Anjing Pelacak Pun Trauma Lihat Batu
September 7, 2009 by hafeez
Filed under Dunia Kita

Medan yang berat membuat beberapa anggota Tim Anjing Pelacak dan Deteksi Jenazah dari Subdit Satwa Samapta Babimka Mabes Polri, terluka berat saat proses pencarian korban longsor di kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat. Bahkan, satu diantaranya trauma saat diperintahkan sang pawangnya menyisiri gundukan bebatuan.
“Kalau begini, tandanya dia (anjing pelacak/Bella) sudah trauma. Karena tadi pagi, saat penyisiran kakinya terkena batu tajam, dan berdarah,” kata Kepala Tim anjing pelacak, Ipda Suyatno di lokasi longsor, Cianjur, Senin (7/9).
Anjing berjenis Wild Miner tersebut bernama Bella (6), langsung balik badan ketika melihat batu besar. Sang pawang tak ingin pulang tanpa membuahkan hasil, jadi tetap saja memerintahkan si Bella melaksanakan tugas penyisiran. Namun, meski telah dicoba tiga kali, tetap saja si Bella balik badan, seakan sudah takut sekali melihat bebatuan.
Di kaki kiri bagian depan Bella, terlihat luka masih menganga-nga dan mengeluarkan darah. Menurut Suyatno, Bella terpaksa belum bisa diberi perawatan karena tim medis anjing pelacak tidak ikut dalam penugasan kali ini. Sedangkan, peralatan P3K tertinggal di Posko yang letaknya 1 kilometer dari lokasi longsor.
Sebenarnya, anjing betina itu sudah terbilang tua. Pasalnya, Bella sudah masuk periode akhir masa produktifitas kerjanya. Meski demikian, Bella termasuk anjing yang berkualitas dalam hal pengendusan titik-titik yang diindikasi terdapat mayat. Bahkan, pengalaman tugas Bella telah melalang buana.
Dalam pengalamannya, Bella pernah ditugaskan membantu pencarian korban saat longsor Waduk Situ Gintung di Tangerang Banten, pencarian mahasiswa hilang di gunung Salak di Bogor dan di gunung Agung Bali. Bahkan, anjing berwarna abu-abu ini juga pernah dilibatkan dalam proses pencarian korban Tsunami Pangandaran Jawa Barat.
Tidak hanya Bella yang trauma dengan beratnya medan. Anjing berjenis Dolberman bernama Sergap (3) terpaksa diistirahatkan di posko, karena luka pada bagian kakinya.
Mabes Polri dalam tugas kali ini menerjunkan empat anjing pelacak. Dua sisanya bernama Baron (3 tahun 6 bulan) dan Helena (3). Mereka ditemani masing-masing satu pawang dan satu pendamping. Anjing latih tersebut langsung bekerja sejak kedatangannya, Sabtu (5/9) siang. Dengan indera penciumannya, di hari pertama kedatangannya saja empat anjing tersebut telah berhasil mengendus keberadaan dua jenazah. Dan di hari kedua, berhasil mengendus satu jenazah.
Pada hari ini, tiga anjing pelacak yang masih bisa bekerja telah menemukan tiga titik yang diperkirakan terdapat jenazah. Dan proses penggalian masih terus berlangsung. “Akurasi keberhasilan pengendusan, sekitar 80 persen hasilnya positif ditemukan mayat,” tutur Suyatno.
Pria bertubuh kecil ini juga mengatakan, persediaan makanan untuk keempat anjing itu hanya cukup hingga sore ini. Jika persediaan makanan habis, dimungkinkan para anjing hebat itu hanya makan nasi putih dicampur ikan saja.
Suyatno berharap tambahan makanan akan segera datang. Karena, jika tidak ada kemungkinan keempat anjingnya akan kelaparan dan sakit. “Saya sangat sedih, kalau mereka sakit. Apalagi sekarang yang dua ini terluka dan berdarah begini,” ujarnya dengan suara lirih.
Pimpinan di Mabes Polri sendiri tidak membatasi jadwal tugas pencarian korban. Namun, menurut Suyatno keempat anjingnya siap bekerja hingga hari akhir proses pencarian Badan SAR Nasional bekerja. “Kita tujuan membantu, jadi kita sampai selesai baru bisa pulang,” tuturnya. (Persda Network/cr2)




Comments
Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!