsuar AM yang berada di lokasi untuk melepaskan tembakan ke dalam sungai.
Menurut Mukim Julok Cut, warga di sana berkeyakinan Balum Bili takut dengan suara mesiu senjata api. Biasanya korban akan dilepaskan maksimal lamanya dua jam setelah tembakan dilepaskan. Menjelang pukul 11.00, Kapolsek memerintahkan seorang personel polisi melepaskan empat kali tembakan dari senjata AK-47 ke dalam sungai hingga memecahkan keheningan Arakundo. Selama 30 menit berselang, Tim SAR Aceh Utara berhasil menemukan jasad Putri dengan posisi telungkup di permukaan sungai.
Temuan ini sempat mencengangkan warga, dan dugaan dimangsa Balum Bili seperti tak terbantah lagi. Jasad Putri diangkat ke speedboat dengan rambutnya yang terburai dan badan mungilnya yang sudah kaku. Nyaris seketika keluarga korban berteriak dan menangis histeris saat jasad Putri dirapatkan ke daratan.
Namun, tim SAR kembali menarik speedboat ke tengah sungai agar jasad Putri bisa segera dimasukkan ke kantong mayat yang telah disiapkan. “Kebiasaan dan menurut keyakinan kami di sini bahwa korban itu dimangsa Balum Bili, dan apabila dilepaskan tembakan ke sungai biasanya akan dilepaskan. Bapak kan sudah lihat sendiri bagaimana, setelah tembakan dilepaskan, jasad Putri ditemukan,” kata Tgk Abdullah Harun meyakinkan.
Tgk Abdullah yang ketika itu badannya dibasahi keringat mengaku tidak ada cara lain yang harus dilakukan. Sebab, pencarian yang berlangsung lama masih belum membuahkan hasil. Jika upaya tembakan tidak berhasil, maka jasad korban dipastikan sulit ditemukan kecuali beberapa waktu mendatang. Tidak hanya itu, Fani, teman korban Zubir dan Putri yang selamat, juga mengungkapkan keanehan saat hendak menolong Putri. Dari mata korban terlihat seperti cairan darah sehingga hal itu memupuskan niat Fani untuk menolong. Belum lagi cerita Nita (29), kakak Putri, yang mengaku sempat bermimpi aneh selama tiga hari sebelum korban tenggelam.
Percaya atau tidak percaya, Arakundo berpenghuni atau yang sering disebut Balum Bili, setiap tahunnya, menurut cerita rakyat, memangsa korban. Yang Jelas di Aceh, cerita Balum Bili yang berbentuk seperti kelambu itu secara turun temurun dari generasi ke generasi terus dipercaya. (iskandar usman al-farlaky)



